Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Pasar: IHSG Rekor Sepanjang Masa, ETF Bitcoin Berkuasa

Meski Indonesia tengah dilanda musim hujan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nampaknya masih bisa menutup sesi perdagangan hari dengan cerah. Betapa tidak, sang indeks domestik berhasil mencetak rekor terbarunya pada hari ini!

Sayangnya, nasib mujur IHSG tak menular ke pasar aset kripto yang hari ini terlihat kebakaran. Seperti apa lengkapnya? Yuk, simak rangkuman pasar berikut!

Harga Komoditas Moncer, IHSG Makin Tokcer

IHSG menutup sesi perdagangan hari ini dengan bertengger di 6.691,34 poin, alias menguat 0,12% dibanding sesi perdagangan sebelumnya. Capaian ini menjadikan nilai IHSG berada di titik tertingginya sejak 19 Februari 2018, yakni 6.689,39 poin.

Sebanyak lima sektor nangkring di zona hijau, misalnya sektor barang konsumen primer yang naik 1,64%, sektor energi yang naik 0,67%, dan sektor keuangan yang naik 0,28%.

Selain itu, geliat harga komoditas energi pun ikut mendorong gerak lincah IHSG. Salah satunya adalah harga timah dunia yang menyentuh rekor tertingginya pada hari ini. Ya, harga timah dunia sempat mencapai US$37.640 per ton pada siang tadi atau naik 0,97% dibanding penutupan perdagangan kemarin.

Selain itu, bangkitnya harga minyak dunia juga menopang gerak langkah IHSG hari ini. Sekadar informasi, harga minyak mentah berjangka Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masing-masing tercatat naik 0,2% ke level US$82,78 per barel dan US$81,52 per barel.

Baca juga: Rangkuman Pasar: IHSG Menghijau, Nilai Litecoin Terus Berkilau

IHSG Naik di Tengah Ambrolnya Indeks Regional

Performa manis IHSG hari ini patut diacungi jempol mengingat beberapa indeks utama terpantau runtuh. Kemarin, trio indeks saham AS, yakni indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA); S&P 500; dan Nasdaq Composite, runtuh setelah data inflasi tahunan AS di 6,3% atau titik tertingginya dalam 31 tahun terakhir.

Bursa saham kawasan Asia pun tak kalah memble. Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,61% ke level 29.106,78 sementara Kospi terjun 1,09% ke level 2.930,17.

Bisa dikatakan, penguatan IHSG sejatinya menunjukkan bahwa pelaku pasar sedikit banyak masih optimistis dengan fundamental makroekonomi Indonesia di tengah gonjang-ganjing ekonomi di negara-negara maju. Kendati demikian, beberapa analis meyakini bahwa kekhawatiran investor akan inflasi AS segera surut.

Investor Asing Borong Saham Rp229,24 Miliar

Hijaunya IHSG hari ini pun tak lepas dari aksi pelaku pasar yang getol memborong saham-saham di pasar domestik. Buktinya, investor asing hari ini mencatat nilai beli bersih mencapai Rp229,24 miliar.

Investor asing terlihat getol memborong saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan juga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masing-masing sebesar Rp119,4 mliliar dan Rp109,3 miliar. Selain itu, mereka juga memborong saham PT Bukalapak Tbk (BUKA) dengan nilai beli bersih asing Rp45,1 miliar.

Di sisi lain, investor asing melepas saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA) dengan nilai jual bersih masing-masing sebesar Rp122 miliar dan Rp26 miliar.

Baca juga: Terdampak Wabah Corona, IHSG Masih Terkapar, Saham Blue Chip Pun Anjlok

ETF Bitcoin Laris Manis bak Kacang Goreng

Di tengah IHSG yang tengah bergaya centil, pasar aset kripto malah terlihat muram.

Bitcoin (BTC), contohnya, bertengger di posisi US$64.638 per keping pada pukul 17.20 WIB alias susut 3,91% dalam sehari terakhir. Sementara itu, pesaing terdekat BTC, Ether (ETH), bertengger di US$4.606,69 per keping atau lunglai 2,87% di periode yang sama.

Meski nilainya sedang tak bergairah, namun investor nampaknya makin melirik Bitcoin sebagai aset instrumen investasi yang sah. Hal itu terlihat dari permintaan investor atas produk Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin yang terlihat membludak.

Cointelegraph melaporkan, produk ETF besutan Proshares, Proshares Bitcoin Strategy ETF (BITO), berhasil menghimpun dana US$112,79 juta dalam sembilan hari terakhir. Nilai tersebut lebih tinggi 2% dibanding rata-rata seluruh himpunan dana ETF yang terdapat di pasar derivatif.

Hanya saja, angka tersebut masih lebih rendah ketimbang arus modal yang dihimpun BITO sebesar US$489,51 juta selama dua hari pasca peluncurannya 19 Oktober silam. Namun, prestasi ini tetaplah tak bisa dipandang sebelah mata mengingat BITO adalah “anak kemarin sore” di pasar derivatif.

Sehingga, jika ditotal, maka nilai aset kelolaan BITO sudah mencapai US$1,4 miliar sejak awal peluncurannya. Nah, apakah produk ETF Bitcoin yang laris manis ini bisa mendongkrak harga sangraja aset kripto ke depan?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img