Currently set to Index
Currently set to Follow

Ragam Cara Donasi yang Baik di Saat Pandemi

Kegiatan amal dan donor menghadapi masa sulit. Banyak lembaga amal yang memutar otak dalam mencari cara agar donasi bisa tetap aman di tengah pandemi COVID-19,

Jika kita bertanya kepada para staf organisasi amal di hari-hari ini, mereka akan bilang bahwa mereka belum pernah menyaksikan masa-masa sulit seperti tahun lalu. Jutaan orang kehilangan pekerjaan atau menghadapi kemiskinan, sementara orang lain harus terisolasi secara sosial dan susah untuk beramal.

Kenneth Hodder, komandan nasional Salvation Army, menggambarkan momen berat ini sebagai “tsunami kebutuhan manusia”. Banyak orang yang membutuhkan bantuan, namun banyak badan amal yang operasi normalnya terganggu lantaran pandemi.

Sementara itu, mereka yang menyediakan layanan langsung, seperti bank makanan dan tempat penampungan tunawisma, juga bergantung pada sukarelawan. Ini menciptakan ketimpangan antara jumlah donasi yang masuk dengan kebutuhan yang perlu disalurkan.

Namun, bukan berarti menggalang donasi di masa sulit ini adalah hal yang tidak mungkin dilakukan.

Baca juga: Sobat Ambyar Sumbang Rp4 M di Konser Amal Didi Kempot untuk Covid-19

Menengok cara-cara donasi yang diterapkan di Amerika Serikat

Di AS, banyak badan amal yang menyediakan bantuan umum seperti kebutuhan dasar dan makanan. Namun, terdapat pula skema donasi lain yang tak melulu fokus di pemenuhan kebutuhan tersebut.

Soldier’s Angel, contohnya. Organisasi nirlaba yang bekerja dengan militer dan veteran ini kerap menggelar acara baby shower secara virtual untuk pasangan anggota dinas mereka. Terutama mereka yang ditugaskan sebagai bagian dari program “Baby Brigade”.

Beberapa perpustakaan umum di negara itu juga mengadakan penelitian dan percakapan internasional bagi publik lewat Twitter.

“Lembaga nonprofit tidak hanya melakukan pekerjaan luar biasa, namun mereka juga telah berinovasi,” kata kepala solusi Volunteer Match Laura Plato.

Bagi mereka yang ingin berkontribusi sosial selama pandemi, berikut adalah contoh inovasi dalam berdonasi yang sudah dilakukan beberapa badan amal di negeri Paman Sam tersebut.

Baca juga: Tetap Bugar Kala Pandemi, Ini 3 Cara Simpel untuk Olahraga #dirumahaja

Banner Blog Pluang

 

1. Donasi dengan QR Code, bukan uang tunai

Kampanye Salvation Army, yang berlangsung dari Black Friday hingga Malam Natal berhasil mengumpulkan US$126 juta hanya dengan meminta donatur memindai kode QR yang mereka sediakan. Dana tersebut digunakan badan amal itu untuk membantu mereka yang tak bisa merayakan Natal.

“Jika kami tidak berhasil menjangkau publik saat Natal, artinya kemampuan kami untuk membantu orang lain sedang terancam,” ujar Hodder.

2. Mencari donasi secara virtual

Beth Amodio, presiden dan kepala eksekutif One Warm Coat, mengatakan, organisasi nirlabanya kerap menyelenggarakan “coat drives” untuk mengumpulkan mantel sumbangan.

Pada tahun-tahun biasanya, mereka adalah penyumbang mantel yang digunakan oleh kaum-kaum berpenghasilan rendah untuk bekerja. Namun, karyawan pada umumnya tidak berangkat ke kantor. Sekolah, mitra kunci mereka lainnya, juga tidak beroperasi.

Karena itu, One Warm Coat membuat program untuk menjadi tuan rumah dari virtual coat drive. Peserta yang membuka situs organisasi mendapatkan tautan ke halaman virtual coat drive. Relawan di Atlanta dikabarkan berhasil mengumpulkan lebih dari 400 mantel. Cara donasi secara virtual menurutnya memang lebih menjamin pada saat krisis ini.

3. Memberi makan mereka yang lapar

AS kini tengah berada di dalam kerawanan pangan yang cukup parah sejak depresi besar dekade 1930an silam.

Untuk itu, banyak badan amal yang mendirikan dapur umum dengan jumlah yang melonjak drastis. City Harvest, adalah salah satunya. Sejak Maret tahun lalu, lembaga ini telah mendistribusikan 3,4 juta kilogram (kg) makanan terhadap 80.000 keluarga tidak mampu di New York.

Hal serupa juga dilakukan oleh lembaga Feeding America, yang saat ini memiliki 200 dapur umum di seantero AS.

4. Menjadi sukarelawan jika memungkinkan

Lembaga pemberi hibah terbesar di AS Fidelity Charitable baru-baru ini meluncurkan riset bahwa dua dari tiga sukarelawan sudah berhenti menyumbang saat pandemi. Sementara itu, survei lain VolunteerMatch menemukan bahwa lebih banyak orang memandang pandemi sebagai penghalang untuk menjadi sukarelawan.

Salah satu alasan terjadinya fenomena itu adalah karena kebanyakan sukarelawan merupakan orang tua. Padahal, mereka adalah golongan populasi yang paling berisiko terdampak COVID-19. Untuk itu, ada baiknya masyarakat meringankan beban mereka untuk menjadi sukarelawan.

Semoga cara donasi di masa pandemi dari negara Paman Sam ini memberi ilham untuk kita melakukan kebaikan yang sama di dalam negeri.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: New York Times

Simak juga:

9 Rekomendasi Buku Keuangan Terbaik Ini Dijamin Bikin Kamu ‘Melek’ Finansial

Nadiem Makarim sebagai Menteri Termuda dengan Ide Segar, Ini 5 Menteri Muda Lain dari Seluruh Dunia

Investasi di Perfilman Indonesia dengan Patungan Rp10.000 Aja, Mau?

Bantu Atasi Defisit Anggaran, Iuran BPJS Alami Kenaikan 100%

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img