Berkebun atau Bersepeda, Mana Gaya Hidup Hipstermu Saat Pandemi?

0
182
gaya hidup hipster

Pandemi COVID-19 membuat sebagian orang mengubah gaya hidup. Termasuk menekuni gaya hidup hipster!

Do it Yourself (DIY) adalah konsep yang booming selama pandemi korona menyerang di dunia.

Tidak diragukan lagi jika pandemi telah mempengaruhi kegiatan perekonomian. Beberapa pakar ekonomi yang meramalkan Indonesia akan mengalami resesi sebagai dampak nyata pandemi.

Gaya hidup hipster selama pandemi identik dengan prinsip do it yourself. Masyarakat mulai beralih menggunakan barang daur ulang dan merintis usaha kecil.

Hal positif yang terjadi di tengah pandemi adalah munculnya sektor-sektor ekonomi baru. Misalnya, bisnis melalui konferensi video dan bisnis peralatan rumah tangga.

Gaya hidup hipster ini mulai menjamur di berbagai tempat!

Baca juga: Butuh Me Time, Tapi Maunya Hemat? Begini Tipsnya!

Gaya hidup hipster selama pandemi COVID-19

Berkebun, melakukan kerajinan, hingga membuat roti sendiri adalah sebagai contoh gaya hidup hipster selama pandemi. Kegiatan-kegiatan tersebut terbukti telah berkembang pesat dan menjadi sektor ekonomi baru selama virus korona.

Dengan melakukan kegiatan DIY, mereka memenuhi kebutuhannya sendiri dan berkarya. Layaknya seorang petani yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan, sekaligus membangun kembali moral mereka pasca perang. Lockdown atau pembatasan kegiatan secara fisik membuat masyarakat harus beradaptasi.

Salah satu faktor pemicu DIY adalah pembatasan keluar rumah, termasuk pergi berbelanja ke ritel. Selain bisa meningkatkan penyebaran, tentunya kegiatan ini bisa sangat berisiko bagi perorangan. Untuk mengatasi keterbatasan yang ada, orang-orang mulai berkreasi. Mereka membuat barang daur ulang dengan memanfaatkan barang-barang yang ada di sekitar.

Sebagian orang juga mulai membuka bisnis kecil-kecilan untuk membiayai kebutuhan mereka. Orang-orang mulai menggali dan mengembangkan hobi serta kreativitas mereka.

Dampak lain gaya hidup hipster ini tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan mental. Lebih jauh, lifestyle ini dinilai lebih sederhana.

Chase Beathrad, dari Washington, memiliki kisah yang menarik. Karena khawatir akan stok daging selama pandemi, Beathard memanfaatkan iklan Craiglist. Iklan tersebut menawarkan babi hutan secara gratis.

Hasilnya, pria 34 tahun telah memulai kariernya sebagai peternak babi. Tidak hanya mengamankan stok daging, Beathrad bisa mengembangkan hobi serta melihat peluang yang ada.

Ada pula Tynika-Anna Carter yang merupakan seorang model dari Western Cape, Afrika Selatan. Carter mengembangkan kemampuan bertani dan berkebunnya demi memenuhi kebutuhan pangannya. Selama pandemi, Carter juga mulai mengembangkan keterampilannya untuk membuat keranjang, menenun, serta merenda.

Melalui gaya hidup hipster, orang mulai kembali kepada hal-hal sederhana untuk menggantikan materialisme.

Baca juga: Catat! 7 Rahasia Sukses Hidup Minimalis Seperti Mark Zuckerberg

Munculnya istilah hipsteader

Gaya hidup hipster membuat orang mengembangkan keterampilan mereka. Bagi sebagian orang, mereka disebut dengan hispteader.

Gaya hidup hipster mulai berkembang pesat pada tahun 2008. Tepatnya, di sekitar jalanan Brooklyn di mana gaya hidup retro hipster mulai dikenal dan menambah kekayaan fashion dunia. Seiring dengan meningkatnya hasil tani, orang-orang membuat parfum, selai, hingga sabun untuk memenuhi kebutuhannya. Sebagian dari mereka juga membuat acara secara mandiri.

Kondisi pandemi ini bisa dibilang memiliki kemiripan pada saat itu. Lockdown membuat sebagian proses produksi dan ekonomi terhenti yang mendorong resesi di berbagai belahan dunia.

Dampaknya, persediaan bahan baku menjadi terbatas. Selain itu, orang-orang juga harus berhemat karena keadaan ekonomi yang tidak pasti. Hal ini mendorong kegiatan do it yourself menjamur.

“Saat orang khawatir pasar tidak akan berfungsi, masyarakat akan terlibat dalam lebuh banyak aktivitas yang diperlukan untuk menghasilkan makanan sendiri. Atau apa pun yang paling membuat orang khawatir”, terang Beth Redbirth, sosiolog di Northwestern University.

Selain dari sisi ekonomi, mengakarnya kegiatan do it yourself dan gaya hidup hipster ala pandemi juga berasal dari sosiologis orang atau masyarakat itu sendiri.

“Lockdown membuat kita belajar untuk berbuat lebih banyak untuk diri kita sendiri, untuk menjadi lebih mandiri”, papar Mary Osirim, seorang profesor sosiologi di Bryn Mawr College.

Dari pernyataan Osirim, ternyata ada banyak faktor yang mendorong menjamurnya kegiatan do it yourself. Alasan utamanya adalah karena orang-orang memiliki waktu yang lebih banyak di rumah. Selain itu, Osirim menjelaskan bahwa adanya faktor kebutuhan mendorong orang untuk lebih kreatif.

Dalam enam bulan terakhir, hipsteading alias gaya hidup hipster ala pandemi telah berkembang dan mengakar lebih dalam di kehidupan masyarakat.

Sumber: Lifestyle Bisnis

Simak juga:

Minimalisir Risiko Investasi dengan Strategi Dollar Cost Averaging, Begini Caranya!

Apa Itu Diversifikasi?

3 Jenis Modal Usaha, Dasar-dasar Financing Bisnis untuk Pemula

Mengapa Harus Investasi Emas?

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here