Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Pasar: IHSG Loyo Diterjang Harga Minyak, Profit Taking

Nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi perdagangan Senin (27/9) dengan bertengger di 6.122,49 poin, alias terkoreksi 0,36% dibanding pembukaan perdagangan.

Peristiwa ini menandai kembalinya IHSG ke zona merah setelah menutup pekan lalu secara gemilang. Apa sebenarnya yang terjadi pada pasar modal pada hari ini?

IHSG Melemah Latah Ikuti Saham Asia

Beberapa analis mengatakan, kinerja IHSG hari ini tertular demam pelemahan kinerja yang melanda bursa saham utama Asia. Selain IHSG, indeks saham Shang Hai Composite Index melemah 0,84% sepanjang sesi perdagangan hari ini diikuti oleh nilai indeks saham Jepang Nikkei 225 yang ikut luntur 0,03%.

Rentetan pelemahan ini terjadi karena investor mengkhawatirkan dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap inflasi. Pelaku pasar tentu malas membenamkan dana di pasar modal jika kondisi inflasi meradang.

Ya, harga minyak dunia memang tengah ngamuk. Melansir Reuters, harga minyak dunia memang tengah merangkak ke posisi tertingginya dalam tiga tahun terakhir. Harga minyak acuan Brent berada di level US$79,1 per barel sementara harga minyak West Texas Intermediate sudah menembus US$75 per barel.

Selain itu, pelaku pasar juga masih menanti kepastian terkait keberlangsungan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Setelah membuka kembali tempat wisata dan bioskop, pemerintah dikabarkan akan memperbolehkan kembali resepsi pernikahan dan konser musik seiring melandainya kasus baru COVID-19. Namun, pelaku pasar nampaknya memilih untuk tak termakan rumor tersebut dan menanti pengumuman resmi soal pelonggaran itu malam ini.

Pelemahan IHSG pun tak lepas dari aksi ambil untung yang dilakukan pelaku pasar hari ini. Investor asing, misalnya, mulai melego saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp54,6 miliar, saham PT Unilever Tbk (UNVR) sebanyak 36,1 miliar, saham PT Link Net Tbk (LINK) sebesar Rp16,6 miliar dan saham PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) sebanyak 56 miliar.

IHSG: Investor Asing Doyan Koleksi Saham Big Caps

Meskipun merosot, investor asing masih doyan mengoleksi saham-saham berkapitalisasi pasar jumbo.

Sepanjang perdagangan hari ini, tercatat total net foreign buy mencapai Rp355,71 miliar. Investor asing masih doyan mengoleksi saham PT Bak Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebanyak Rp257,5 miliar, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebanyak 87,8 miliar. Hal ini bikin IHSG setidaknya tidak terkapar parah dalam perdagangan hari ini.

Investor tampaknya sudah mulai kembali beralih ke saham-saham big caps. Setelah sebelumnya saham-saham bank mini kebanjiran rezeki lantaran adanya sentimen bank digital yang membuat beberapa emiten bank tersebut melambung tinggi.

Baca juga: Hingga Lebih dari Rp1 T, Kerugian Banjir Bisnis Ritel Diprediksi Paling Besar

Menanti Aksi Korporasi Bank Mini

Demam bank digital sepertinya masih akan mewarnai sektor perbankan dalam beberapa waktu ke depan. Pasalnya saat ini beberapa bank dengan aset mini dikabarkan akan segera menggelar aksi korporasi berupa penambahan modal dengan skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue.

Mulai dari PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) yang berencana menambah modal inti untuk bisa masuk ke dalam Kelompok Bank Modal Inti 2 (KBMI) dengan modal inti di atas Rp6 triliun hingga Rp14 triliun.

Kemudian, ada juga PT Bank Maspion Tbk (BMAS) yang juga berencana menggelar right issue guna meningkatkan permodalan perusahaan.

Tidak mau ketinggalan, PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) juga berniat menggelar Penawaran Umum Terbatas (PUT) III yang mengincar dana segar sekitar Rp499 miliar.

PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC) juga berniat menggelar aksi korporasi berupa right issue dengan target dana Rp1,5 triliun.

Bank-bank mini tersebut tampaknya bakal unjuk gigi dalam waktu dekat guna bisa melakukan transformasi menjadi bank digital melalui penambahan modal.

PMN Waskita Karya Disetujui

Setelah sekian lama menderita sakit lantaran beban utang yang menggunung, salah satu BUMN Karya PT Waskita Karya bk (WSKT) akhirnya mendapatkan persetujuan dari Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk melaksanakan penambahan modal lewat skema right issue.

Penambahan modal dilakukan melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp7,90 triliun. Dengan adanya aksi korporasi ini, maka ekuitas perusahaan diproyeksi akan bertambah menjadi Rp21,7 triliun dari posisi saat ini yang sebesar Rp9,8 triliun.

Rasio utang terhadap ekuitas alias debt to equity ratio (DER) perusahaan juga akan menyusut menjadi 3,68 kali dari posisi saat ini yang sebesar 6,12 kali.

Mendapat kabar tersebut, pasar langsung meresponnya secara positif. Nilai saham perusahaan konstruksi pelat merah itu langsung naik ke level Rp845 per saham.

Masalah utang memang ibarat isu yang menahun bagi WSKT. Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2019, utang WSKT mencapai Rp93,47 triliun.

Hal itu membuat pergerakan saham perusahaan menjadi tidak seksi. Sejak awal tahun sampai sekarang, saham perusahaan tergelincir 43,67%, dari Rp1.500 per saham ke kisaran Rp800-an per saham.

Baca juga: Udah Kaya Makin Kaya! Harta Orang Kaya Sejagat Nambah US$1,3 T di 2020

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img