Currently set to Index
Currently set to Follow

Bagaimana Nasib Harga Bitcoin Nantinya? Ini 5 Skenario Masa Depan Bitcoin di 2030!

Sejak dulu hingga sekarang, tidak ada yang bisa memprediksi naik turun harga Bitcoin. Kondisi ini tentu bikin peminatnya deg-degan. Apalagi, kadang fluktuasi harga Bitcoin dengan nilai signifikan bisa berlangsung dalam hitungan detik saja.

Salah satu faktor fundamental harga Bitcoin yang kita ketahui selama ini adalah terdapat 21 juta Bitcoin yang sedianya akan selesai ditambang pada 2140 mendatang. Secara hukum ekonomi, maka suplai yang menipis tentu akan bikin harganya meningkat secara bertahap.

Hanya saja, harga Bitcoin tentu juga ditentukan oleh dinamika ekosistem teknologi dan ekonomi di masa depan. Saat ini, daripada menebak-nebak harga Bitcoin di masa depan, investor mulai memfokuskan diri pada menebak skenario apa saja yang menjadi sentimen bearish dan bullish harga Bitcoin.

“Mungkin saja skenario bearish dan bullish yang mempengaruhi naik turun harga Bitcoin 10 tahun mendatang akan terdengar tak masuk akal bagi kita di saat ini,” jelas kepala Lightning Labs Elizabeth Stark. “Semua kemungkinan bisa terjadi.”

Lantas, bagaimana para ahli dan investor setia Bitcoin meramal faktor-faktor bearish dan bullish harga aset kripto ini minimal 10 tahun mendatang?

Baca juga: 1 Miliar Orang Diprediksi Investasi Bitcoin Pada 2026

Bagaimana Nasib Harga Bitcoin Nantinya? Ini 5 Skenario Masa Depan Bitcoin di 2030!, Pluang

Kemungkinan Skenario Bullish yang Bikin Naik Harga Bitcoin

#1 Skenario Bullish Pertama: Bitcoin akan Menjelma Jadi Salah Satu Instrumen Penyimpan Kekayaan Utama

Ini merupakan skenario yang paling simpel, di mana tren ini kemungkinan besar akan terjadi. Pembawa acara podcast “What Bitcoin Did” Peter McCormack mengatakan bahwa semakin banyak permintaan Bitcoin, maka manfaat Bitcoin sebagai alat penyimpan kekayaan harusnya bisa meluas.

“Bisa saja nantinya orang menyimpan dana pensiunnya di Bitcoin, atau mungkin menyimpannya sebagai dana amanah utama. Kalau memang tren ke depan seperti itu, bukan tidak mungkin kapitalisasi pasar Bitcoin akan mengalahkan emas nantinya,” jelas dia.

Ucapan McCormack ini diamini Chief Strategy Officer The Human Rights Foundation Alex Gladstein. Ia menyebut bahwa jumlah pemilik Bitcoin bisa mencapai 1 miliar orang di 2030, atau meningkat 10 kali lipat dibanding saat ini 130 juta pemilik aset kripto tersebut.

Pendapat itu kemudian didukung oleh penulis “Bitcoin & Black America” Isaiah Jackson yang menyebut bahwa aset kripto ini bisa menjadi aset penyimpan kekayaan utama bagi kaum-kaum yang belum memiliki rekeninhg bank (unbanked).

#2 Skenario Bullish Kedua: Harga Bitcoin Naik Karena Menjadi Mata Uang Resmi Internet

Analis Morgan Creek Digital Assets Anthony Pompliano mengatakan, maraknya penggunaan Bitcoin belakangan ini bisa mengarah ke kemungkinan bahwa aset kripto tersebut akan diadopsi sebagai mata uang internet global.

Menurutnya, penggunaan Bitcoin akan mempermudah pembelian barang lintas negara secara daring karena warganet tak usah repot menghitung kurs mata uangnya dengan yang lain.

“Adopsi Bitcoin sebagai mata uang resmi internet akan memberikan keuntungan tersendiri bagi penjual daring. Sebab, mereka memiliki kesempatan lebih luas untuk menjajakkan barangnya ke konsumen global,” jelas dia. “Bitcoin nantinya akan menjadi mata uang yang penggunaannya tak lagi dibatasi batas geografi dan administrasi,” imbuhnya.

Hal tersebut juga didukung oleh Stark yang mengatakan bahwa nantinya Bitcoin akan menjadi fondasi utama transaksi antar negara di internet. “Dari mulai pembayaran biasa hingga pembayaran yang spesifik, nantinya bisa jadi semuanya ditopang oleh Bitcoin,” katanya.

#3 Skenario Bullish Ketiga: Adopsi Bitcoin ke Dalam Sistem Decentralized Finance (DeFi)

Seiring peminat dan transaksi Bitcoin yang makin marak, bukan tidak mungkin nantinya aset kripto ini akan menjadi bagian dari ekosistem DeFi.

Adapun, DeFi adalah sistem di mana teknologi blockchain akan digunakan untuk mengakomodasi bisnis jasa keuangan yang sudah ada, seperti asuransi, pinjam meminjam, dan lainnya. Hingga saat ini, DeFi masih sebatas didukung oleh teknologi smart contract yang berjalan di atas sistem Ethereum.

“Bisa juga nantinya seluruh proyek DeFi bergabung,” kata Pompliano. “Namun untuk saat ini, kita masih belum tahu.”

Baca juga: Harga Ethereum Akan Tembus di Atas Rp28 Juta. Sudah Siap Cuan?

Kemungkinan Skenario Bearish yang Menghambat Harga Bitcoin

#1 Skenario Bearish Pertama: Regulasi yang Restriktif

Beberapa waktu terakhir, negara seperti India dan Nigeria tengah memantau ketat perkembangan aset kripto di negara masing-masing. Hal itu tentu akan mengurangi transaksi Bitcoin meski permintaannya tengah menanjak.

Namun, bisa jadi nantinya terdapat kerja sama multilateral atau satu kerangka kerja internasional yang mengatur investasi dan transaksi aset kripto. Ini mengingat penggunaan Bitcoin dan aset kripto lainnya sudah merambah ke berbagai negara.

“Dan itu nantinya bisa menimbulkan risiko bagi perkembangan aset kripto. Dampaknya bisa sangat menyakitkan,” ujar Jason Williams, penulis buku “Hard Money You Can’t F**k With: Why Bitcoin Will Be the Next Global Reserve Currency”.

Tak hanya itu, pemerintah masing-masing negara mungkin juga akan memberlakukan kebijakan fiskal yang agresif untuk mengatur peredaran Bitcoin. Salah satunya, adalah pengenaan pajak terhadap keuntungan (capital gain) Bitcoin.

Hal tersebut tentu akan mencegah perusahaan-perusahaan untuk menempatkan dananya di Bitcoin karena takut dibebani pajak bernilai jumbo. Dengan demikian, bisa jadi tidak ada lagi yang mengikuti langkah Tesla, yang pada bulan lalu mengumumkan akan menempatkan dana US$1,5 miliar di Bitcoin.

#2 Skenario Bearish Kedua: Skenario Terburuk, Sistem Bitcoin Hancur

Sistem Bitcoin dikenal anti peretasan hingga saat ini. Sehingga, masih ada potensi sistem ini bisa diretas di masa depan meski memang kemungkinannya cukup kecil.

Hal itu sempat dilontarkan firma konsultan keuangan DeLoitte di dalam laporannya tentang quantum computing yang terbit beberapa waktu lalu.

Laporan itu menyebut bahwa teknologi itu memang tidak bisa menembus sistem Bitcoin. Namun, jika teknik peretasan menggunakan quantum computing bisa membuka public key dan private key Bitcoin dalam waktu kurang dari 10 menit, maka sistem Bitcoin bisa hancur.

Baca juga: Harga Emas Tahun Ini Bersiap Dekati Rekor Tertinggi

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CoinDesk

Artikel Terbaru