Currently set to Index
Currently set to Follow

Mengenal Ekosistem Polygon

Salah satu janji aset kripto adalah untuk membuat sistem finansial yang terbuka dan gratis. Fasilitas ini telah disediakan oleh aplikasi terdesentralisasi (dApps) dan kebanyakan platform keuangan terdesentralisasi (DeFi) yang berada di atas jaringan Ethereum.

Namun, para pengembang aplikasi tersebut menghadapi masalah biaya jaringan mahal di Ethereum. Namun, masalah tersebut bisa selesai jika mereka “pindah rumah” ke satu jaringan baru yang disebut Polygon.

Seperti apa karakteristik jaringan tersebut? Yuk, simak bersama!

Apa Itu Polygon?

Jaringan Polygon adalah solusi blockchain lapisan kedua (layer 2) yang dibangun di atas jaringan Ethereum, yang merupakan jaringan blockchain lapis 1.

Jaringan lapis kedua adalah kerangka kerja atau protokol sekunder yang dibangun diatas sistem blockchain utama, atau dikenal sebagai lapis 1. Kehadiran protokol ini bertujuan untuk menjadi solusi atas leletnya kecepatan transaksi dan rendahnya skalabilitas transaksi yang dihadapi jaringan kripto.

Dalam konteks Polygon, jaringan tersebut hadir untuk mengatasi hambatan transaksi di jaringan Ethereum, mulai dari masalah skalabilitas, tata kelola komunitas, hingga kecepatan transaksi. Di samping itu, Polygon juga muncul sebagai solusi atas mahalnya biaya transaksi di jaringan Ethereum yang kini berada di kisaran US$14 hingga US$263 per transaksi.

Polygon mengatasi rentetan masalah tersebut dengan memanfaatkan solusi sidechain baru dan teknologi off-chain. Dengan teknologi off-chain tersebut, pengguna Ethereum dapat melakukan transaksi dan interaksi smart contract di luar jaringan Ethereum. Jika kegiatan tersebut rampung, maka mereka dapat mendokumentasikan kembali seluruh aktivitas yang dimaksud ke blockchain utama Ethereum.

Di samping itu, pengembang dapat memanfaatkan Polygon untuk membuat jaringan interoperable blockchain sesuai atribut yang diinginkan. Tak ketinggalan, pengembang juga dapat menyesuaikan jaringan blockchain dengan berbagai macam modul baru untuk membuat blockchain independen dengan fungsi yang diinginkannya.

Nah, solusi bejibun yang ditawarkan Polygon tersebut dapat mengurangi beban pemrosesan data Ethereum, sehingga waktu dan biaya transaksi di Ethereum jadi lebih efisien. Oleh karenanya, koneksi Polygon jelas menjadi bukti bahwa ia adalah blockchain lapis kedua Ethereum. Bahkan, Polygon sendiri mengklaim dirinya sebagai “internet blockchain Ethereum” lantaran fungsinya yang mumpuni.

Menariknya, Polygon bukan hanya solusi penskalaan dasar seperti pendahulunya, jaringan Matic. Selain itu, Polygon awalnya hanyalah kerangka kerja yang fokus menangani kekurangan jaringan Ethereum.

Jadi, intinya, jaringan Polygon adalah kerangka kerja komprehensif yang dapat dioperasikan dan berfungsi memperbaiki keandalan jaringan blockchain Ethereum.

Cara Kerja Polygon Matic

Dalam menjalankan fungsinya, Polygon membagi proses kerjanya ke dalam empat tahapan (layer), yakni Ethereum layer, Polygon networks layer, execution layer, dan security layer. Seperti apa penjelasannya? Yuk, perhatikan dengan seksama ya, Sobat Cuan!

Proses kerja paling awal disebut sebagai Ethereum layer, yang sekaligus menjadi tahapan paling signifikan di arsitektur Polygon. Pada layer ini, Polygon akan menampilkan kumpulan rancangan smart contracts yang akan “dipasang” di jaringan Ethereum. Smart contracts tersebut adalah motor penggerak atas aktivitas seperti finalisasi transaksi, komunikasi dua arah antara Ethereum dan Polygon, serta staking.

Menariknya, tahapan security layer juga akan berjalan secara paralel dengan proses Ethereum layer. Proses security layer nantinya juga akan ikut meningkatkan keandalan aspek keamanan di jaringan Ethereum.

Setelahnya, Polygon akan memproses data-data dari Ethereum ke dua tahapan lanjutan yang tak kalah penting, yakni Polygon networks layer dan execution layer.

Di dalam Polygon networks layer, komunitas pengguna jaringan Polygon akan melakukan konsensus untuk memvalidasi, atau bahkan bisa memblokir, permintaan transaksi di jaringan tersebut. Jika sudah disepakati, maka transaksi bisa berlanjut ke tahapan execution layer.

Execution layer sendiri adalah proses eksekusi smart contracts menjadi dApps menggunakan Ethereum Virtual Machine (EVM). Polygon memiliki banyak “jaringan sampingan” (sidechain), di mana masing-masingnya memiliki EVM aktif. Nah, keunggulan inilah yang memungkinkan eksekusi smart contract di Polygon lebih cepat dengan biaya yang jauh lebih efiisen dibanding eksekusi di jaringan Ethereum.

Untuk lebih jelasnya, yuk simak perbandingan biaya-biaya jaringan di Polygon dengan Ethereum berikut!

Apa Itu Polygon
Perbandingan biaya transaksi ETH dan MATIC. Sumber: Polygon

Kegunaan Polygon

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, jaringan Polygon berfungsi untuk mendukung skalabilitas penciptaan dApps di jaringan Ethereum. Tapi, selain itu, kenapa pengembang dApps perlu mengembangkan aplikasinya di jaringan Polygon?

Ternyata, proyek-proyek yang dikembangkan di Polygon bisa memiliki kemampuan untuk berkomunikasi satu sama lain plus dengan blockchain Ethereum. Keunggulan tersebut menjadikan Polygon sebagai jaringan potensial yang mampu mengantar masing-masing platform dApps untuk saling bertukar nilai dan punya fungsi interoperabilitas.

Nah, hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan manfaat serta mengakselerasi inovasi dApps ke depan. Oleh karenanya, Polygon diramal bisa menjadi jembatan penghubung antara blockchain-blockchain berbeda di masa depan. Sehingga, seluruh blockchain tersebut dapat saling menyokong satu sama lain di dalam satu ekosistem yang lebih luas.

Pada dasarnya, Polygon ingin mengembangkan sebuah hub yang bisa menghubungkan jaringan blockchain berbeda-beda sembari mengatasi masalah yang mendera masing-masin jaringan tersebut. Bahkan, di masa depan, Polygon tidak menutup kemungkinan untuk digunakan di ekosistem ekonomi yang lebih terbuka, yang memungkinkan pengguna untuk berinteraksi secara lancar.

Apa yang Membuat Polygon Unik?

Polygon telah berevolusi menjadi fondasi teknologi yang menjanjikan dan memungkinkan proyek-proyek di dalamnya punya fungsi interoperabilitas yang andal dengan jaringan blockchain lainnya. Keunggulan ini ibarat menjadi obat bagi “penyakit kronis” Ethereum, yakni perkara skalabilitas.

Namun, selain itu, masih banyak lagi keunggulan Polygon dibanding jaringan lainnya, seperti dijelaskan di tabel berikut!

Apa Itu Polygon
Keunggulan Polygon dibandingkan proyek lainnya. Sumber: Polygon.

Salah satu “nilai jual” Polygon yang bisa menarik minat komunitas kripto adalah kompatibilitasnya dengan EVM. Akibatnya, pengembang yang terbiasa mengembangkan aplikasi di jaringan Ethereum tidak akan kagok ketika beralih menggunakan jaringan Polygon.

Selain itu, Polygon juga menggunakan model keamanan bersama. Hanya saja, masing-masing proyek di dalamnya tidak wajib menambah lapisan keamanan tersebut lantaran fitur ini bersifat pilihan. Namun, skalabilitas mereka juga tak akan terganggu jika mereka memilih meningkatkan kualitas keamanannya.

Di samping itu, pengembang juga bisa memanfaatkan Polygon untuk mengembangkan platform bersifat fleksibel dan menggabungkan segala jenis solusi yang ada. Salah satu proyek terkenal yang menggunakan teknologi Polygon adalah Aavegotchi, sebuah game DeFi yang mengolaborasikan Non-Fungible Tokens (NFTs) dengan platform pinjam-meminjam terdesentralisasi EasyFi.

Nah, beberapa keunikan tersebut menjadikan Polygon sebagai alternatif terbaik dalam urusan pengembangan dApps ketimbang teman sepantarannya, Cosmos.

Sekadar informasi, Cosmos memanfaatkan teknologi WASM-based virtual machine dalam memproses smart contract menjadi dAppss. Namun, teknologi itu dinilai tidak punya level keamanan yang andal seperti Polygon dan dikenal agak ribet untuk dioperasikan.

Bagaimana Polygon Menentukan Masa Depan Ethereum?

Komunitas kripto kerap berdebat soal kemungkinan jaringan Polygon untuk menyalip popularitas Ethereum. Padahal, Polygon justru berfungsi sebagai penyanggan Ethereum.

Sobat Cuan mungkin sudah paham bahwa jaringan Ethereum telah berkembang pesat sebagai platform penciptaan aplikasi terdesentralisasi. Melalui berbagai aplikasi tersebut, pengguna bisa berhubungan dengan dunia virtual, membeli karya seni digital, atau melakukan transaksi pinjam meminjam.

Namun, meningkatnya aktivitas tersebut akan membuat proses transaksi di atas jaringan Ethereum gampang mandek. Sehingga, biaya transaksi di Ethereum pun semakin mahal. Untungnya, terdapat jaringan Polygon yang mampu menyelesaikan masalah tersebut. Ia menawarkan solusi atas ketidakandalan skalabilitas Ethereum dengan memanfaatkan teknologi yang dapat mempercepat, mengurangi kompleksitas, dan menurunkan biaya transaksi di jaringan Ethereum.

Intinya, kehadiran Polygon tidak perlu memaksa Ethereum untuk memodifikasi jaringannya. Sesuai dengan namanya, Polygon menawarkan kerangka kerja yang lebih sederhana, namun fleksibel untuk pengembangan jaringan Ethereum. Sehingga, Polygon dapat mendukung Ethereum untuk mengekspansi jaringannya dengan ukuran, efisiensi, kegunaan, dan keamanan yang lebih baik. 

Perkembangan Terakhir Polygon

Mengenal Ekosistem Polygon, Pluang
Perkembangan terbaru Polygon. Sumber: Polygon

Baru-baru ini, Polygon mengumumkan akan berkolaborasi dengan Seven Seven Six, sebuah perusahaan modal ventura besutan salah satu pendiri Reddit Alexis Ohanian, untuk berinvestasi sebesar US$200 juta di proyek yang menggabungkan kecanggihan teknologi Web3 dengan media sosial.

Investasi tersebut akan menambah panjang daftar portofolio pendanaan Ohanian. Sebelumnya, Ohanian juga menjadi investor awal Coinbase, Patreon dan juga OpenDoor.

Perusahaan yang dimilikinya, Seven Seven Six, juga memiliki kepemilikan di Sky Mavis, pengembang platform gim Axie Infinity, dan beberapa perusahaan teknologi terkemuka lainnya.