Currently set to Index
Currently set to Follow

Dunia Makin Panas, Ini Bukti Dampak Pemanasan Global Makin Parah di 2021!

Tahun 2020 adalah tahun cuaca ekstrem yang parah di seluruh dunia. Dari kebakaran hutan yang belum pernah terjadi sebelumnya di seantero Amerika Serikat hingga panas yang luar biasa di Siberia, dampak pemanasan global dirasakan di setiap sudut dunia pada tahun lalu.

Kondisi panas dan kering menyebabkan kebakaran hutan di wilayah yang luas, dari Australia, California, Brasil, hingga mencairnya es di Siberia. Kekeringan berkepanjangan menghancurkan hasil pertanian dan mendorong jutaan orang ke dalam kasus kelaparan, seperti yang terjadi di Zimbabwe dan Madagaskar. Topan super menyebabkan banjir besar di India dan Bangladesh.

Secara keseluruhan, 2020 berakhir sebagai tahun terpanas dalam catatan sejarah, bahkan meski pada tahun tersebut terjadi peristiwa La Niña, fenomena arus air dingin di Samudera Pasifik yang biasanya mampu mendinginkan bumi dengan kehadirannya.

Bagaimana rincian dampak pemanasan global yang menyebabkan peristiwa-peristiwa mengerikan itu terjadi? Dan apa saja faktor yang menyebabkan bencana baru di tahun ini? Berikut ini para ahli memperingatkan kita dengan temuan mereka.

Baca juga: Penebangan Liar hingga Prostitusi, Ini 5 ‘Barang’ Pasar Gelap Indonesia yang Hasilkan Triliunan Rupiah

Dunia Makin Panas, Ini Bukti Dampak Pemanasan Global Makin Parah di 2021!, Pluang

1. Tingkat CO2

Jumlah karbon dioksida, atau dikenal dengan CO2, di atmosfer mencapai rekor tertinggi pada 2020, yakni 417 bagian per juta pada Mei. Tingkat CO2 kali terakhir melebihi 400 bagian per juta adalah sekitar empat juta tahun yang lalu. Selama era Pliosen, suhu global lebih hangat 2-4 derajat Celsius dan permukaan air laut 10-25 meter (33-82 kaki) lebih tinggi dari sekarang.

“Kami menyaksikan peningkatan setiap tahun bahkan meski di tengah COVID-19,” kata Ralph Keeling, kepala program CO2 di Scripps Institution of Oceanography, yang telah melacak konsentrasi CO2 dari observatorium Mauna Loa sejak 1958.

Karantina wilayah atau lockdown yang diterapkan selama pandemi tidak berpengaruh signifikan pada penurunan konsentrasi CO2 di atmosfer. Bahkan, hampir tidak ada bedanya dengan fluktuasi siklus karbon dari tahun ke tahun selama ini. Organisasi Meteorologi Dunia menunjukkan kurva peningkatan CO2 secara global.

“Kita telah mengotori atmosfer dengan hingga 100 ppm CO2 dalam 60 tahun terakhir,” ujar Martin Siegert, wakil direktur Institut Grantham untuk bidang perubahan iklim dan lingkungan di Imperial College London. Peningkatan terjadi seribu kali lebih cepat dari peningkatan alami sebelumnya, seperti halnya yang terjadi menjelang akhir zaman es terakhir sekitar lebih dari 10.000 tahun lalu.

“Skenario terburuknya, di akhir abad ini, CO2 akan meningkat jadi 800 ppm. Ini tidak pernah terjadi selama 55 juta tahun,” ujarnya.

2. Suhu Panas

Satu dasawarsa ini adalah masa-masa terpanas dalam sejarah — secara harfiah. Dampak pemanasan global sangat terasa dengan derajat suhu panas lebih panas 1,2C dari hari-hari di abad ke-19. Di Eropa, saat ini adalah saat terpanas. Sementara secara global, tahun 2020 sama hangatnya dengan tahun 2016.

Suhu panas yang mencetak rekor, sama seperti pada 2016, biasanya terjadi bersamaan dengan pergerakan arus El Niño (arus air hangat yang terbentuk di Samudera Pasifik setiap beberapa tahun). Peristiwa ini mengakibatkan pemanasan suhu permukaan laut dalam skala besar.

Namun, pada 2020, dunia justru mengalami peristiwa La Niña (di mana terjadi pembentukan arus air yang lebih dingin). Dengan kata lain, tanpa adanya La Niña yang menurunkan suhu global, tahun 2020 malah akan menjadi lebih panas dari yang telah terjadi.

Suhu yang sangat panas ini memicu terjadinya kebakaran hutan terbesar yang pernah tercatat di negara bagian California dan Colorado, AS. Begitu juga terjadi peristiwa “musim panas hitam” di Australia bagian timur. “Intensitas kebakaran dan jumlah orang yang terbunuh dalam peristiwa itu benar-benar signifikan,” ujar Siegert.

3. Es Arktik

Kutub Utara adalah wilayah yang paling merasakan dampak pemanasan global. Pada Juni 2020, suhu mencapai 38 derajat Celsius di Siberia Timur, suhu terpanas yang pernah tercatat di Lingkaran Arktik. Gelombang panas mempercepat pencairan es laut di Siberia Timur dan laut Laptev serta menunda pembekuan Arktik  hingga hampir dua bulan.

“Dampak perubahan temperatur ini sungguh terasa,” ujar Julienne Stroeve, ilmuwan kutub dari University College London. Pada sisi Eurasia di Lingkaran Arktik, es tidak membeku sampai akhir Oktober, terlambat dari biasanya. Pada musim panas 2020, area es laut berada di rekor terendah kedua, dan area luar es laut (ukuran yang lebih besar, mencakup wilayah samudra di mana setidaknya ada 15% es) juga pada posisi terendah kedua.

Mencairnya es menjadi pemicu hal ini. Es laut putih yang berwarna terang memainkan peranan penting dalam memantulkan kembali panas dari matahari ke luar angkasa. Fungsinya seperti jaket pelindung. Namun, kini Arktik memanas dua kali lebih cepat dari bagian dunia lainnya, dan semakin sedikit es yang dapat bertahan melalui musim panas yang hangat, sebagian besar mencair. Sebagai gantinya, area perairan gelap yang meluas justru menyerap lebih banyak panas. Dan hal ini memicu pemanasan global lebih lanjut.

Antara tahun 1979-2018, proporsi es laut Arktik yang berusia setidaknya lima tahun menurun dari 30% menjadi 2%, menurut IPCC. “Kita mempercepat pemanasan global dengan terjadinya pengurangan jumlah es laut Arktik,” ungkap Michael Meredith, peneliti kutub di British Antarctic Survey.

Hilangnya es di kutub diyakini telah mengganggu pola cuaca di seluruh dunia. Grantham Institute memprediksi kemungkinan kondisi Arktik 2018 memicu badai musim dingin Siberia “Binatang dari Timur” di Eropa pada 2018.

“Semuanya saling berkaitan. Jika satu bagian dari sistem iklim berubah, bagian sistem lainnya akan menanggapi,”  kata Stroeve menjelaskan perubahan pola cuaca sebagai dampak pemanasan global.

Baca juga: 9 Rekomendasi Buku Keuangan Terbaik Ini Dijamin Bikin Kamu ‘Melek’ Finansial

4. Permafrost

Di belahan bumi utara, permafrost atau tanah yang membeku sepanjang tahun selama dua tahun atau lebih, telah memanas dengan cepat. Saat suhu udara mencapai 38 derajat Celsius (100F) di Siberia pada musim panas 2020, suhu tanah di beberapa bagian Lingkaran Arktik mencapai rekor 45C  (113F). Hal ini mempercepat pencairan permafrost di wilayah itu.

Permafrost mengandung sejumlah besar gas rumah kaca, termasuk CO2 dan metana, yang dilepaskan ke atmosfer saat mencair. Tanah di wilayah permafrost, yang membentang sekitar 23 juta kilometer persegi (8,9 juta mil persegi) di Siberia, Greenland, Kanada, dan Arktik, menyimpan karbon dua kali lebih banyak daripada atmosfer. Yakni, hampir mencapai 1.600 miliar ton. Sebagian besar karbon disimpan dalam bentuk metana, gas rumah kaca yang berpotensi timbulkan dampak pemanasan global 84 kali lebih tinggi daripada CO2.

Permafrost membantu untuk menjaga agar karbon tetap terkunci di atmosfer,” jelas Meredith. Namun, dampak pemanasan global membuat hal ini tampak sebagai hal yang sulit dicapai.

Pencairan permafrost merusak infrastruktur yang ada dan menghancurkan mata pencarian masyarakat adat yang bergantung pada tanah yang beku untuk melangsungkan pekerjaan. Selain itu, pencairan permafrost juga berkontribusi pada runtuhnya tangki bahan bakar besar di Kutub Utara Rusia pada Mei. Dan hal ini menyebabkan 20.000 ton solar bocor ke sungai.

5. Hutan

Sejak 1990, dunia telah kehilangan 178 juta hektar hutan (690.000 mil persegi), seluas Libya. Selama tiga dekade terakhir, laju deforestasi telah melambat, tapi para ahli mengatakan hal itu tidak cukup cepat. Terutama, mengingat peran penting hutan dalam mengekang pemanasan global.

Pada 2015-2020, laju deforestasi tahunan mencapai 10 juta hektar (39.000 mil persegi, atau seukuran Islandia), dibandingkan dengan 12 juta hektar (46.000 mil persegi) dalam lima tahun sebelumnya.

“Secara global, kawasan hutan terus menyusut,” kata Bonnie Waring, dosen senior di Institut Grantham. Ia mencatat ada perbedaan regional yang besar. “Kami kehilangan banyak hutan tropis di Amerika Selatan dan Afrika [dan] memperolehnya kembali dengan melakukan reboisasi atau regenerasi alami di Eropa dan Asia.”

Brazil, Republik Demokratik Kongo, dan Indonesia adalah negara-negara yang kehilangan hutan paling cepat dan memberi dampak pemanasan global yang signifikan. Pada 2020, deforestasi hutan hujan Amazon melonjak ke level tertinggi dalam 12 tahun.

Diperkirakan 45% dari seluruh karbon di darat disimpan di pohon dan tanah hutan. “Tanah secara global mengandung lebih banyak karbon daripada yang disatukan oleh semua tumbuhan dan atmosfer,” kata Waring. Saat hutan ditebang atau dibakar, tanah terganggu dan karbondioksida dilepaskan ke atmosfer.

Forum Ekonomi Dunia: Kampanye untuk Selamatkan Bumi

Forum Ekonomi Dunia (The World Economic Forum) pada tahun ini meluncurkan kampanye untuk menanam satu triliun pohon demi menyerap karbon. Meski reboisasi dapat membantu menghadapi emisi CO2 yang terlepas ke udara dalam 10 tahun terakhir, menurut Waring hal ini tidak dapat menyelesaikan persoalan krisis iklim.

“Melindungi hutan yang ada lebih penting daripada menanam yang baru,” ungkapnya. Membiarkan hutan tumbuh kembali secara alami, proses yang dikenal sebagai regenerasi alami, adalah cara yang paling hemat biaya dan produktif untuk menangkap CO2. Hal ini juga, terutama, meningkatkan keanekaragaman hayati secara keseluruhan.

Seperti yang disampaikan Guterres dalam pidatonya bulan Desember lalu di acara State of the Planet, “Mari kita perjelas: Aktivitas manusia adalah akar dari kemerosotan kita, dan menuju khaos. Itu berarti, tindakan manusia belum tentu membantu untuk menyelesaikannya.”

Meski kalimat pamungkas tersebut terdengar pesimis, jangan berkecil hati, Sobat Cuan, yuk kita lakukan yang terbaik sebisa kita untuk mengurangi dampak pemanasan global ini. Misalnya, mulai dari menghindari konsumsi plastik atau tidak terlalu banyak mengakses teknologi dengan kebutuhan daya listrik jika tidak betul-betul diperlukan. Yuk, pasti bisa!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: BBC, Time

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img