Bank of Japan Akan Kucurkan Stimulus, Siap Beli Obligasi Rp2.883 T

Rupiah berpotensi menguat begitu peroleh momentum positif berkat rencana stimulus tambahan Bank Sentral Jepang. Bank of Japan mempertimbangkan stimulus pembelian obligasi tanpa batas.

Stimulus pembelian obligasi tanpa batas ini ditujukan agar biaya pinjaman tetap rendah sementara Indonesia berusaha keluar dari krisis ekonomi lantaran pandemi.

bank of japan

Laporan Reuters pada Senin (27/4) petang umumkan bahwa langkah Bank of Japan ini sejalan dengan kebijakan bank sentral utama lainnya. Bank Sentral Jepang memberi dukungan moneter demi hindari terjadinya resesi global yang tajam.

Bank of Japan bahkan juga memangkas perkiraan ekonominya. Yakni, dengan proyeksi inflasi akan jatuh jauh di bawah target 2% selama tiga tahun ke depan.

“Ekonomi Jepang kemungkinan akan tetap dalam situasi saat ini karena dampak dari penyebaran COVID-19 di dalam dan luar negeri,” ujar perwakilan Bank of Japan dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: FOMC: Pengaruhnya pada Kebijakan Moneter AS dan Pasar Keuangan Dunia

Kebijakan Bank of Japan dukung situasi ekonomi tetap kondusif dan cegah resesi yang tajam

bank sentral jepang

Demi menjaga pasar tetap kondusif, Bank of Japan memperbesar stimulus moneter pada Senin (27/4). Caranya, lewat pembelian obligasi dalam jumlah tak terbatas untuk menjaga biaya pinjaman tetap rendah.

Bank of Japan rencanakan akan meningkatkan jumlah maksimum pembelian obligasi korporasi dan utang komersial hingga tiga kali lipat, yakni sebesar JPY 20 T (USD 186 M, Rp2.883 dengan asumsi kurs Rp15.500/dolar AS).

Selain itu, bank sentral ini juga mengklarifikasi komitmen untuk membeli obligasi pemerintah dalam jumlah tak terbatas dengan menghapus aturan pembelian obligasi pemerintah secara tahunan dengan nilai sebesar JPY 80 T.

“Bank of Japan akan membeli jumlah obligasi pemerintah yang diperlukan tanpa menetapkan batas atas sehingga imbal hasil (yield) obligasi 10 tahun akan tetap sekitar 0%.”

Dengan demikian, BoJ mempertahankan target suku bunga tidak berubah, seperti yang diperkirakan secara luas.

Berdasarkan kebijakan kontrol kurva hasil, pihak BoJ menargetkan suku bunga jangka pendek pada level -0,1% dan imbal hasil obligasi 10 tahun sekitar 0%.

Bank of Japan juga membeli obligasi pemerintah dan aset berisiko untuk memompa secara agresif perputaran uang ke perekonomian Jepang.

Baca juga: 8 Strategi Investasi Hadapi Bear Market Lantaran Pandemi COVID-19

Langkah simbolis Bank of Japan hapus aturan batas pembelian obligasi

nilai tukar rupiah terhadap dolar as

Upaya Bank of Japan dalam menghapus aturan tentang batas atas pembelian obligasi terbilang sebagai langkah simbolis.

Sebelumnya, Bank of Japan hanya membeli kurang dari JPY 20 T per tahun. Karena masuknya bank sentral di pasar memungkinkan untuk mengontrol imbal hasil (yield) dengan pembelian obligasi yang lebih sedikit.

Selanjutnya, pihak Bank of Japan akan mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan keputusan kebijakan pada pukul 3:30 waktu Tokyo.

Di dalam negeri, pemerintah Jepang telah terapkan skala keadaan darurat lebih ketat dan diperluas. Warga diminta untuk tinggal di rumah dan menutup berbagai bisnis.

Untuk meringankan tekanan ekonomi ini, pemerintah juga menggelontorkan stimulus belanja yang tembus rekor JPY 1,1 T. Sebelumnya, pemerintah Jepang juga telah menggelontorkan stimulus sekitar JPY 500 M (Rp70,1 T).

Sementara itu, biaya pendanaan (cost of fund) perusahaan naik di Jepang, terlepas keputusan Bank of Japan untuk mendorong pembelian aset berisiko. Ini meliputi obligasi korporasi dan surat utang komersial lainnya.

Sumber: Investing.com, Katadata, CNBC Indonesia

Simak juga:

Tujuh Langkah Mencapai Kebebasan Finansial

Niat Jadi Kolektor Lukisan Pemula? Ketahui Dulu Risiko Investasinya di Sini!

Pengin Bikin Start-up? Ini 5 Strategi Awal yang Harus Kamu Ketahui

Tetap Bisa Traveling Saat Kantong Tipis dengan 9 Trik Ini!

Menyulap Hobi Menjadi Bisnis dengan 7 Trik Andalan Ini!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img