Currently set to Index
Currently set to Follow

Lagi Gak Ada Kerjaan? Yuk Nonton 10 Film Terbaik Sepanjang Masa Versi Kritikus Ini

Setiap orang punya deretan film terbaik sepanjang masa versinya sendiri. Ada yang fanatik pada genre, ada pula yang fanatik pada auteur theory dan tentu lebih melirik film dari siapa sutradaranya. Tapi, pernahkah kamu coba menonton satu per satu film terbaik yang mewakili dekadenya dari 100 tahun yang lalu?

Daftar film berikut ini dirilis Metacritic dan peringkatnya disesuaikan dengan pendapat kritikus film mumpuni soal masing-masing film. Ada 50 film terbaik dalam daftar itu. Mulai dari yang baru-baru ini menang Oscar, “Moonlight” dan “Parasite”, sampai film klasik yang barangkali sudah kamu tonton seperti “The Godfather” atau “Citizen Kane”.

Baca juga: Perkara Saham Hingga Krisis Ekonomi, Ini 7 Rekomendasi Film Terbaik Soal Keuangan

Lagi Gak Ada Kerjaan? Yuk Nonton 10 Film Terbaik Sepanjang Masa Versi Kritikus Ini, Pluang

Telusuri Film Terbaik Sepanjang Masa dari Tiap Dekade

Daripada berdebat untuk ikut-ikutan memilih film terbaik sepanjang masa, yuk sesekali kita pilih jalan sunyi nonton satu per satu dari deretan film itu dimulai dari film rilisan tahun 1910-an sampai ganti milenium.

Daftar ini pastinya tidak mewakili semua selera, genre, negara, tapi setidaknya mereka adalah film yang bertabur pujian dari para kritikus dan sekaligus mewakili dekadenya. Buat kamu yang pas pandemi ini bingung gonta-ganti nontonin Netflix dan Amazon Prime dan kebingungan memilih judul tontonan, cus tinggal pilih saja judul dari daftar ini.

1. Intolerance (1916)

Skor dari kritikus: 99/100

Skor dari penonton di Metacritic: 9.1/10

Didapuk sebagai film paling berpengaruh di era film bisu (silent era), Intolerance jadi film terbaik sepanjang masa dengan kisah epik selama 3,5 jamnya. Intolerance menghadirkan kisah paralel kehidupan manusia dalam rentang sejarah 2.500 tahun.

Dari kisah Babilonia di tahun 539 SM, kisah Yesus di tahun 27 M, sejarah renaisans di Perancis 1572, sampai cerita kriminal Amerika tahun 1914. Saking kolosalnya film ini, US National Film Registry menjadikannya film pertama yang dipreservasi pada 1989 karena pengaruh kuat film ini pada perkembangan sinema di Eropa setelahnya.

Apa kata kritikus: “The plunging and roving camera provides visceral thrills; ecstatic special effects capture the sacred (the Crucifixion) and the profane (combat in the Great War); a metaphysical framing device (starring Lillian Gish) raises human conflict to universal import; and Griffith’s trademark closeups lend a quivering lip or a trembling hand the tragic grandeur of historical cataclysm.” — New Yorker

2. Battleship Potemkin (1926)

Skor dari kritikus: 97/100

Skor dari penonton di Metacritic: 8.5/10

Jangan takut dulu kalau film ini bakal terkesan terlalu berat karena dibilang sebagai “film propaganda paling sukses sepanjang masa”. Terlepas dari apa pun ideologinya, para kritikus memuji film ini lantaran efek sinematografi dan gaya khas sang sutradara, Sergei Eisenstein.

Ceritanya sendiri memang membahas soal kalangan proletar Rusia tahun 1905 dalam menghadapi rezim Tsar yang otoriter. Namun, sang sutradara menghadirkan kesadaran sosialis yang tampak “berat” itu dengan begitu jitu lewat struktur naratif, mise-en-scene, dan teknik pengambilan gambarnya yang cihuy punya.

Apa kata kritikus: “If you are at all interested in the history of cinema, or the influence of 20th century politics on the medium, then this film is a must-see, although over an hour of Soviet propaganda is likely to test the patience of modern viewers.” — BBC

3. City Lights (1931)

Skor dari kritikus: 96/100

Skor dari penonton di Metacritic: 7.9/10

Film ini hadir pada masa transisi antara film bisu ke film bersuara (pre-code Hollywood) dalam sejarah sinema di Amerika Serikat. Bergenre romcom alias komedi romantis, sutradara kenamaan Charlie Chaplin menggarap cerita kesialan demi kesialan sang tokoh utama ketika ia jatuh cinta dengan seorang perempuan buta.

Konflik menanjak dengan intensitas crescendo ketika si tokoh utama berteman dengan seorang milyuner pemabuk. Tidak terbayangkan, kan, menonton karakter semacam itu dari film terbaik sepanjang masa besutan sutradara tahun 1930-an?

Apa kata kritikus: “There’s dignity and folly to The Tramp in City Lights, and everything in between.” — The Dissolve

Baca juga: Daftar Situs Streaming Nonton Film Online Gratis

4. Dumbo (1941)

Skor dari kritikus: 96/100

Skor dari penonton di Metacritic: 7.8/10

Dumbo memang film keempat yang diproduksi Disney, tapi ia adalah film pertama Disney yang moncer dan mengantarkan cuan besar bagi studio animasi satu ini. Untuk kategori animasi, tak heran kesuksesan ini menjadikannya sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa.

Pujian dilemparkan untuk pesan narasi, kisah yang sarat emosi, dan musik yang indah dalam film ini. Siapa yang tidak akan ceria menonton kisah gajah berkawan akrab dengan tikus dan bertingkah laku seperti manusia ini?

Apa kata kritikus: “It’s not only one of the best classic-era Disney features, but also one of the best animated films from any studio at any time.” — AV Club

5. A Streetcar Named Desire (1951)

Skor dari kritikus: 97/100

Skor dari penonton di Metacritic: 8.5/10

Film yang diadaptasi dari drama pemenang Pulitzer Prize tahun 1947 ini mengisahkan tentang kisah seorang aristokrat yang meninggalkan kekayaannya setelah rentetan kesialan dalam hidup. Woody Allen memuji film ini karena kesempurnaan tata artistiknya. Film terbaik sepanjang masa ini memang berhasil menghadirkan siksaan batin sang tokoh yang kehilangan banyak aset berharganya.

Apa kata kritikus: “Streetcar is always a wonderful screen drama and now, also, a study in film archaeology.” — Austin Chronicle

Baca juga: Hindari Bosan WFH dengan Maraton Film, Begini Caranya Langganan Netflix

6. Dr. Strangelove or: How I Learned to Stop Worrying and Love the Bomb (1964)

Skor dari kritikus: 97/100

Skor dari penonton di Metacritic: 8.4/10

Belum pernah nonton Perang Dingin dihadirkan dengan jalan jenaka? Ini saatnya kamu nonton film legendarisnya Stanley Kubrick dan dibikin geleng-geleng kepala oleh tingkah polah si Dr. Strangelove. Ironi dan humor gelap Kubrick yang berkelas soal perseteruan antara AS dan Soviet hadir lewat karakter-karakternya yang kocak. Tentunya, film ini memenuhi ekspektasi penonton dari judul ajaib: “how I learned to stop worrying and love the bomb”.

Apa kata kritikus: “Baleful and brilliant, Dr. Strangelove; Or: How I Learned to Stop Worrying and Love the Bomb, will outrage a predictable percentage of the population and enthrall an even greater percentage.” — Hollywood Reporter

7. Don’t Look Now (1973)

Skor dari kritikus: 96/100

Skor dari penonton di Metacritic: 8.5/10

Don’t Look Now fokus pada kesedihan yang dialami orang tua setelah ditinggal kematian anaknya. Film bergenre occult thriller ini membangun ketegangan psikologis sepasang suami istri ini lewat kehadiran tokoh clairvoyant.

Mereka mengklaim bahwa mereka dapat merasakan kehadiran anak pasangan tersebut yang telah tiada. Kalau kamu terbiasa menonton kisah psychological thriller ala Hitchcock atau Kubrick, tentu bakal menikmati salah satu film terbaik sepanjang masa ini.

Apa kata kritikus: “A haunting, beautiful labyrinth that gets inside your bones and stays there.” — San Francisco Chronicle

8. Ran (1985)

Skor dari kritikus: 96/100

Skor dari penonton di Metacritic: 8.5/10

Bagaimana jadinya saat seorang sutradara Jepang, Akira Kurosawa, menggarap versi King Lear ala Shakespeare dalam filmnya? Ran (bahasa Jepang untuk “Pemberontakan”) adalah jawabannya.

Kisah King Lear ia padukan dengan cerita daimyo legendaris Jepang Mori Motonari. Film bergenre drama aksi ini menjadi film Jepang paling mahal ketika itu, dengan gelontoran dana produksi US$12 juta.

Apa kata kritikus: “The drama itself packs a powerful — and timeless — gut punch. Washington Post

9. Three Colors: Red (1994)

Skor dari kritikus: 100/100

Skor dari penonton di Metacritic: 8.8/10

Sebuah mahakarya, film ini diganjar 100/100 di Metacritic. Red adalah film terakhir dalam trilogi Three Colors, setelah Blue dan White. Krzysztof Kieślowski menutup trilogi filmnya dengan jalinan kisah terkait takdir dan berbagai kebetulan-kebetulan dalam hidup.

Cerita berpusar pada kehidupan seorang model dengan karier moncernya yang hidup suram dan bersinggungan dengan seorang pensiunan hakim dengan hidupnya yang pahit. Red menggambarkan dengan intim kisah tentang kecemburuan, pengkhianatan, dan kepalsuan hidup.

Apa kata kritikus: “It is a film of much humanity and very far from smart European pap. But the external brilliance of its making does at times subvert its inner workings, as if its manufacture and its meaning were not quite in perfect harmony.” — Guardian

10. Pan’s Labyrinth (2006)

Skor dari kritikus: 98/100

Skor dari penonton di Metacritic: 8.7/10

Guillermo del Toro piawai menghadirkan kisah goth, dan Pan’s Labyrinth adalah representasi terbaik dari daftar mahakarya sutradara satu ini. Meski berwujud animasi, film ini jelas bukan ditujukan untuk anak-anak.

Ceritanya merengkuh dongeng kelam yang menceritakan mimpi buruk korupsi, kekerasan, dan kematian orang-orang lugu. Sureal, menghantui, dan indah, kemasan fantastis film terbaik sepanjang masa ini tentu tidak boleh dilewatkan.

Apa kata kritikus: “Literally and figuratively marvelous, a rich, daring mix of fantasy and politics.” — Village Voice

Baca juga: 5 Rekomendasi Film Tentang Saham & Investasi Ini Wajib Kamu Tonton!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Business Insider

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img