Currently set to Index
Currently set to Follow

Indeks Saham AS Kian Mumpuni Seiring Optimisme Pertumbuhan Ekonomi

Bagi Wall Street, awal bulan April menjadi periode yang berisi hujan imbal hasil. Pasalnya, indeks saham S&P 500 menembus level 4.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah. Sebuah gebrakan yang tidak terbaca dalam analisis saham Amerika Serikat pada pekan sebelumnya.

Kenaikan tersebut kian kencang dan menembus level 4.019 pada akhir pekan lalu. Peristiwa tersebut menandakan bahwa indeks berisi 500 saham perusahaan AS paling bonafit itu hanya membutuhkan 434 hari saja untuk beranjak dari level 3.000 ke 4.000.

Menurut Data Pasar Dow Jones, hingga saat ini, jangka waktu tersebut merupakan yang terpendek untuk pergerakan sebanyak 1.000 poin dalam sejarah pasar saham AS. Tak hanya itu, kini nilai S&P 500 berada 81% di atas posisi terendah yang dicapai selama aksi jual besar-besaran yang disebabkan pandemi COVID-19 Maret tahun lalu.

Salah satu angin segar yang mendorong indeks S&P 500 adalah penguatan saham-saham teknologi. Hal tersebut terjadi setelah presiden AS Joe Biden mengumumkan belanja infrastruktur jumbo senilai lebih dari US$2 triliun pada Rabu (31/3) pekan lalu, yang diantaranya juga fokus untuk menginstalasi energi hijau di negara tersebut.

Tak hanya itu, penguatan indeks saham AS juga berasal dari selera investor yang kemarin kembali beralih menggenggam aset berisiko, seperti saham, setelah imbal hasil obligasi AS terjun. Memang, imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun sempat menyentuh 1,77% pada Rabu (31/3), meski memang ia kembali melandai menuju akhir pekan.

Pasar ditutup pada hari Jumat untuk memperingati Jumat Agung. Minggu lalu, Nasdaq adalah pemenang besar, naik sebanyak 2,6%, disusul oleh S&P 500 dan Dow Jones yang masing-masing naik sebesar 1,1% dan 0,2%.

Indeks Saham AS Kian Mumpuni Seiring Optimisme Pertumbuhan Ekonomi, Pluang

Analisis Saham Amerika Serikat: Antisipasi Kenaikan Suku Bunga AS

Optimisme ekonomi adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh investor. Namun, investor juga perlu waspada. Sebab, optimisme itu biasanya diwarnai dengan respons bank sentral ketika optimisme ekonomi meningkat. Yakni, dengan menaikkan suku bunga acuan AS.

Bank sentral AS The Fed telah memompa sejumlah besar uang ke dalam ekonominya selama pandemi. Tetapi, setelah sinyal-sinyal pemulihan sudah terasa, investor malah khawatir bahwa hal tersebut bisa menyebabkan inflasi. Makanya, meski pun investor senang, namun mereka juga takut kalau bank sentral akan meresponsnya dengan menaikkan suku bunga secara prematur demi menjaga inflasi tetap terkendali.

Mengapa hal ini penting untuk dipantau? Valuasi pasar saham secara absolut memang menggiurkan, tetapi tidak demikian ketika investor membandingkannya dengan tingkat suku bunga terendah.

Di kemudian hari, suku bunga yang lebih tinggi akan membuat investor merasa aman menggenggam investasi seperti uang tunai dan obligasi pemerintah. Akhirnya, saham, sebagai aset yang lebih berisiko, akan terlihat lebih mahal.

Adapun motif antisipasi kenaikan suku bunga acuan telah mendorong beberapa investor untuk menjual saham pada kuartal lalu. Ini akan menjadi sebuah tren yang akan terus berlanjut sepanjang tahun.

Bank sentral di seluruh dunia juga mengikuti petunjuk dari The Fed, sehingga penting bagi investor untuk mengawasi rencana mereka.

Misalnya, ketika The Fed mengatakan pada bulan Maret bahwa mereka tidak mengharapkan untuk mengubah kebijakan suku bunga, Bank Sentral Eropa dan Bank of England dengan cepat meyakinkan investor bahwa mereka berkomitmen untuk juga menurunkan suku bunga di masa mendatang.

Sebagai seorang investor, tentunya ada strategi untuk melindungi portofolio dari kenaikan suku bunga. Oleh karena itu, diversifikasi portfolio juga diperlukan.

Ada penyesuaian yang dapat dilakukan untuk menyiapkan kenaikan suku bunga, kapan pun itu terjadi. Pertama, berinvestasi pada saham siklus dan saham value seperti pada sektor industrial dan bank. Sebab, sektor ini mendapatkan keuntungan dari ekonomi yang membaik dan kenaikan suku bunga. Kedua, investor dapat membeli komoditas seperti emas atau tembaga, karena harganya cenderung naik seiring dengan inflasi.

Analisis Saham Amerika Serikat: Apa yang Dinanti Investor Minggu Ini

Reli Wall Street minggu lalu mungkin dapat berlanjut. Departemen Tenaga Kerja melaporkan pada hari Jumat (2/4) bahwa ekonomi AS menambahkan 916.000 pekerjaan pada bulan Maret, terbesar dalam tujuh bulan. Sementara itu, pertumbuhan pekerjaan pada bulan Februari juga lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

Pasar juga akan menanti pertemuan dari International Monetary Fund (IMF). IMF akan memulai pertemuan musim semi (secara virtual) pada Senin (5/4). Di pertemuan ini, para pembuat kebijakan akan memberikan gambaran tentang dampak ekonomi dari pandemi dani juga merilis perkiraan terbaru untuk pertumbuhan tahun 2021 dan 2022.

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, telah mengindikasikan bahwa prediksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini akan naik jika dibandingkan outlook Januari sebesar 5,5%.

Selain dari prospek ekonomi yang diperbarui, para menteri keuangan G20 akan bertemu pada hari Rabu untuk membahas inisiatif keringanan utang. Investor juga akan menyaksikan penampilan Ketua Fed Jerome Powell yang akan membahas ekonomi global pada panel IMF di hari Kamis (8/4).

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Artikel Terbaru