Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Pasar: IHSG Ambruk Akibat Isu Tapering dan Hang Seng

Nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertengger di posisi 6.076,31 poin, tersungkur 0,93% dibanding posisi pembukaan perdagangan hari ini. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi dengan pasar saham domestik hari ini? Sobat Cuan bisa menyimak penjelasannya di rangkuman pasar berikut!

IHSG Tumbang Gara-Gara Isu Tapering dan Rubuhnya Hang Seng

Beberapa analis menilai, tumbangnya IHSG hari ini disebabkan oleh reaksi investor atas antisipasi pengumuman kebijakan moneter tapering yang akan dilancarkan oleh bank sentral Amerika Serikat The Fed. Ya, kini pelaku pasar seantero dunia menanti apakah otoritas moneter tersebut benar-benar akan mengumumkan aksi tersebut dalam rapat komite pasar terbuka federal (FOMC) Selasa dan Rabu pekan ini.

Jika hasil yang disampaikan The Fed sesuai ekspektasi pelaku pasar, kuat kemungkinan laju indeks saham bakal lebih terjungkal. Apalagi sinyal-sinyal The Fed untuk melancarkan aksi tersebut cukup santer seiring data inflasi AS Agustus yang masih meradang plus data penjualan ritel yang mengejutkan.

Tak hanya itu, lunglainya kinerja indeks domestik hari ini juga dipengaruhi oleh ambruknya indeks harga saham acuan Bursa Hong Kong atau Indeks Hang Seng yang amblas 3,3% pada sesi perdagangan hari ini.

Hang Seng ditutup melemah lantaran derasnya aksi panic selling yang dilakukan oleh investor. Namun hal itu dilakukan bukan tanpa alasan. Info yang beredar menyebutkan bahwa salah satu raksasa properti di China, Evergrande dikabarkan tengah mengalami kesulitan finansial. Padahal Evergrande memiliki kewajiban senilai US$305 miliar atau sekitar Rp4.300-an triliun.

Pasar langsung meresponsnya secara negatif. Maklum, dengan kewajiban sebesar itu, maka diprediksi akan ada banyak sektor usaha yang terseret, seperti sektor perbankan. Alhasil, ambruknya salah satu bursa saham terkuat di Asia itu membawa kekhawatiran terhadap kinerja bursa saham yang berada di kawasan Asia.

Baca juga: Hingga Lebih dari Rp1 T, Kerugian Banjir Bisnis Ritel Diprediksi Paling Besar

Fundamental Dalam Negeri Masih Tangguh

Meskipun harus menghadapi beberapa sentimen negatif dari luar negeri, beberapa analis optimistis bahwa indeks saham tanah air masih kuat secara fundamental untuk menghadapinya. Beberapa data ekonomi juga sudah memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan.

Mulai dari angka penjualan kendaraan bermotor roda empat secara tahunan yang tumbuh 123% di bulan lalu dan 48,2% untuk penjualan kendaraan roda dua. Angka tersebut menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat sudah jauh lebih baik dibanding tahun 2020 lalu.

Kemudian, terdapat pula hasil rilis neraca perdagangan Indonesia yang mengalami lonjakan US$4,74 miliar di Agustus lalu.

Jangan juga lupa bahwa Universitas John Hopkins juga mendapuk Indonesia sebagai salah satu negara terbaik yang menangani pandemi COVID-19 di dunia. Penilaian itu disandarkan pada kemampuan Indonesia menurunkan kasus positif COVID-19 sebanyak 58% hanya dalam waktu dua minggu.

Beberapa katalis tersebut diharapkan mampu menahan terjangan sentimen yang berasal dari eksternal.

Aksi Jual IHSG Terbilang Deras

Meski begitu, dalam perdagangan hari ini, tekanan aksi jual yang dilakukan oleh investor asing tetap mengalir deras.

Kali ini, asing banyak melepas saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebanyak Rp166,5 miliar, diikuti saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang dilego sebnayak Rp35,1 miliar dan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebanyak Rp27,6 miliar.

DI sisi lain, investor asing banyak memborong saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebanyak Rp199,4 miliar, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) sebanyak Rp50,4 mliar dan saham PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) sebanyak Rp45,7 miliar.

Adanya diversifikasi usaha yang dilakukan oleh ASSA lewat jalur logistik menjadi salah satu alasan bagi investor asing untuk membenamkakn dananya di saham perusahaan. Ya, Adi Sarana Armada merupakan pemilik perusahaan logistik, Anteraja melalui anak usahanya, PT Tri Adi Bersama.

Kemudian, saham PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) ramai ditransaksikan pelaku pasar setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan melakukan partial delisting BBKP milik Koperasi Perkayuan Apkindo (Kopkapindo) dan PT Bosowa Corporindo sebanyak 514.121.700 saham pada hari ini.

Bahkan, saham Bukopin juga masuk dalam posisi tiga teratas daftar saham dengan frekuensi transaksi terbanyak, yakni sekitar 38.853 kali.

Rupiah Masih Stabil

Nah membincang nilai tukar rupiah, pada perdagangan awal pekan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih stabil di level Rp14.250.

Mengacu pada data kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah sedikit melemah 0,13% dibanding posisi perdagangan di akhir pekan lalu yang berada di level Rp14.233 per dolar AS.

Baca juga: Rangkuman Pasar: IHSG Bergerak Stagnan Akibat Profit Taking

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img