Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Pasar: Asing Net Buy Rp1,7 T, IHSG Gagal ke Zona Merah

Nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.144,81 poin pada penutupan perdagangan Jumat (24/9), menguat tipis 0,03% dibandingkan pembukaan perdagangan. Lantas, apa yang terjadi pada pasar saham domestik di akhir pekan? Sobat Cuan bisa menyimak selengkapnya di rangkuman pasar berikut!

IHSG ‘Malu-Malu Kucing’ Akibat Profit Taking

Beberapa analis menilai, stagnannya laju IHSG hari ini disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking) yang dilakukan oleh investor. Adapun saham yang paling banyak dilego asing adalah saham perusahaan milik taipan Hary Tanoesoedibjo, PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP), sebanyak Rp63,2 miliar dan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang dilepas sebanyak Rp36,1 miliar.

Alhasil, saham BABP pada perdagangan hari ini ambruk hingga menyentuh level Auto Reject Bawah (ARB) dengan penyusutan sebesar 6,67% menjadi Rp280 per saham. Hal itu terjadi di tengah pengumuman bahwa BABP baru saja menggandeng salah satu e-commerce terbesar dunia Amazon guna mengembangkan bisnis bank digitalnya.

Meski tekanan jual asing cukup kuat, namun nyatanya indeks saham berhasil mempertahankan lajunya di teritori positif. Hal itu disebabkan oleh optimisme investor asing terhadap pertumbuhan Indonesia yang dirasa bisa menyentuh 5% pada kuartal III 2021.

Selain itu, investor juga kian doyan membenamkan dana di pasar modal setelah melihat kisah sukses Indonesia dalam menekan laju penyebaran COVID-19. Kemarin, pemerintah menyebut bahwa tidak ada lagi zona merah COVID-19 di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia.

Akibatnya, investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) mencapai angka jumbo, yakni Rp1,7 triliun! Hal itu pun bikin IHSG gagal menyentuh zona merah, seperti yang terjadi di awal pekan.

Baca juga: Pasar Sepekan: Indeks Saham AS Lesu, Kripto Mulai Pulih

Menyoal Saham yang Diborong Asing

Beberapa saham yang banyak dikoleksi asing adalah saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) hingga Rp1,3 triliun. BBRI diketahui baru saja menuntaskan aksi korporasi berupa rights issue dengan target dana Rp95,92 triliun.

Meskipun tidak semuanya berupa dana tunai, lantaran ada sebagian dalam bentuk inbreng saham PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM), namun arah bisnis BRI sebagai lembaga keuangan yang fokus pada sektor ultra mikro membawa harapan tersendiri akan moncernya bisnis perusahaan.

Karena itu pula, saham BBRI menjadi saham dengan frekuensi yang paling banyak di perdagangkan, yakni sebanyak 37.592 kali transaksi.

Tak hanya BBRI, asing ternyata juga getol mengoleksi saham emiten unicorn pertama, PT Bukalapak Tbk (BUKA) sebanyak Rp138,1 miliar.

Beberapa analis juga mengatakan, bertahannya laju indeks saham di level 6.140-an didukung oleh kinerja moncer saham-saham sektor energi, khususnya batu bara. Alasannya, kebutuhan batu bara dari Eropa akan meningkat seiring peralihan sumber energi dari gas alam ke batu bara. Permintaan batu bara di benua biru itu juga akan terus menanjak mengingat kebutuhan energi benua biru saat musim dingin biasanya juga melesat.

Implikasinya, beberapa emiten batu bara kecipratan untung. Lihat saja saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang pada perdagangan hari ini melambung 6,01% ke level Rp1.500 per saham. Nasib mujur ADRO juga disusul oleh saham PT Indika Energy Tbk (INDY) yang melesat 11,23% ke level Rp1.535 per saham.

Seakan tidak mau kalah, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga terkerek 1,24% ke level Rp2.450 per saham.

Akhir Tahun, IHSG Masih Sanggup Tembus Rp6.200

Terkait proyeksi pergerakan indeks saham sampai dengan akhir tahun ini, banyak analis yang masih optimistis bahwa laju IHSG masih bisa finish di angka 6.200.

Meksipun diwarnai sentimen gagal bayar Evergrande dan juga tapering yang akan dilakukan The Fed, namun analis menduga kedua faktor itu tidak akan begitu berpengaruh terhadap IHSG. Apalagi, bank sentral cHINA China juga sudah melakukan intervensi terhadap Evergrande untuk mencegah dampak sistemik yang bisa terjadi jika raksasa properti itu mengalami default.

Meskipun begitu, pasar tampaknya masih harus berhati-hati. Sebab, meskipun The Fed belum menunjukkan sinyal jelas untuk menaikkan suku bunga acuan, namun beberapa bank sentral sudah mulai melakukan pengetatan.

Contohnya bank sentral Korea Selatan yang sudah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis pon ke 0,75%. Selain itu, bank sentral Norwegia juga sudah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin ke level 0,25%.

Baca juga: Pekan Ini, Indeks Saham AS dan Bitcoin Kompak Jauhi Bayang-Bayang Obligasi AS

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img