Banyak yang Panik Belanja Lantaran Wabah Corona, Ini Penyebabnya

Panic buying tengah melanda berbagai negara dengan warga yang terindikasi Covid-19. Tak terkecuali warga Indonesia dalam mengatasi persoalan coronavirus Indonesia.

Begitu Presiden Joko Widodo umumkan kasus positif coronavirus Indonesia pertama, masyarakat pun berbondong-bondong mengamankan berbagai kebutuhan.

Usai pengumuman itu, masyarakat menjadi panik. Sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta seketika dipenuhi orang-orang yang memborong makanan lantaran khawatir wabah ini berdampak buruk hingga menyebabkan isolasi kota.

coronavirus indonesia

Selain kasus coronavirus Indonesia, beberapa pemerintah negara seperti Amerika, China, Hong Kong, Australia, Singapura pun menghadapi warganya yang kalap melakukan panic buying.

Corporate Communication General Manager PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) Nur Rachman mengimbau konsumen untuk berbelanja kebutuhan seperti biasa tanpa melakukan panic buying.

“Tidak perlu belanja berlebihan agar kebutuhan semua masyarakat bisa terpenuhi dengan baik,” ujarnya. Sejalan dengan imbauan ini, tampaknya akasi panic buying lantaran coronavirus Indonesia juga tidak berlangsung lama.

Akan tetapi, apa yang kiranya menyebabkan perilaku panic buying ini dalam mengatasi wabah coronavirus Indonesia ini?

Baca juga: Jokowi Konfirmasi 2 Kasus Corona, Investasi Emas Sentuh Rekor

Penyebab panic buying alias “panik belanja” di tengah hadapi coronavirus Indonesia

panic buying

Sejauh ini, panic buying tidak lagi menjadi isu utama dalam menghadapi wabah. Juru bicara pemerintah untuk penanggulangan Covid-19 Achmad Yurianto telah nyatakan dua pasien yang positif mengidap Covid-19, pasien 06 dan pasien 14, dinyatakan sembuh.

“Kami sekarang mengedukasi mereka untuk persiapan pulang, dengan melaksanakan self isolated (swaisolasi),” kata Yurianto di Kantor Presiden, Jakarta.

Swaisolasi daam hadapi coronavirus Indonesia ini menganjurkan kedua pasien untuk mengisolasi diri dari lingkungan dan keluarga.

Isolasi mengandaikan mereka tetap menggunakan masker, menghindari kontak dekat dengan keluarga, tidak menggunakan alat makan dan minum bersama, dan mengurangi aktivitas di luar rumah.

Tampaknya, isolasi semacam ini pula yang dibayangkan oleh masyarakat ketika melakukan panik belanja ini dalam hadapi pengumuman Jokowi soal coronavirus Indonesia.

Psikolog memandang panic buying sebagai kontrol dari kebutuhan dasar manusia. Epidemi dipandang sebagai situasi kehilangan kontrol. Apalagi jika pembuat kebijakan tidak dapat menemukan cara untuk memulihkan warga dari situasi ini.

Siklus panik belanja, menimbun, dan kelangkaan pun akan meningkat.

“Orang benar-benar tidak dilengkapi secara psikologis untuk memproses hal semacam ini,” ujar Andrew Stephen, profesor pemasaran University of Oxford’s Saïd Business School.

Hal ini cenderung membuat kondisi memburuk bagi banyak orang dalam menghadapi ketidakpastian akan coronavirus Indonesia. Mereka melakukan panic buying demi mendapatkan kembali kendali.

Baca juga: IHSG Anjlok 4,04% di Level 5.311, Perlukah BEI Terapkan Protokol Krisis?

Panic buying adalah cara masyarakat dalam “merebut kontrol”

coronavirus indonesia Keyword: panic buying

Pembelanjaan panik ini mengancam kerusakan nyata. US Surgeon General meminta warga Amerika berhenti membeli masker dengan tujuan untuk memastikan bahwa petugas kesehatan memiliki stok.

EBay Inc mencekal daftar baru untuk produk kesehatan setelah adanya pemalsuan harga. Bagaimana tidak, harga sanitiser tangan yang biasanya dibanderol USD 10 tiba-tiba melonjak menjadi USD 400.

Sementara itu, pemerintah Jepang akan mengumumkan hukuman bagi orang yang menimbun dan menjual kembali masker yang ditimbunnya.

Orang yang melakukan panic buying saat hadapi wabah coronavirus Indonesia ini pun tampaknya cenderung tidak tahu mengapa mereka membeli barang-barang yang ditimbunnya.

Begitu pemerintah Singapura umumkan wabah di negaranya, kertas toilet di toilet-toilet umum menghilang. “Bahkan orang-orang yang antre di barisan supermarket untuk beli kertas toilet tidak tahu mengapa mereka membeli kertas toilet,” ujar Andy Yap, profesor perilaku organisasi di sekolah bisnis INSEAD Singapura.

Menurut Yap, mereka hanya melihat orang lain melakukannya dan mulai melakukannya juga karena takut akan kalah.

Karena itu, ia berpendapat bahwa dalam mengatasi kepanikan wabah, termasuk juga coronavirus Indonesia, adalah dengan meyakinkan orang-orang bahwa ada cukup ketersediaan barang untuk semua orang.

Yang lebih penting lagi, adalah memastikan dan membuat orang percaya bahwa situasi secara umum terkendali. Ini terbukti begitu Perdana Menteri Lee Hsien Loon rilis pesan video yang menguraikan langkah atasi penyebaran virus. “Ini adalah informasi yang memberi kontrol lagi,” ujar Yap.

Jadi, apakah pemerintah Indonesia sudah cukup informatif dalam mengabarkan situasi coronavirus Indonesia demi “memberi kontrol” lagi kepada masyarakat? Mari kita kawal persoalan ini bersama.

Sumber: Kontan, Tempo

Simak juga:

Psst.. Ini 5 Rahasia Sukses Warren Buffett, Tokoh Investasi Paling Sukses di Dunia

Laundromat, Film Netflix yang Bongkar Pengaruh Panama Papers pada Hidup Orang Kaya

Mencoba Peruntungan di 7 Negara dengan Gaji Tertinggi di Dunia, Minat?

Ada Nggak Sih Pajak Penjualan Emas Batangan dan Bagaimana Perhitungannya?

Berpenghasilan Lebih Besar dari Laki-laki, Ini Caranya Jadi Wanita Karier Sukses!

Recent Articles

apa itu market share

Apa Itu Market Share?

faang stocks adalah

Apa Itu FAANG Stocks?

definisi regresi

Apa Itu Regresi?

wall street adalah

Apa Itu Wall Street?

volatilitas adalah

Apa Itu Volatilitas?

Related Stories