2 WNI Positif Covid-19, Harga Masker dan Hand Sanitizer Meroket

Presiden Jokowi umumkan dua WNI terkonfirmasi positif Covid-19 pada Selasa (2/3). Warga yang khawatir akan dampak coronavirus berbondong-bondong memborong masker, hand sanitizer, dan bahan pangan demi antisipasi coronavirus.

Beberapa apotek dan toko obat di Jakarta kehabisan stok masker dan hand sanitizer lantaran warga yang panik memborong persediaan.

dampak coronavirus

Sebagai dampak coronavirus, harga persediaan kebutuhan dasar untuk antisipasi coronavirus seperti masker dan cairan disinfektan naik berkali-kali lipat.

Untuk antisipasi coronavirus, orang dengan suhu tubuh tinggi atau dalam keadaan demam juga dilarang menggunakan fasilitas MRT Jakarta. Langkah ini ditujukan sebagai tindakan preventif begitu dua WNI berdomisili di Depok, Jawa Barat dinyatakan positif Covid-19.

Selain melarang orang demam menggunakan transportasi umum, pihak otoritas juga menyediakan hand sanitizer di titik-titik ramai penumpang pada 13 stasiun MRT.

“Meningkatkan pembersihan secara intensif dan berkala pada stasiun dan kereta MRT Jakarta dengan metode khusus yang dipertimbangkan dapat mencegah potensi penyebaran virus,” ujar Muhammad Kamaluddin, CSDH PT MRT Jakarta.

Baca juga: Cegah Virus Corona, Warga Buru Masker N95, Harga Meroket Jadi Rp2 Juta/Boks

Kalapnya masyarakat borong masker untuk antisipasi dampak coronavirus

Sejumlah apotek dan ritel wilayah Jakarta melaporkan stok kosong untuk masker mulut, hand sanitizer, dan tisu basah begitu Jokowi umumkan dua WNI positif Covid-19.

Tak hanya masker dan tisu basah. Beberapa pelanggan juga tampak memborong makanan dan kebutuhan pokok dalam jumlah besar di keranjang belanjaannya.

dampak coronavirus

Troli belanjaan penuh dengan berkardus stok mie instan, minuman kemasan, makanan ringan, dan makanan kaleng/makanan cepat saji tampak mengantre panjang di berbagai ritel.

Mereka tampaknya menyiapkan persediaan apabila dianjurkan mengurung diri di rumah sebagai dampak coronavirus.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sebutkan terjadi lonjakan sekitar 10-15 persen dalam penjualan begitu pemerintah umumkan kasus Covid-19 di Indonesia.

Roy Nicholas Mandey, Ketua Aprindo, menyebutkan kenaikan pengunjung terjadi di sejumlah toko ritel di Depok dan Jakarta Selatan.

antisipasi coronavirus

Selain di apotek maupun toko ritel, toko online pun menunjukkan betapa dampak coronavirus ini begitu ditakuti oleh warga. Akibatnya, harga masker dan cairan antiseptik toko online naik hingga berkali-kali lipat.

Lonjakan permintaan lantaran kekhawatiran warga atas dampak coronavirus dan stok masker maupun cairan antiseptik yang terbatas membuat harga-harga produk ini meroket.

Masker biasa merek Sensi jenis 3 ply headloop di pasar e-commerce Lazada dipasarkan dari Rp51.000 hingga Rp250.000 per boks, di Tokopedia dari Rp35.000 hingga Rp400.000 per boks.

Sementara untuk masker N95 merek 3M 8210 di Bukalapak sudah capai harga Rp65.000 per pc. Per boksnya (20 pcs), masker ini dibanderol seharga Rp250.000 hingga Rp1.350.000.

Sementara, di Shopee, bahkan sampai ada yang menjual satu jerigen cairan septik dengan banderol harga Rp3.500.000!

Baca juga: Terdampak Wabah Corona, IHSG Masih Terkapar, Saham Blue Chip Pun Anjlok

Ancaman penjara bagi penimbun masker dan hand sanitizer 

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Argo Yuwono di Mabes Polri umumkan bahwa pihak Polri sedang lakukan penydikan. Ini terkait kasus penimbunan masker dan hand sanitizer di tengah kepanikan warga akibat dampak coronavirus.

Ia mengimbau agar masyarakat tidak perlu melakukan penimbunan dan mengajurkan agar masyarakat tetap tenang. “Jadi masyarakat tidak usah panik, pemerintah sudah bekerja untuk menangani kasus ini,” ujar Argo.

Argo menegaskan bahwa Polri akan menindak pihak yang melakukan penimbunan dengan terlebih dulu mendalami motif pelaku.

dampak coronavirus

Pakar hukum pidana Abdul Fickar Hadjar menyebutkan bahwa pihak yang mengambil keuntungan dengan menimbun barang dapat dijerat dengan Pasal 107 UU No. 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan.

Bunyi Pasal 106 UU: “Pelaku usaha yang menyimpan barang kebutuhan pokok dan/atau barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat dan/atau terjadi hambatan kelangkaan lalu lintas barang, gejolak perdagangan barang. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyal Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah)”

Ancaman hukuman ini memungkinkan polisi melakukan penahanan dan penangkapan secara paksa. Termasuk atas mereka yang menimbun masker dan antiseptik lantaran dampak coronavirus.

Sumber: Tirto, CNN Indonesia, Kontan, CNN Indonesia, Kompas

Simak juga:

Pelemahan KPK Jadikan Indonesia sebagai Surga Pajak Koruptor?

9 Rekomendasi Buku Keuangan Terbaik Ini Dijamin Bikin Kamu ‘Melek’ Finansial

Pengin Jalan-jalan ke Luar Negeri? Ini Caranya Bikin Paspor Online

Mencoba Peruntungan di 7 Negara dengan Gaji Tertinggi di Dunia, Minat?

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img