Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Kabar: Jokowi Wanti-Wanti Ekonomi Kuartal III, The Fed Beri Sinyal Tapering

Hari Selasa (10/8) berisikan kabar yang optimistis, namun juga pesimistis, baik dari dalam maupun luar negeri. Sobat Cuan bisa membaca ringkasannya pada rangkuman kabar berikut ini:

Rangkuman Kabar Dalam Negeri

1. Penjualan Ritel Indonesia Naik di Juni, Diramal Anjlok di Juli

Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2021 tumbuh 2,5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, di laporan yang sama, otoritas moneter itu menaksir bahwa IPR akan turun drastis 6,2%.

Dalam laporan yang dirilis Selasa tersebut, BI mengatakan bahwa penjualan ritel pada Juni naik lantaran kegiatan ekonomi yang dirasa mulai normal. Namun, penjualan ritel diprediksi akan turun di Juli seiring berhentinya kegiatan ekonomi akibat merebaknya kasus COVID-19 varian Delta di Indonesia.

Indeks penjualan riil adalah survei BI yang bertujuan melihat selera konsumsi masyarakat. Jika angkanya turun, maka ada kemungkinan masyarakat akan menahan konsumsinya.

Hal tersebut, tentu saja akan menahan laju pertumbuhan ekonomi, mengingat konsumsi adalah satu dari empat komponen utama pembentuk pertumbuhan ekonomi.

2. Presiden Jokowi: Kondisi Ekonomi Kuartal III Akan Lebih Berat

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mewanti-wanti bahwa kondisi ekonomi akan lebih berat pada kuartal III tahun ini. Alasannya, kegiatan ekonomi di kuartal III menjadi berhenti kembali lantaran pemerintah harus kembali membatasi pergerakan sosial akibat penularan kasus COVID-19 varian Delta.

“Ketahuan awal bulan Juli, varian delta telah memaksa kita untuk memperketat mobilitas masyarakat. yang tentu saja berdampak pada ekonomi nasional kami. Hal ini yang harus diwaspadai, termasuk oleh pasar modal,” ujar Jokowi, Selasa (3/8).

Dengan demikian, maka ia mewanti-wanti bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal III bisa jadi lebih rendah dibanding capaian kuartal II yang mencapai 7,07% secara tahunan.

Ramalan pertumbuhan ekonomi yang melandai akan membuat investor sedikit ragu berinvestasi di Indonesia. Sebab, investor bisa berharap cuan yang lebih sedikit ketika ekonomi mulai mengalami kontraksi.

3. Pemerintah Bebaskan Pajak Rumah Hingga Desember

Pemerintah memperpanjang pemberian insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bagi pembelian rumah baru hingga Desember mendatang. Tadinya, kebijakan ini hanya berlaku hingga Agustus tahun ini.

Di dalam kebijakan tersebut, pemerintah akan membebaskan PPN 100% atas pembelian rumah tapak atau rumah susun dengan harga jual paling tinggi Rp2 miliar. Selain itu, pemerintah akan membebaskan PPN sebesar 50% bagi tipe hunian yang sama dengan harga jual di atas Rp2 miliar hingga Rp5 miliar.

Pembebasan pajak adalah salah satu instrumen pemerintah untuk meningkatkan konsumsi masyarakat. Peningkatan konsumsi akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Terlebih, konsumsi memegang peranan 57,23% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di kuartal II lalu.

Rangkuman Kabar: Jokowi Wanti-Wanti Ekonomi Kuartal III, The Fed Beri Sinyal Tapering, Pluang

Rangkuman Kabar Manca Negara

1. The Fed (Kembali) Berikan Sinyal Tapering

Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic mengatakan bahwa dirinya menginginkan The Fed untuk mulai melancarkan aksi tapering pada kuartal IV mendatang. Ia beralasan dirinya, beserta Presiden The Fed Richmond Tom Barkin, memandang bahwa data inflasi AS selama ini sudah melebihi target 2%.

Tapering akan membuat suplai dolar AS mengetat, yang ujungnya akan membuat nilainya semakin mahal. Hal ini akan bisa berdampak buruk bagi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Tingginya nilai dolar AS membuat Indonesia harus membayar barang impor lebih mahal, sehingga neraca perdagangan harus berjibaku untuk mencatat surplus.

2. Lembaga Keuangan Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi China

Lembaga keuangan top dunia, JP Morgan dan Morgan Stanley, telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China hingga akhir tahun nanti.

Di akhir 2021, JP Morgan meramal ekonomi China hanya akan tumbuh 8,9% atau lebih rendah dari proyeksi awal 9,1%. Sementara itu, Morgan Stanley meramal ekonomi China di akhir 2021 di angka 8,3%, turun dari prediksi awal yakni 8,6%.

Kedua lembaga tersebut beralasan bahwa regulasi restriktif pemerintah China di sebagian sektor ekonomi plus merebaknya COVID-19 varian Delta menjadi penyebab turunnya proyeksi tersebut.

Ekonomi China yang diproyeksikan melemah akan berdampak besar bagi ekonomi dunia. Sebab, ekonomi China berkontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi global. Pada 2020 lalu, ekonomi China berkontribusi 17% terhadap produk domestik bruto global.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img