Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Pasar: IHSG dan Emas Di Ujung Tanduk Gara-Gara Tapering

Nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga emas sama-sama melemah di hari ini. Niatan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, untuk melangsungkan kebijakan tapering ternyata bikin kinerja kedua pasar tersebut jumpalitan pada hari ini.

Sobat Cuan bisa menyimak rangkuman performa keduanya di ringkasan pasar berikut.

IHSG Terpeleset ke Zona Merah

Nilai IHSG berada di posisi 6.058,08 poin pada penutupan perdagangan Kamis (26/8), melemah 0,9% dibanding posisi pembukaan perdagangan.

Lesunya performa IHSG hari ini dipicu oleh aksi investor yang getol melakukan aksi jual. Hal itu tercermin dari nilai jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp273,46 miliar pada hari ini.

Langkah investor itu dipicu oleh kekhawatiran mereka terkait wacana tapering The Fed, yang nampaknya kian menjadi nyata menjelang simposium nasional The Fed pada Jumat (27/8). Investor meyakini bahwa Ketua The Fed Jerome Powell akan memberi sinyal soal tapering pada perhelatan tersebut.

Jika The Fed jadi melaksanakan tapering, maka hal itu akan berdampak buruk bagi kinerja pasar modal Indonesia.

Dalam kebijakan tapering, The Fed akan mengurangi pembelian instrumen surat berharga. Akibatnya, persediaan Dolar AS akan mengetat, dan tentu saja akan menaikkan nilai Dolar AS. Di saat-saat tersebut, pelaku pasar tentu akan menarik dananya dari pasar modal dan cenderung memilih menggenggam Dolar AS.

Di samping itu, kebijakan tapering biasanya akan diikuti oleh kenaikan suku bunga acuan. Hal itu akan mengerek suku bunga produk perbankan, sehingga investor akan memilih menyimpan uangnya. Alhasil, arus dana keluar (capital outflow) dari pasar modal Indonesia akan tak terbendung.

Keyakinan pelaku pasar ihwal rencana tapering The Fed kian santer setelah bank sentral beberapa negara lain melakukan kebijakan pengetatan moneter. Bank of Korea, misalnya,  pada hari ini mengumumkan kenaikan suku bunga acuannya sebesar 0,75% setelah melihat tingkat inflasi yang selalu di atas ekspektasi sejak Januari lalu.

Selain itu, pelemahan IHSG juga disebabkan oleh minimnya data ekonomi domestik yang bisa bikin investor bergairah membenamkan dananya di pasar modal Indonesia.

Baca juga: Rangkuman Pasar: IHSG Lemah Akibat Profit Taking, Emas Tersenyum

Ringkasan Saham Hari Ini

Dalam perdagangan hari ini, tiga saham yang mengalami persentase pertumbuhan nilai tertinggi adalah:

  1. PT Sentral Mitra Informatika Tbk (LUCK) (tumbuh 35%)
  2. PT Megapower Makmur Tbk (MPOW) (tumbuh 34,7%)
  3. PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK) (tumbuh 34,7%)

Sementara itu, tiga saham yang mengalami persentase penurunan terbesar pada hari ini adalah:

  1. PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) (turun 9,76%)
  2. PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR) (turun 9,71%)
  3. PT Berlina Tbk (BRNA) (turun 6,99%)

Di sisi lain, tiga saham yang paling aktif diperdagangkan pada hari ini (dari segi frekuensi) adalah:

  1. PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) (48.317 kali transaksi)
  2. PT Bank MNC Bank Tbk (BABP) (47.651 kali transaksi)
  3. PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) (45.128 kali transaksi)

Harga Emas Masih Tiarap Hari Ini

Sama seperti IHSG, harga emas ternyata juga lunglai pada hari ini. Harga sang logam mulia pada Kamis (26/8) pukul 17.00 WIB bertengger di posisi US$1.786,16, melemah 0,45% dibanding posisi yang sama sehari sebelumnya.

Pelemahan harga emas hari ini disebabkan oleh aksi investor yang ragu-ragu masuk ke pasar emas lantaran menanti sinyal dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed, terkait kebijakan tapering. Pelaku pasar meyakini bahwa pejabat otoritas moneter AS akan memberi petunjuk soal tapering pada simposium nasional The Fed yang berlangsung Jumat (27/8).

Jika The Fed melontarkan komentar soal tapering, maka hal tersebut akan menghujam harga kinerja harga emas. Apa alasannya?

Tapering adalah kebijakan The Fed dalam mengurangi pembelian instrumen surat berharga. Kebijakan tersebut akan bikin persediaan dolar AS beredar kian mengetat, sehingga bikin nilai tukarnya terhadap mata uang lain ikut menanjak. Nah, di saat-saat seperti ini, investor tentu akan lebih tertarik menggenggam Dolar AS dan melepas emas.

Di samping itu, mereka yang jarang bertransaksi menggunakan Dolar AS akan membeli harga emas lebih mahal ketika nilai Dolar AS menanjak. Akibatnya, permintaan emas akan berkurang, harganya pun semakin terjengkang.

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img