Currently set to Index
Currently set to Follow

Indonesia Resesi Ekonomi, Ini Sektor yang Kontraksi dan Jadi Jawara

Berkaca pada laporan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada Q3 2020 tumbuh 5,05% secara kuartalan tetapi masih minus 3,49% secara tahunan, dapat mengabaikan Indonesia mengalami resesi ekonomi.

PDB berdasarkan lapangan usaha tumbuh dengan derajat berbeda-beda. Data BPS menyebutkan semua lapangan usaha mencatatkan pertumbuhan positif pada kuartal ketiga.

Status resesi ekonomi ini adalah yang pertama kalinya sejak 1999, atau 21 tahun yang lalu. Jika dilihat secara tahunan, dari 17 sektor hanya ada 7 sektor yang mencatatkan pertumbuhan positif.

Sedangkan sisanya masih mengalami kontraksi. Lapangan usaha yang mencatat penguatan signifikan 15% pada kuartal ketiga ini adalah industri kesehatan. Maklum ini karena adanya pandemi COVID-19.

Baca juga: Sejak Masa Depresi Besar, IMF Prediksikan Ekonomi Dunia Rebound pada 2021

Pertumbuhan PDB berdasarkan lapangan usaha dan resesi ekonomi

Selain industri kesehatan, industri lain yang mengalami pengingkatan dobel adalah lapangan usaha sektor informasi dan komunikasi yang naik 10,6% (YoY). Ini karena sejak diadakannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kebutuhan internet dan akses ke media sosial atau untuk bekerja makin besar.

Orang-orang cenderung berada di rumah dalam rangka social distancing dan karantina sendiri . Wajar jika mereka menggunakan lebih banyak akses internet dan media komunikasi lainnya.

Dalam kurun waktu Juli hingga September, sektor industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, hingga pertambangan menyumbang 64,13% dari PDB. Hanya lapangan usaha saja yang tumbuh secara tahunan.

Peningkatan produksi pangan akibat bergesernya panen pertumbuhan pertumbuhan di sektor pertanian. Di samping itu kenaikan harga minyak sawit sebagai permintaan permintaan global juga menunjukkan harapan pemulihan.

Dalam resesi ekonomi kali ini, semua sektor industri mengalami kontraksi kecuali sektor makanan dan minuman yang tumbuh 0,66% (YoY). Pertumbuhan yang paling signifikan yaitu industri kimia, farmasi dan obat tradisional yang tumbuh dobel digit 14,96% (YoY).

Sektor yang kontraksi kala resesi

Sebagai dampak dari resesi ekonomi, industri perdagangan tetap berada di zona negatif dengan penyusutan sebesar 5,03% (YoY). Ini karena meski PSBB sudah dilonggarkan, animo masyarakat untuk mengakses pusat pusat di tengah pandemi masih rendah.

Perdagangan mobil, motor, dan suku cadang masih di resesi ekonomi ini terpantau masih berkontraksi jika dibandingkan sepertiga di tahun 2019. Maka, target penjualan mobil dan motor tahun ini di angka 1 juta dan 6,4 juta unit tidak mungkin bisa dicapai.

Sebaliknya, target penjualan motor diturunkan menjadi 3,7 unit. Sektor lain yang mengalami kontraksi di tengah resesi ekonomi ini adalah konstruksi.

Pandemi COVID-19 pengungsi pemerintah mengubah prioritas dari sebelumnya ke pembangunan infrastruktur dan konektivitas menjadi upaya menahan kejatuhan perekonomian nasional dengan memberikan berbagai bentuk stimulus.

Kontraksi ini juga dipicu oleh adanya penurunan pengadaan semen dan impor bahan baku untuk konstruksi bangunan, terutama yang berbahan dasar besi dan baja hingga kaca.

Secara kuartalan, harga minyak dan batu bara mulai merangkak naik dan aktivitas operasional pertambangan mulai menggeliat sehingga sektor ini tumbuh secara positif. Namun, sektor ini masih berada di zona kontraksi tahunan karena permintaan belum pulih dan harga pertambangan masih rendah.

Baca juga: Hadapi Krisis Ekonomi COVID-19, Intip Strategi Jitu dari 5 Investor Dunia

Sektor yang jawara di tengah resesi ekonomi

Meskipun secara resmi Indonesia masuk dalam kondisi resesi ekonomi, pada kuartal ketiga tahun ini ada dua sektor yang paling terdampak ekonomi, yaitu akomodasi makan dan minum, dan transportasi pergudangan. Baik justru menjadi jawara.

Sektor akomodasi makan dan minum serta transportasi perdagangan sangat sensitif dengan mobilitas publik. Saat mobilitas menurun maka sektor kedua ini akan menjadi yang paling terdampak pertama kali seperti saat Pandemi COVID-19 menghantam.

Tumbuhnya dua sektor ini sangat impresif sampai mencapai dobel digit atau lebih dari 10%, ini hanya harapan bahwa yang terburuk sudah berakhir , seperti perkataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Jika kasus infeksi COVID-19 kian melambat, dan PSBB semakin dilonggarkan, tentu berimbas pada mobilitas publik yang terpantau semakin ramai.

Berbagai risiko ekonomi di masa mendatang

Mobilitas makin ramai ini terutama dipicu adanya libur panjang akhir tahun dan sentimen konsumen semakin membaik. Ini akan menjadi modal yang baik untuk keluar dari resesi ekonomi dan menyongsong kuartal keempat tahun 2020 dengan lebih cerah.

Namun, tentu saja masih ada banyak risiko yang mencegah pulihnya Indonesia dari resesi ekonomi. Risiko terbesar pemulihan ekonomi Indonesia dari resesi ekonomi tentu saja adalah adanya gelombang kedua infeksi pandemi COVID-19 yang sudah mulai merebak di Eropa dan Amerika Serikat.

Walau sebenarnya masih ada secercah harapan di mana vaksin COVID-19 yang diproduksi oleh Pfizer telah dinyatakan sukses 90%. Apabila vaksin berhasil dan mulai meninggal, kasus COVID-19 akan tepat atau bahkan dihilangkan.

Jika itu terjadi, secara otomatis kondisi perekonomian akan membaik lagi dan Indonesia akan mampu keluar dari jerat resesi ekonomi.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Unduh aplikasi Pluang di Google Play Store atau App Store untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam dengan kadar 999,9 mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS seperti Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera unduh aplikasi Pluang!

Simak juga:

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img