Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Kabar: APBN 2022 Ekspansif, Perekonomian Jepang Pulih

Mengawali minggu, jagat pemberitaan dipenuhi kabar soal Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2022 hingga data-data perlambatan ekonomi China.

Yuk simak rangkuman kabar hari ini. Salam, Merdeka!

Rangkuman Kabar Dalam Negeri

1. Pemerintah Pasang Postur APBN 2022 Ekspansif

Presiden Joko Widodo mengumumkan nota keuangan berisikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 yang sangat ekspansif dengan defisit mencapai 4,85% Prdouk Domestik Bruto (PDB) atau senilai Rp868 triliun. Dengan demikian, pemerintah berencana untuk membelanjakan uangnya lebih besar ketimbang penerimaannya.

Tahun depan merupakan tahun ketiga defisit melampaui 3%. Kebijakan defisit lebar diambil pemerintah sebagai upaya darurat merespons pandemi COVID-19. Namun, pemerintah berencana untuk kembali menekan defisit di bawah 3% pada 2023 mendatang.

Defisit yang lebar akan membuat pemerintah menambah penerbitan utang. Namun di saat yang sama, kenaikan belanja pemerintah bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ini lantaran belanja pemerintah merupakan satu dari emapt komponen utama pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB).

2. Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 5-5,5% Tahun Depan

Di kesempatan yang sama, Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomidi angka 5-5,5% tahun depan. Alias, lebih rendah ketimbang pembahasan awal yakni 5,2-5,8%.

Target pertumbuhan ekonomi tersebut lebih tinggi ketimbang ramalan IMF untuk pertumbuhan ekonomi global tahun 2022, yakni 4,9%. IMF juga meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan tumbuh 3,9%.

Sikap optimistis pemerintah tersebut bisa menjadi sentimen yang baik bagi investasi. Sebab, investor bisa berharap mendulang cuan lebih baik ketika ekonomi sedang bertumbuh, di mana daya beli masyarakat meningkat dan produksi barang dan jasa kian produktif.

Baca juga: Apa Itu Kebijakan Fiskal?

Rangkuman Kabar: APBN 2022 Ekspansif, Perekonomian Jepang Pulih, Pluang

Kabar Manca Negara

1. Ekonomi Jepang Pulih

Ekonomi Jepang tumbuh 1,3% secara tahunan pada kuartal II-2021, lebih tinggi dari perkiraan pasar 0,7%. Peningkatan ini ditopang oleh permintaan domestik sebesar 0,6% PDB, diikuti dengan peningkatan konsumsi sebesar 0,8% yang sempat turun 1% pada kuartal sebelumnya.

Jepang merupakan salah satu negara mitra dagang Indonesia dengan volume perdagangan mencapai US$24,3 miliar tahun 2020. Kementerian Perdagangan mencatat pada paruh pertama tahun ini terjadi peningkatan volume perdagangan 13,24% secara tahunan dengan surplus perdaganan sebesar US$1,4 miliar.

Pulihnya perekonomian Jepang akan membuat permintaan ekspor ke negara itu turut meningkat sehingga membuka peluang pemulihan permintaan bagi eksportir dalam negeri.

2. Ekonomi China Melambat Diterjang Pandemi dan Bencana Alam

Laju pertumbuhan ekonomi China sudah kembali kepada level sebelum pandemi, namun ternyata lajunya malah melambat menyusul akibat merebaknya kembali COVID-19 dan serangkaian bencana alam.

Otoritas China melaporkan bahwa hasil industri China hanya bertumbuh 6,4% secara bulanan di Juli, lebih lambat ketimbang Juni yakni 8,3%.

Perlambatan juta tampak pada penjualan ritel yang hanya tumbuh 8,5% secara bulanan di Juli, jauh melambat dibandingkan 12,1% di Juni. Perlambatan ini diprediksi akan terus berlanjut menyusul kebijakan ketat pemerintah China dalam merespons Covid 19.

Melemahnya hasil industri China tentu akan mempengaruhi laju perekonomian dunia mengingat negara tirai bambu ini menyumbang 18% PDB global.

3. Pasar Kripto Tembus US$ 2 triliun Berkat Bitcoin

Pemulihan harga Bitcoin menembus US$48.000 per keping telah membantu kapitalisasi pasar aset kripto kembali menyentuh US$2 triliun, sama seperti empat bulan lalu.

Salah satu faktor pendorongnya adalah sentimen RUU pendanaan infrastruktur yang telah disetujui senat AS. RUU tersebut membuat komunitas kripto berpandangan bahwa industri uang digital ini telah menjadi industri serius yang mendapat perhatian pemerintah.

Sebagaimana diketahui, Bitcoin sempat menyentuh harga US$ 64.000 pada Mei lalu. Namun sejumlah isu dan dinamika membuat sentimen negatif yang membuat nilainya terus terkoreksi hingga lebih dari separuhnya.

Sumbeh: CNBC, Kementerian Perdagangan, Antara, Reuters, Kementerian Keuangan

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img