Currently set to Index
Currently set to Follow

Anak Bilingual Belajar Lebih Cepat, Saatnya Ajari Mereka ‘Bahasa Jaksel’?

Belajar bahasa sejak dini terbukti sangat membantu meningkatkan kepekaan seseorang akan lingkungan sekitarnya. Orang dewasa yang sejak kecil tumbuh dengan berbicara dwibahasa, atau biasa disebut bilingual, dapat lebih cepat menggarap berbagai pekerjaan berbeda dalam satu waktu dibandingkan mereka yang baru mempelajarinya di kemudian hari.

Menurut studi terbaru, ini adalah salah satu dari banyak manfaat kognitif menjadi seseorang yang bilingual. Penelitian menunjukkan kognisi anak-anak bilingual terus-menerus beralih di antara dua bahasa di otak mereka.

Fleksibilitas kognisi ini membantu mereka beralih antara berpikir tentang konsep berbeda atau beberapa konsep sekaligus. Ini juga termasuk membantu mereka untuk menentukan prioritas perhatian, sehingga mereka dapat dengan baik mengatur proses mental agar dapat fokus pada satu tugas atau objek pada satu waktu.

Penelitian lain menunjukkan bahwa anak-anak yang belajar bahasa sejak dini dan menjadi dwibahasa dapat menyelesaikan teka-teki mental lebih cepat dan lebih efisien daripada mereka yang hanya berbicara satu bahasa. Alasannya? Berbicara dua bahasa membutuhkan “fungsi eksekutif”.

Fungsi eksekutif ini mendorong kinerja keterampilan kognitif tingkat tinggi. Di antaranya seperti melakukan perencanaan, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan pengorganisasian. Pada dasarnya, tugas-tugas kebahasaan ini membantu untuk melatih otak.

Baca juga: Berbagai Manfaat Mempelajari Bahasa Asing

Anak Bilingual Belajar Lebih Cepat, Saatnya Ajari Mereka ‘Bahasa Jaksel’?, Pluang

Pentingnya Belajar Bahasa Kedua Sejak Dini, Bahkan Sejak Bayi

Dalam studi baru, orang dewasa yang berbicara dwibahasa berpartisipasi dalam eksperimen, di mana mereka menonton gambar di layar secara bertahap dan mencatat perubahan yang terjadi. Dari penelitian tersebut, responden yang mulai berbicara bahasa kedua saat masih bayi dapat melihat perubahan lebih cepat dibandingkan mereka yang baru belajar bahasa kedua di kemudian hari.

Anak-anak dwibahasa “memanfaatkan berbagai sumber informasi” ketika dibesarkan di lingkungan bahasa yang kompleks. Di antaranya informasi visual, seperti gerakan mulut, ekspresi wajah, hingga gestur halus. Demikian diungkapkan dosen Psikologi Universitas Anglia Ruskin Dean D’Souza saat menyampaikan hasil penelitiannya dalam rilisnya.

“Bayi dari rumah dwibahasa beradaptasi dengan lingkungan bahasa mereka yang lebih kompleks. Yakni dengan mengambil sampel lebih banyak dari lingkungan visual mereka dan menempatkan lebih banyak bobot informasi baru,” tulis D’Souza.

Ketika anak-anak belajar bahasa kedua di usia muda (kisaran 0 hingga 3 tahun), otak mereka bersifat lebih fleksibel, dan ini membuat mereka lebih mudah menerima informasi.

Bahkan, manfaat mental dari memulai belajar bahasa baru sejak dini juga tampak bertahan saat anak-anak tumbuh menjadi dewasa.

Bahasa Jaksel Bisa Bantu Kepekaan Berbahasa Anak Sejak Dini?

Jika kamu adalah seorang monolingual, dan berharap untuk mengajari anak-anakmu bahasa lain, ada cara untuk memperkenalkannya di lingkungan rumah. Misalnya, ajak sang anak menyanyi dan mendengarkan musik dalam bahasa lain, menonton acara TV pendidikan belajar bahasa.

Ataupun, menurut rekomendasi American Speech-Language-Hearing Association, kamu bisa ajak anak mengikuti kelas bahasa untuk memperkenalkan anak-anak ke bahasa lain.

Tapi, lingkungan ternyata memiliki pengaruh sangat krusial terhadap kepekaan berbahasa seseorang.

Menurut jurnal yang diterbitkan International Journal of Information and Technology di tahun 2018, lingkungan fisik menjadi salah satu faktor pendorong anak dalam mengakuisisi kecakapan bahasa kedua selain bahasa ibu.

Di samping itu, buku yang ditulis oleh Stephen D. Karsen dari University of Southern California pada 1981 mengatakan bahwa frekuensi interaksi anak dengan lingkungan di luar sekolah sangat penting dalam mendukung kecakapan anak belajar bahasa asing.

Dari segi belajar bahasa Inggris, mereka yang tinggal di Jakarta mungkin cukup beruntung karena bisa merasakan langsung pergaulan yang menggunakan sistem komunikasi campur aduk dua bahasa (code mixing). Ini lantaran mereka sudah familiar dengan istilah “bahasa Jaksel”, yakni praktik verbal bahasa Indonesia dengan menggabungkan beberapa kosa kata bahasa Inggris.

Praktik ini lumrah ditemui di kawasan Jakarta Selatan (Jaksel), sebuah daerah yang dikenal sebagai “gudang” masyarakat Jakarta berpendapatan menengah ke atas. Terkadang, bahasa Jaksel yang terkenal dengan frasa “which is literally” dan “like actually” ini kerap dapat cemoohan, guyonan, bahkan “nyinyiran” dari publik.

Namun, praktisi pendidikan bahasa asing Dennis Perez berpendapat, praktik bahasa Jaksel dan code mixing secara umum akan berdampak positif bagi kecakapan seseorang dalam mempraktikan bahasa Inggris.

Bahkan, praktik tersebut dianggapnya bisa meningkatkan keberanian seseorang untuk berbicara bahasa asing. Sebab, sebagian orang Indonesia disebutnya masih takut berbicara bahasa asing lantaran takut salah tata bahasa atau memiliki kosa kata yang terbatas.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNBC, IJIET, E-book SD Krashen, CNN Indonesia

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img