Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Pasar: Big Caps Rehat, IHSG Istirahat Sejenak

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi perdagangan hari ini dengan bercokol di 6.656 poin, atau longsor 0,04% dibanding sesi perdagangan sebelumnya. Nilai IHSG akhirnya lemas juga setelah terlihat enerjik sepanjang pekan lalu. Lantas, apa yang membuat nilai IHSG hari ini ngaso sebentar?

Profit Taking Jadi Biang Keladi Lesunya IHSG

Derasnya aksi ambil untung (profit taking) yang dilakukan investor digadang menjadi salah satu musabab susutnya nilai IHSG hari ini. Maklum, selama hampir sepekan belakangan, indeks saham domestik sudah ngebut 2,34% dan hampir mencapai rekor tertingginya akibat kinclongnya harga batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) dunia.

Sebagai buktinya, investor terlihat meninggalkan saham-saham berkapitalisasi jumbo (big caps) penopang penggerak IHSG sepekan terakhir, salah satunya adalah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

investor terlihat melego saham bank raksasa ini sebesar 230,3 miliar setelah mengakumulasi sahamnya selama sepekan belakangan. Nahas, kondisi sikap investor tersebut bikin nilai saham perseroan luntur 0,33% ke level Rp7.500 per saham meski saham BBCA menjadi saham dengan frekuensi transaksi terbanyak pada hari ini, yakni mencapai 43.201 kali transaksi.

Namun, aksi profit taking bukan satu-satunya biang kerok pudarnya nilai IHSG hari ini. Pelaku pasar ternyata juga sedang dihantui eksekusi tapering bank sentral AS The Fed sehingga mereka pun sibuk mengatur ulang portofolio investasinya.

Di tengah tekanan jual, investor asing masih mencatat total nilai beli bersih asing atau net foreign buy mencapai Rp548,8 miliar. Kendati demikian, capaian ini lebih rendah dibanding rata-rata Rp1 triliun per hari dalam sepekan ke belakang.

Investor asing banyak mengoleksi saham-saham berkapitalisasi jumbo, mulai dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebanyak Rp309,7 miliar, disusul PT Astra International Tbk (ASII) sebanyak Rp149,3 miliar dan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebanyak Rp101,5 miliar.

Kebijakan Moneter BI Gagal Jadi Amunisi IHSG

Nilai IHSG sudah kepalang terjun ke zona merah meski terdapat satu sentimen positif dari dalam negeri.

Ya, pada hari ini, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) bersikukuh mempertahankan suku bunga acuan BI-7 day reverse repo rate (BI7DDR) di level 3,50%.

Langkah tersebut tentu akan berdampak positif bagi perekonomian. Sebab, suku bunga acuan yang rendah diharapkan dapat memompa aktivitas konsumsi masyarakat di dalam negeri. Sebagai imbasnya, saham-saham sektor barang konsumsi pun kecipratan berkah.

Beberapa saham sektor konsumsi seperti PT Unilever Tbk (UNVR) sukses naik 0,49% ke level Rp5.125 per saham pada hari ini. Sementara saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga naik 0,74% ke level Rp6.825 per saham.

Di saat yang sama, otoritas moneter tersebut juga mengumumkan akan terus melonggarkan ketentuan uang muka 0% bagi pembelian produk otomotif dan properti hingga tahun depan. Sontak, saham sektor otomotif pun ikut girang akibat kabar tersebut.

Sebagai contohnya, saham PT Astra International Tbk (ASII) lompat 2,01%, ke Rp6.350 per saham. Sementara itu, nilai saham emiten suku cadang PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) dan PT Astra Otoparts Tbk ikut terkerek masing-masing 1,67% dan 0,87%.

Baca juga: Rangkuman Pasar: IHSG Menuju All Time High, Big Caps Pesta Pora

Sektor Teknologi Selamatkan Bursa Eropa. Di Indonesia?

Indeks saham utama Eropa, STOXX 600 hampir bernasib serupa dengan indeks saham tanah air. Tekanan terjadi lantaran untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, pendapatan Ericsson susut 1,26% secara year-on-year (yoy) di triwulan II tahun ini. Hal itu terjadi setelah rantai pasokan dunia terganggu parah sepanjang tahun lalu.

Namun, hasil akhir berkata lain. Sepanjang perdagangan, indeks saham yang dihuni oleh 600 saham unggulan di Eropa itu justru naik 0,2%. Kenaikan dipimpin oleh saham-saham sektor pertambangan, utilitas dan juga teknologi. Bahkan menggeliatnya saham sektor teknologi juga menjadi salah satu penyebab kenaikan indeks utama di Asia.

Sayangnya, nasib berbeda ditunjukkan IHSG. Beberapa saham teknologi malah kompak amblas pada perdagangan hari ini.

Saham PT Bukalapak Tbk (BUKA), misalnya, kembali terkoreksi 2,13% ke level Rp690 per saham. Langkah BUKA diikuti oleh salah satu pemegang sahamnya, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), yang juga ambrol 1,81% ke level Rp1.630 per saham.

Seakan itu adalah prestasi, saham teknologi lainnya PT DCI Indonesia Tbk (DCII) juga ikut turun 0,48% ke level Rp46.975 per saham.

Harga Komoditas Masih Berpeluang Reli?

Krisis pasokan gas alam di wilayah China dan beberapa negara lain di Eropa membuat harga minyak dunia dan juga batu bara terus mengambil ancang-ancang untuk naik. Minyak mentah Brent naik 0,4% menjadi US$84,68 per barel pada waktu setempat.

Sementara itu, harga batu bara berjangka di China pada perdagangan Selasa waktu setempat naik 7,8%. Mulai masuknya musim dingin memperparah kondisi krisis energi yang melanda.

Beberapa analis mengatakan bahwa, kenaikan harga batu bara dan gas alam di wilayah Asia bakal mendorong tingkat konsumsi minyak bagi kalangan industri. Hal itu dapat dimaklumi, pasalnya harga minyak jauh lebih murah ketimbang harga emas hitam.

Baca juga: Hingga Lebih dari Rp1 T, Kerugian Banjir Bisnis Ritel Diprediksi Paling Besar

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img