Currently set to Index
Currently set to Follow

Mengenal Ekosistem Avalanche

Avalanche adalah jaringan smart contract lapisan pertama yang punya niat menjadi “pembunuh Ethereum”, alias rival terberat Ethereum sebagai jaringan blockchain yang fokus dalam pemanfaatan fitur smart contract.

Jaringan ini juga bermimpi ingin menjadi platform jasa keuangan berbasis internet yang memfasilitasi aplikasi keuangan terdesentralisasi (Decentralized Finance/DeFi) dan mampu menyokong pasar keuangan tradisional bersenjatakan proses transaksi cepat, yakni 4.500 transaksi per detik, dan finalisasi transaksi hanya di bawah tiga detik saja,

Sistem ini juga memungkinkan penggunanya untuk memodifikasi jaringan blockchain privat dan publik, sehingga pengguna bisa menciptakan aset pintar digital yang bisa disesuaikan dengan regulasi masing-masing negara.

Bagaimana Perbedaan Avalanche dengan Kompetitornya?

Mengenal Ekosistem Avalanche, Pluang

Apa Kelebihan Avalanche?

1. Proses Transaksi Tinggi

Menurut sang pengembang Ava Labs, jaringan ini mampu memproses 4.500 transaksi per detik, lebih tinggi dibanding Bitcoin dan Ethereum.

2. Penyelesaian Transaksi Cepat

Jaringan Avalanche mampu memproses transaksi di bawah tiga detik saja.

3. Memiliki Fungsi Interoperabilitas yang Mumpuni

Sama seperti Polkadot, Avalanche adalah jaringan blockchain yang memiliki “cabang-cabang” blockchqain yang lain. Sehingga, masing-masing blockchain di dalamnya bisa saling berkomunikasi dan mendukung kinerja satu sama lain.

4. Kecocokan Sistem dengan Ethereum

Kelebihan ini memungkinkan pengembang untuk memindahkan aplikasi terdesentralisasi (dApps) yang dikembangkan di Ethereum ke jaringan Avalanche.

5. Kemampuan untuk Membangun Jaringan Blockchain Khusus

Avalanche memungkinkan individu dan organisasi untuk memasang jaringan blockchain-nya sendiri dengan regulasinya masing-masing.

6. Tahan Terhadap Serangan 51%

Jaringan Avalanche memiliki sistem keamanan yang unik, di mana validasi transaksi harus disepakati minimal oleh 80% penggunanya. Nah, ambang batas ini lebih besar ketimbang skema yang berlaku di blockchain lain, khususnya Bitcoin dan Ethereum, yakni sebesar 51%. Sehingga, jaringan Avalanche tahan terhadap serangan 51%.

Kritik

1. Distribusi Token yang Tidak Merata

Sejumlah 80% token aslinya, yakni AVAX, dimiliki oleh tim Avalanche dan digunakan sebagai imbalan staking.

2. Skalabilitas Transaksi yang Belum Terbukti

Jaringan Avalanche terbilang baru dibanding Ethereum. Sehingga, nilai ongkos transaksinya bisa cukup tinggi meski utilisasi jaringan AVAX terbilang rendah.

Adopsi dan Penggunaan Avalanche

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pengguna bisa memanfaatkan jaringan Avalanche untuk membangun aplikasi DeFi dan beragam dApps lainnya. Tapi seberapa besar kepercayaan pengembang untuk membangun DeFi dan dApps di atas jaringan ini?

Nah, Sobat Cuan bisa mengukurnya menggunakan indikator Total Value Locked (TVL), yakni angka yang menunjukkan total token yang tersimpan di dalam sebuah jaringan penyedia smart contract.

Lantas, bagaimana nilai TVL dari jaringan yang meluncur tahun lalu tersebut? Sobat Cuan bisa menyimaknya di tabel berikut!

Mengenal Ekosistem Avalanche, Pluang

Dan berikut adalah platform DeFi dengan nilai TVL terbesar di atas jaringan Avalanche.

Mengenal Ekosistem Avalanche, Pluang

Apa yang Membuat Avalanche Unik?

Sejak awal, Avalanche didesain untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat di jaringan Ethereum. Bahkan, pendiri Ethereum Vitaik Buterin pernah memuji protokol Avalanche lantaran dianggap cukup menarik. “Saya merasa bahwa menyandingkan Avalanche di tingkat legitimasi yang sama dengan Bitcoin adalah sikap yang adil,” ujarnya.

Lantas apa saja sih keunikan Avalanche yang bikin Buterin sampai terpana?

1. Protokol Konsensus Avalanche

Setiap blockchain membutuhkan protokol konsensus untuk memvalidasi transaksi yang berada di dalamnya. Nah, validasi transaksi ini membutuhkan “kesepakatan” alias konsensus dari semua pengguna yang terhubung ke jaringan tersebut untuk menyepakati atau menolak transaksi yang akan dicatat di blockchain tersebut.

Umumnya, kancah teknologi blockchain mengenal dua jenis konsensus: Konsensus Klasik (1980-an) dan Nakamoto (2009). Apakah itu?

Konsensus protokol klasik menggunakan sistem voting yang melibatkan seluruh pengguna di jaringan tersebut demi memastikan bahwa seluruh komputer yang terhubung di dalamnya bisa mencapai kesepakatan bersama.

Sistem ini biasanya memiliki pimpinan yang ditunjuk untuk memimpin jalannya proses pengambilan keputusan. Proses ini kemudian diikuti oleh komunikasi antar pengguna berulang kali hingga mencapai kesepatakan yang diinginkan. Nah, finalisasi transaksi bisa terjadi jika sekian persen tertentu dari jumlah node di dalam jaringan tersebut menyetujui transaksi yang dimaksud.

Namun, kelemahan dari tipe protokol konsensus ini adalah tidak kokohnya jaringan ketika terjadi pertukaran kesepakatan antar node. Selain itu, protokol ini juga bikin skalablitas jaringan kian menyusut lantaran sebagian besar kapasitas jaringan akan dimanfaatkan untuk komunikasi antar pengguna.

Adapun contoh dari konsensus protokol klasik bersama dengan Proof of Stake adalah Practical Byzantine Fault Tolerance (PBFT) dan Cosmos Tendermint.

Sementara itu, konsensus protokol Nakamoto diciptakan oleh pencetus Bitcoin, Satoshi Nakamoto.

Berbeda dengan konsensus protokol klasik, sistem protokol ini tidak membutuhkan proses voting. Namun sebagai gantinya, sistem ini mengharuskan penambang untuk memecahkan teka-teki kriptografi untuk menciptakan blok transaksi baru. Dengan kata lain, konsensus ini tidak membutuhkan komunikasi seluruh pengguna hanya untuk memvalidasi satu transaksi di dalamnya.

Contoh utama dari protokol konsensus ini adalah konsensus Proof of Work di jaringan Bitcoin. Kalau Sobat Cuan tertarik mempelajarinya, yuk klik tautan berikut!

Tapi, selain kedua protokol konsensus tersebut, terdapat pula protokol Avalanche yang dianggap sebagai “gebrakan baru” protokol konsensus blockchain. Sebab, sistem ini menggabungkan fitur kecepatan finalisasi transaksi milik konsensus protokol klasik dengan keandalan dan skalabilitas yang tinggi dari konsensus Nakamoto.

Untuk mengetahui cara kerja sistem konsensus Avalanche, yuk simak penjelasannya melalui analogi berikut!

Coba bayangkan sekelompok orang di dalam satu ruangan yang sedang berembuk menentukan menu makan siang mereka. Kemudian, anggaplah mereka hanya punya dua pilihan menu makan siang, sate padang atau ayam geprek.

Pada saat itu, beberapa orang mungkin lebih memilih sate padang sementara sisanya memilih ayam geprek. Namun, karena mereka tengah lapar, maka mereka mau tak mau harus satu suara dalam memilih satu menu untuk disantap bersama-sama.

Dalam protokol konsensus klasik, mereka akan menunjuk satu orang yang ditugaskan untuk meminta pendapat masing-masing orang yang ada di dalamnya. Sementara itu, setiap orang di sana tentu menunggu giliran untuk ditanya, “Mau makan sate padang? Atau ayam geprek?’.

Namun, dalam konsensus Avalanche, sekelompok orang akan bertugas untuk menanyakan pilihan makan siang ke semua orang secara acak. Jika lebih dari setengahnya mengatakan sate padang, orang tersebut akan berpikir, “Baik, sepertinya kebanyakan orang ingin makan sate padang, sehingga saya pun ikut pilih sate padang.” Ini dapat diartikan bahwa mereka akhirnya mengadopsi pilihan dari mayoritas suara.

Demikian pula, jika mayoritas orang memilih ayam geprek, orang tersebut akan memilih ayam geprek sebagai pilihan finalnya.

Semua orang akan mengulangi proses ini, di mana semakin banyak orang akan memilih preferensi yang sama di setiap putarannya. Hal ini terjadi lantaran jawaban mayoritas biasanya akan bertambah seiring meningkatnya jumlah responden. Setelah aktivitas ini usai, maka mereka akan mencapai konsensus dan memutuskan satu opsi yang disetujui oleh semua orang.

Nah, dari analogi di atas, bisa diketahui bahwa Avalanche memperkenalkan pemungutan suara subsampel (berulang dan acak), dan opini setiap orang di dalam jaringan untuk mencapai konsensus dengan cepat dan terukur.

Apakah Sobat Cuan sudah memahami analogi di atas? Sekarang, yuk kita ganti analogi orang dengan validator dan node, sementara sate padang dan ayam geprek sebagai keputusan mereka dalam menerima dan menolak transaksi.

Mengenal Ekosistem Avalanche, Pluang

Dalam konsensus Avalanche, pada setiap putarannya, setiap validator secara acak memilih node X dari seluruh jaringan untuk meminta pilihan mereka. Adapun seleksi node didasarkan atas jumlah koin yang disimpan masing-masing pengguna di dalam jaringan tersebut.

Kemudian, setiap validator diminta untuk merespons keputusan pilihan mereka. Jika mayoritas tanggapan berbeda dengan node yang bertanya, maka validator akan memperbarui pilihan keputusannya sendiri. Kemudian, ia akan merespons node lain dengan pilihan keputusan yang baru.

Sekadar informasi, setiap validator adalah pembuat keputusan yang independen. Selain itu, tidak ada sosok yang memimpin dalam pemilihan ini layaknya konsensus klasik. Aktivitas ini akan terus berlanjut sampai jaringan mencapai keputusan yang disepakati oleh konsensus.

Saat ini, Avalanche menggunakan dua protokol konsensus yang berbeda, Snowman dan Avalanche. Terdapat pula protokol ketiga yang disebut dengan Frosty, meski kini masih dalam tahap pengembangan.

Snowman memiliki kemampuan untuk menyusun sejarah transaksi dengan rapi, yang sejatinya memang dibutuhkan untuk teknologi smart contract. Sementara itu, Avalanche punya kemampuan untuk mengatur pencatatan transaksi secara runut, namun hanya sebagian saja. Sehingga, pengguna bisa melakukan transaksi secara lebih cepat karena satu chain transaksi tidak perlu harus terkait dengan chain lainnya.

2. Punya 3 Sistem Blockchain: X-Chain, C-Chain, dan P-Chain

Avalanche tidak sama seperti Etherum yang mengadopsi “satu jaringan blockchain untuk semua”. Sebab, Avalanche menggunakan tiga jaringan blockchain yang masing-masing beroperasi dengan protokol konsensus tersendiri dan disesuaikan dengan tujuannya.

Mengenal Ekosistem Avalanche, Pluang

Exchange Chain (X-Chain)

X-Chain bertindak sebagai platform desentralisasi yang membuat dan memperdagangkan aset digital pintar dengan regulasi yang dapat dimodifikasi, misalnya aset digital tersebit tidak dapat diperdagangkan sampai besok atau hanya dapat dikirim ke warga negara Indonesia.

X-Chain memungkinkan siapa pun untuk membuat dan mencetak aset digital pintar seperti stablecoins, utility tokens, NFT’s, wrapped tokens, ekuitas dan token lain di luar aset digital aslinya yakni AVAX.

Platform Chain (P-Chain)

Platform Chain atau P-Chain adalah rantaian metadata pada ekosistem Avalanche yang berfungsi untuk mengkoordinasikan validator, melacak subnet aktif, dan memungkinkan pembuatan subnet baru.

Contract Chain (C-Chain)

C-Chain didekasikan khusus untuk menyalin segala kegiatan yang terdapat di kontrak pintar (smart contract) jaringan lainnya. Nah, jaringan ini cukup kompatibel dengan Ethereum, sehingga aplikasi yang berjalan di atas Ethereum seperti OpenSea dan CryptoPunks bisa dioperasikan di atas Avalanche.

Kedua blockchain Avalanche, P-Chain dan C-Chain, sudah diproteksi dengan konsensus Snowman sehingga bisa menopang skala kegiatan yang besar di atas smart contract. Sementara itu, X-Chain diproteksi dan dioptimalkan dengan konsensus DAG Avalanche, yakni protokol aman dan andal yang mampu memfinalisasi transaksi dalam hitungan detik saja.

Dengan membagi arsitektur Avalanche menjadi 3 blockchain, Avalanche dapat mengoptimalisasi fleksibilitas, kecepatan, dan keamanan transaksi tanpa membebani aspek lainnya di dalam jaringan tersebut. Hal ini menjadikannya platform blockhain yang sangat andal untuk digunakan oleh perusahaan maupun masyarakat umum.

Jadi, kesimpulannya adalah:

  1. X-Chain bertujuan untuk membuat dan menukarkan aset.
  2. P-Chain bertujuan untuk koordinasi dengan validator dan membuat subnet.
  3. C-Chain bertuuan untuk eksekusi kontrak EVM dan smart contracts.

3. Merupakan Blockchain dari Blockchain (Subnet)

Avalanche adalah jaringan blockchain yang terdiri dari banyak blockchain lainnya yang berupa ribuan subnet. Jaringan-jaringan tersebut memiliki fungsi interoperabilitas heterogen, sehingga siapa pun dapat membuat aplikasi blockchain-nya sendiri namun masih mendapat keuntungan dari konsensus Avalanche. 

Nah, sifat tersebut serupa dengan jaringan Polkadot (DOT) dan Cosmos (ATOM), tetapi dengan fitur yang berbeda seperti yang tertera di artikel ini.

4. Fokus pada DeFi (Internet of Finance)

Avalanche dibangun untuk melayani pasar keuangan, baik platform keuangan tredesentralisasi (DeFi) dan maupun jasa keuangan tradisional.

Avalanche bisa memfasilitasi transaksi aset digital dengan mudah melalui kumpulan aturan khusus yang kompleks, sehingga pengelolaan dan perdagangan aset bisa mengikuti regulasi yang sudah ditetapkan. Adapun aset yang bisa ditransaksikan di dalam platform di atas jaringan Avalanche adalah saham, obligasi, instrumen utang, tokenisasi real estat, dan lain-lain.

Perusahaan juga dapat membuat subnet mereka sendiri dengan tujuan untuk menyesuaikan kegiatan mereka dengan regulasi yang berlaku di masing-masing negara.

5. Suplai Token Terbatas

Mengenal Ekosistem Avalanche, Pluang

Salah satu penggerak harga token adalah suplainya yang terbatas. Tidak seperti Ether (ETH) dan token kripto lainnya yang jumlah koinnya terus bertambah dan tak terbatas, token Avalanche AVAX hanya memiliki total suplai sebanyak 720 juta keping saja.

Setengah dari total suplai Avalanche, atau 360 juta token, dicetak saat peluncurannya, sementara sisanya digunakan sebagai hadiah untuk staking. Seperti Bitcoin (BTC), jumlah hadiah yang tersedia akan terus menurun hingga jumlah token yang beredar akan setara dengan jumlah total suplainya.

Selain memang punya suplai yang terbatas, sirkulasi token AVAX juga semakin menipis lantaran Avalanche juga “membakar” token setiap AVAX digunakan sebagai biaya transaksi. Dengan kata lain, token AVAX akan dibakar setiap terjadinya transaksi, membuat atau mencetak aset, pembuatan blockchain, dan subnet. Sehingga, nilai AVAX akan loncat jika jumlah token yang dibakar melebihi jumlah token yang dicetak.

6. Minim Hambatan Untuk Jadi Validator Avalanche

Saat ini, pengguna Avalanche hanya perlu melakukan staking sebanyak 2.000 AVAX untuk menjadi validator transaksi. Maka dari itu, AVAX adalah salah satu blockchain yang memiliki paling banyak validator untuk mengamankan jaringannya.