Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terealisasi 2,97% dari Target 5% di Q1 2020

0
3137
dampak ekonomi akibat pandemi

Dampak ekonomi akibat pandemi COVID-19 bagi perekonomian Indonesia menyebabkan hingga 70,53% masyarakat mengalami penurunan pendapatan.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik per 1 Juni, dari 87.379 responden, sebanyak 70,53% mengalami penurunan terbesar dibanding pekerja lainnya. Kelompok ini diisi para pekerja di sektor informal dengan pendapatan di bawah Rp1,8 juta yang pendapatannya berkurang.
dampak ekonomi akibat pandemi

Masyarakat miskin dan rentan miskin masuk ke dalam kelompok terdampak paling parah. Dampak ekonomi akibat pandemi terhadap perekonomian Indonesia juga mempengaruhi kelompok dengan pendapatan terbesar.

Sebanyak 30,34% responden dari kelompok dengan pendapatan di atas Rp7,2 juta juga merasakan tekanan pendapatan.

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu mencatat ekonomi Indonesia kehilangan aktivitas ekonomi hingga Rp316 T selama Q1 2020.

Selisih pertumbuhan Q1 2020 tunjukkan pertumbuhan ekonomi Q1 hanya terealisasi 2,97 persen lantaran perlambatan ekonomi akibat pandemi.

Baca juga: Cemas Terjadi Resesi Akibat Pandemi, Investor Nilai Aset Emas Paling Menjanjikan

Dampak ekonomi akibat pandemi, aktivitas ekonomi berkurang hingga Rp316 T

Pada Q1 2020, perekonomian Indonesia hanya tumbuh sebesar 2,97 persen dari target 5 persen. Selisih 2,03 persen ini dihitung dari posisi Produk Domestik Bruto (PDB) terakhir senilai Rp15.800 T.

“Kalau dikuantitatifkan saja, kurang lebih saat ini Rp15.800 triliun, growth-nya 5 persen dikalikan 2 saja. Itu kira-kira lost dari aktivitas ekonominya,” jelas Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Hidayat Amir.

Hidayat menjelaskan bahwa dampak ekonomi akibat pandemi sangat mempengaruhi aktivitas ekonomi. Ia menyebutkan bahwa biasanya pertumbuhan ekonomi masih bisa dijaga di kisaran 5 persen.

“Jika kita menggunakan indikator yang tidak konvensional, kita coba tracking dari aktivitas penerbangan, konsumsi listrik, dan sumber yang bahkan kalau dari Google ada Google mobility,” jelasnya mengenai cara pemerintah menelusuri aktivitas ekonomi yang berkurang.

Beberapa sektor ekonomi jelas mengalami penurunan, tetapi selebihnya masih ada bidang usaha yang tumbuh dan bertambah.

Menurut Hidayat, pemerintah telah berupaya membuat dampak kerugian ekonomi tidak semakin melebar. Pemerintah telah memberikan stimulus ekonomi fiskal kepada masyarakat untuk menopang daya beli dan tingkat konsumsi masyarakat.

Bentuk program tersebut di antaranya bantuan sosial (bansos), mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), Paket Sembako, Kartu Prakerja, Bansos Tunai, hingga Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Dana Desa.

“Tidak hanya untuk penanganan dampak, kami juga menyiapkan program pemulihan ekonomi nasional,” ujarnya.

Baca juga: Inflasi Terendah dalam 3 Tahun, Ramadan Lalu Daya Beli Masyarakat Indonesia Turun

Bank Dunia ramalkan ekonomi RI tahun ini tidak tumbuh

Menilik penurunan pertumbuhan Q1 yang hanya sebesar 2,97 persen, tampaknya pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini memang tidak akan berjalan semulus rencana.

Ekonom senior Bank Dunia Ralph van Doorn menilai pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama dua bulan berakibat pada perlambatan laju konsumsi dan investasi.

Tak pelak, Bank Dunia memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sebesar 0 persen. Perkiraan ini didasarkan atas dampak penerapan PSBB.

Dampak ekonomi akibat pandemi juga menyasar pihak konsumen. Kepercayaan konsumen diperkirakan ikut menurun.

“Pertumbuhan ekonomi baru kembali normal pada 2021, sebesar 5,4%. Dua tahun berikutnya stabil, yakni 5,5% pada 2022, dan 5,3% pada 2023,” ujar van Doorn.

Selain konsumsi, faktor investasi pun diperkirakan makin melambat. Ini terjadi seiring dengan besarnya ketidakpastian global, penurunan harga komoditas, dan pelemahan aktivitas ekonomi. Padahal, tahun lalu investasi berandil terhadap pertumbuhan ekonomi hingga 32,33%.

Untuk memulihkan situasi lantaran dampak ekonomi pada pandemi, van Doorn menyarankan pemerintah untuk mencegah erosi pajak hingga memperbaiki perbankan dan korporasi. “Tingkatkan daya tarik investasi melalui reformasi struktural, infrastruktur, dan human capital,” usulnya.

Sumber: Databoks Katadata, Tirto, CNN Indonesia, Katadata

Simak juga:

Pengin Bikin Start-up? Ini 5 Strategi Awal yang Harus Kamu Ketahui

Tetap Bisa Traveling Saat Kantong Tipis dengan 9 Trik Ini!

Menyulap Hobi Menjadi Bisnis dengan 7 Trik Andalan Ini!

Mau Financially-Savvy? Dengerin 7 Podcast Spotify Keuangan Ini, yuk!

Mau Cuan Investasi Saham untuk Pemula? Intip Dulu Panduannya di Sini!

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here