Currently set to Index
Currently set to Follow

Selamat “Sweet 17”, Facebook! Bagaimana Arah Sahamnya ke Depan?

Tujuh belas tahun lalu, alias tahun 2004, jejaring sosial TheFacebook.com diluncurkan di asrama Harvard. Tujuh belas tahun kemudian, perusahaan yang kini dikenal sebagai Facebook itu telah berkembang menjadi salah satu perusahaan paling bonafit di dunia dan masuk jajaran S&P 500.

Tak heran jika di perayaan “sweet seventeen”-nya, saham Facebook kini menjadi bahan analisis yang lezat bagi para analis saham.

Facebook kini telah memiliki 2,8 miliar pengguna aktif bulanan. Dengan kapitalisasi pasar lebih dari US$750 miliar, perusahaan besutan Mark Zuckerberg ini berada di posisi keenam valuasi terbesar di daftar perusahaan S&P 500. Sejak IPO alias penawaran umum saham perdana pada pertengahan 2012, valuasi saham Facebook telah melonjak hampir 600%.

Hingga hari ini, tiada yang menyangsikan betapa pesatnya pertumbuhan Facebook di antara sederetan media sosial yang tumbuh dan bermunculan. Namun, rupanya ada beberapa hambatan soal ketidakpastian regulasi di masa depan dan tantangan bisnis dari kompetitor yang dapat mengurangi kemampuan Facebook untuk terus tumbuh.

17 tahun, Tumbuh Pesat Berkat Berbagai Merger & Akuisisi

“Facebook terbilang platform media sosial yang baik karena mereka telah melakukan merger & acquisition dan melanjutkan pertumbuhan anorganik,” jelas analis New Street Advisor Delano Sapuro.

“Mereka menggunakan dua aksi korporasi itu untuk membangun, mengisolasi, dan menciptakan jaringan mereka. Dan jika itu adalah sesuatu yang terjadi di masa depan, kami tidak tahu jenis regulasi apa yang muncul dan berkemungkinan menghambat pertumbuhan ini.”

Facebook melakukan beberapa akuisisi terkenal, termasuk akuisisi Instagram pada April 2012, aplikasi perpesanan WhatsApp pada Februari 2014, dan perusahaan realitas virtual Oculus pada Maret 2014.

“Jika Anda melihat 10 media sosial teratas 10 tahun lalu dan melihatnya sekarang, kemajuan Facebook dengan berbagai akuisisinya ini terjadi cukup cepat dan sangat cepat,” imbuh dia.

Baca juga: Loncat 93% di Dua Tahun Terakhir, Saham Facebook Diramal Ngegas Tahun Ini

Selamat “Sweet 17”, Facebook! Bagaimana Arah Sahamnya ke Depan?, Pluang

Saham Facebook di S&P 500 Akan Melaju, Tapi….

Menurut Saporu, saham Facebook di indeks S&P 500 kemungkinan akan melaju lebih tinggi dalam jangka pendek. Namun, ia memperingatkan kelemahannya dalam jangka panjang, yakni rentan dengan perubahan regulasi terkait informasi teknologi.

Todd Gordon, pendiri TradingAnalysis.com, mengatakan Facebook masih menjadi jejaring sosial utama meski ada tekanan dari Washington DC. Ia juga mempertimbangkan beberapa peristiwa penting, di antaranya skandal data pengguna Cambridge Analytica pada 2018.

Dalam wawancara yang sama, ia juga menyebut Facebook masih perlu menghindar dari “pukulan” bisnis terbarunya, yakni kebijakan Apple yang berencana mengambil data penggunanya tanpa izin.

Sekadar informasi, Zuckerberg baru-baru ini mengkritik kebijakan privasi Apple tersebut karena akan berpengaruh terhadap bisnis Facebook. Sebab, ketika Apple mengambil data penggunanya tanpa izin, pengguna Facebook bisa-bisa juga tidak akan rela datanya diambil oleh perusahaan berlogo huruf F tersebut.

Padahal, pengambilan data konsumen merupakan jalan bagi Facebook untuk menggaet minat pengiklan untuk menjajakkan produk dan jasanya di jejaring media sosial itu.

Zuckerberg menuduh, kebijakan privasi tersebut hanya menguntungkan pihak Apple agar layanan iMessage miliknya dapat berkembang lebih cepat. Adapun, layanan ini ia sebut sebagai pesaing WhatsApp.

“Facebook adalah tempat untuk beriklan,” ujar Gordon. “Pertarungan besar antara Facebook dan Apple sedang dimainkan di depan publik. Mark Zuckerberg mengajukan kasusnya secara publik. Ia bilang bahwa dengan mencegah berbagi data secara khusus di iOS baru, hal itu menghambat kemampuan bisnis kecil dan menengah untuk beriklan, dan saya pikir itu akan menjadi argumen yang sulit untuk dilawan.”

Grafik juga menunjukkan tren naik yang kuat dalam kinerja saham Facebook dalam indeks S&P 500 yang menurut Gordon dapat terus berlanjut.

“Saya suka jika tren ini dipandang dari sudut pandang teknis,” katanya.

“Kami sebenarnya belum melihat angka resistance di kisaran US$500 per lembar, meski memang pendapatan mereka terus meningkat pada masa pandemi COVID-19 karena bisnis membuka kembali anggaran iklan mereka. Pendapatan tumbuh, jadi saya bullish.”

Facebook perlu mengumpulkan 87% untuk mencapai target resistence sesuai ramalan Gordon. Sebab, harga saham Facebook pada pekan lalu ditutup di angka US$266,49 per lembarnya.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNBC

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img