Currently set to Index
Currently set to Follow

Harga Emas Hari Ini Stagnan Seiring Investor Menanti Data Inflasi

Harga emas di pasar spot pada hari ini, Kamis (10/6) pukul 09.00 WIB, melemah 0,05% ke US$1.887,67 per ons. Pelemahan juga terjadi di pasar COMEX sebesar 0,24% ke US$1.891 per ons.

Harga logam mulia terbilang stagnan karena pengaruh tarik-menarik dari dua musuh bebuyutan emas, yakni antara tingkat imbal hasil obligasi AS dan nilai dolar AS.

Di Rabu pagi, yield obligasi AS dengan tenor tersebut berada di titik 1,48%, atau melemah dibanding kemarin 1,53%.

Melemahnya yield tersebut membuat investor kembali berpaling dari obligasi dan menjadi katalis positif bagi harga emas. Penjelasan lengkap tentang hubungan harga emas dan yield obligasi pemerintah bisa dibaca di artikel berikut.

Hanya saja, musuh bebuyutan logam mulia lain, yakni emas, justru menguat tipis di saat yang bersamaan. Pagi hari ini, indeks dolar AS sudah menyentuh angka 90,14 atau menguat dari posisi kemarin 90,09

Menguatnya nilai dolar AS akan membuat harga emas relatif lebih mahal bagi mereka yang jarang bertransaksi menggunakan mata uang tersebut. Alhasil, permintaan emas melemah, dan kemudian menyeret turun harganya.

Baca juga: Harga Emas Hari Ini Stagnan Seiring Antisipasi Data Inflasi AS

Harga Emas Hari Ini Stagnan Seiring Investor Menanti Data Inflasi, Pluang

Sentimen Utama Harga Emas Hari Ini

Stagnannya harga emas hari ini disebabkan oleh sikap pelaku pasar yang wait-and-see terhadap beberapa data dan kebijakan yang akan diambil otoritas moneter global.

Pelaku pasar menanti indeks harga konsumen, atau biasa dikenal dengan data inflasi, Amerika Serikat yang sedianya akan dirilis pada hari ini, Kamis (10/6).

Data ini akan memberikan petunjuk bagi investor terkait jadi atau tidaknya bank sentral AS, The Fed, mengetatkan kebijakan moneternya dalam merespons inflasi dan sinyal-sinyal pemulihan ekonomi negara adidaya tersebut.

Dalam sepekan belakangan, data-data ekonomi AS memberi petunjuk mengenai perbaikan ekonomi di negara tersebut. Pada pekan lalu, Departemen Ketenagakerjaan AS merilis data bahwa ada 388.000 pengangguran yang mengajukan program bantuan tunakarya AS sepanjang pekan lalu. Angka ini merupakan titik terendah selama pandemi COVID-19 berlangsung di negara adidaya tersebut.

Selain itu, lembaga tersebut juga melaporkan pertambahan 559.000 tenaga kerja pada Mei, atau naik dibanding April 300.000 tenaga kerja. Kemarin, Departemen Ketenagakerjaan AS juga mencatat 9,3 juta lowongan pekerjaan baru pada April, melesat dibanding 8,3 juta lowongan di Maret.

Selain itu, di waktu yang bersamaan, pejabat bank sentral Eropa (ECB) juga berencana untuk menghelat rapat bulanan. Hal ini juga bisa bikin pelaku pasar menerka-nerka tren kebijakan moneter global ke depan.

Jika memang bank sentral berniat mengetatkan kebijakan moneternya, maka hal itu bisa bikin kilau emas kian pudar. Sebab, ketika kebijakan moneter diperketat, maka investor akan lari ke produk investasi lainnya yang mengalami kenaikan imbal hasil seperti produk jasa keuangan dan obligasi.

Namun, sejauh ini, hal fundamental yang masih bisa berdampak baik bagi emas adalah janji The Fed yang kemungkinan masih akan menerapkan kebijakan moneter longgar. Beberapa waktu belakangan, mereka percaya bahwa inflasi yang terjadi belakangan ini hanya bersifat sementara saja.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: ReutersBloombergCNBC

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img