Achmad Zaky Mundur, Percayakan Bukalapak Kepada Penerusnya Rachmat Kaimuddin

CEO Bukalapak Achmad Zaky akan efektif digantikan oleh Rachmat Kaimuddin pada 6 Januari 2020. Achmad Zaky Bukalapak, begitu orang-orang mengenalnya, adalah pendiri perusahaan ini dan ia akan mundur per awal 2020.

Nantinya, ia akan menempati posisi sebagai penasihat Bukalapak, Tech Startup Mentor dan menjadi pemimpin Yayasan Achmad Zaky.

Kini, dengan status unicorn, Bukalapak termasuk salah satu bisnis e-commerce terbesar di Indonesia. Pada 2011, Achmad Zaky mendirikan PT Bukalapak dengan Nugroho Herucahyono dan Fajrin Rasyid.

achmad zaky bukalapak

Achmad Zaky Bukalapak sebagai salah satu pendiri dan CEO Bukalapak punya peran strategis dalam mencapai tujuan sederhana perusahaan ini. Yakni, agar memungkinkan setiap orang dapat menjual barang-barang mereka secara digital tanpa modal besar dan memudahkan transaksi.

Kemajuan besar pertama Bukalapak adalah ketika sepeda lipat jadi tren penjualan pada 2010. Ketika itu, banyak komunitas menjual berbagai jenis sepeda dan aksesorisnya dengan harga terjangkau.

Tren penjualan sepeda lipat ini berperan penting dalam meningkatkan pengguna awal situs e-commerce Bukalapak.

Baca juga: Bernard Arnault Saingi Bill Gates, Kini Jadi Orang Terkaya Kedua di Dunia

Achmad Zaky Bukalapak bawa kemajuan ke e-commerce ini dalam satu dekade

Bermula sebagai marketplace daring, Bukalapak ditujukan untuk memungkinkan para pelaku UMKMK untuk memperdagangkan barangnya secara daring. Ide web ini merujuk dari istilah yang sudah umum di kalangan pedagang, “lapak”.

Perusahaan Bukalapak lantas memperluas jangkauan hingga mencarikan solusi online-to-offline dengan memberdayakan toko kelontong dan warung sebagai mitra.

Kurang dari setahun setelah didirikan, Bukalapak menerima modal tambahan dari Batavia Incubator, perusahaan gabungan dari Rebright Partners yang dipimpin oleh Takeshi Ebihara dari Inkubator Jepang dan Corfina Group.

Pada 2012, Bukalapak kembali menerima investasi tambahan dari GREE Ventures yang dipimpin oleh Kuan Hsu.

Selang dua tahun, pada Maret 2014, perusahaan ini mengumumkan kembali terima investasi dari Aucfan, IREP, 500 Startups, dan GREE Ventures.

Laporan keuangan Emtek 2015 (yang memiliki 49% saham Bukalapak) menjelaskan bahwa Bukalapak memperoleh dana investasi dari Emtek dengan total hingga Rp439 M. Namun, pada 2015, Bukalapak masih merugi hingga Rp229 M dengan pendapatan Rp6,4 M.

Awal tahun ini, pada Januari 2019, Bukalapak mengumumkan putaran pendanaan undisclosed oleh Mirae Asset-Naver Asia Growth Fund, perusahaan patungan antara Mirae Financial Group berbasis di Seoul dan Naver, perusahaan di belakang layanan pesan LINE.

Baca juga: Siap Saingi Linkedin, Google Kormo Sediakan Fitur Lowongan Kerja

CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin gantikan Achmad Zaky

Perubahan pada Januari 2020 nanti akan mengubah komposisi C-Suite Bukalapak. Para petinggi perusahaan ini akan terdiri dari Rachmat Kaimuddin selaku CEO Bukalapak, Fajrin Rasyid selaku presiden dan co-founder, serta Nugroho Herucahyono sebagai Chief Technology Officer (CTO).

Selanjutnya, Willix Halim sebagai Chief Operating Officer (COO), Natalia Firmansyah sebagai Chief Financial Officer (CFO), dan Teddy Oetomo selaku Chief Strategy Officer (CSO).

Muhammad Rachmat Kaimuddin tidak asing lagi dikenal di kalangan tinggi manajemen perusahaan di Indonesia.

Latar belakangnya di bidang pendidikan engineering dan ia banyak pengalaman di jurusan manajemen finansial. Gelar Bachelor of Science diperolehnya dari Massachusetts Institute of Technology, Boston dan gelar Master of Business Administration dari Stanford University, California.

Sebelum bergabung di Bukalapak, ia adalah Direktur Keuangan dan Perencanaan PT Bank Bukopin Tbk sejak 2018. Sejak 2014, ia telah menjabat sebagai anggota Dewan Komisaris untuk bank yang sama.

Ia memulai karier sebagai Senior Associate di Boston Consulting Group dan sebelumnya pernah menjabat sebagai Managing Director PT Cardig Air Services, CFO PT Bosowa Corporindo, Managing Director PT Semen Bosowa Maros, Vice President Baring Private Equity Asia dan Principal of Quvat.

Baca juga: Tahun 2020, Tenaga Kerja dan Gaji Karyawan Startup Diprediksi Melonjak

Di bawah kepemimpinan baru ini, Bukalapak diniatkan berfokus pada isu-isu yang lebih menyasar talenta, modal, dan manajemen keuangan. Ini ditujukan demi penguatan peran Bukalapak dalam mendukung perkembangan UMKMK di Indonesia.

Saat ini, Bukalapak sudah berhasil gaet hingga lima juta UMKMK di seluruh Indonesia, termasuk 2,5 juta toko kelontong dan agen individual.

Tentu, di bawah kepemimpinan baru ini, startup berstatus unicorn ini perlu mempertajam fokus pada strategi jangka panjang mereka agar dapat tumbuh berkelanjutan.

Yuk, kita tunggu saja dobrakan dari para C-level baru Bukalapak ini.

Sumber: The Jakarta Post, E27, Labana, Kompas, Katadata, CNBC Indonesia

Simak juga:

Naik Hanya 8,51%, Ini Alasan Serikat Buruh Tolak Kenaikan Upah Buruh yang Kecil

Di Tengah Perang Dingin Teknologi AS-Tiongkok, 5G Huawei Optimis Akan Meledak di Pasar

Perbankan Terimpit Persaingan Fintech, OJK Dukung Merger Bank di Indonesia

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img