Currently set to Index
Currently set to Follow

JPMorgan: Harga Bitcoin Bisa Naik dan Sentuh Rp1,8 Miliar

Harga Bitcoin masih menunjukkan keperkasaannya setelah naik terus dan reli panjang pada akhir pekan lalu. Meski belum menembus posisi US$60.000, namun kini harga Bitcoin masih tetap kuat di kisaran US$58.000 per keping. Hanya saja, beberapa investor tetap ancang-ancang kalau seumpama terjadi fluktuasi harga Bitcoin yang kencang di kemudian hari.

Namun nampaknya, investor Bitcoin tak perlu khawatir bahwa harganya akan anjlok di jangka panjang. Beberapa analisis terbaru menunjukkan bahwa harga Bitcoin akan terus naik. Bahkan, perusahaan investment bank sekelas JPMorgan baru-baru ini memprediksi bahwa harga Bitcoin akan mencapai US$130.000, atau Rp1,8 miliar, dalam jangka panjang.

Hal itu disampaikan oleh tim analis JPMorgan yang dipimpin oleh Nikolaos Panigirtzoglou dalam memonya kepada investor beberapa waktu lalu. Menurutnya, harga Bitcoin bisa mencapai level tersebut asal volatilitas harganya bisa mendekati emas.

“Dengan mempertimbangkan banyaknya investasi ke emas, maka logam mulia tersebut bisa mengalami crowding out [kondisi di mana pelaku investasi tak bisa masuk ke pasar]. Alhasil, mereka akan mencari mata uang “alternatif”, di mana hal tersebut bisa menopang kinerja Bitcoin dalam jangka panjang,” tulis tim analis JPMorgan di dalam memo tersebut.

Baca juga: Sempat ‘Serang’ Bitcoin, Kini JPMorgan Anjurkan Investor Taruh Dana di Aset Kripto

JPMorgan: Harga Bitcoin Bisa Naik dan Sentuh Rp1,8 Miliar, Pluang

Harga Bitcoin Naik Karena Fluktuasi Stabil

JPMorgan mendasarkan analisisnya terhadap temuan bahwa tingkat volatilitas Bitcoin dalam enam bulan kian stabil. Yakni, mendekati titik 73%. Titik ini menunjukkan adanya tanda-tanda tentatif bahwa volatilitas harga Bitcoin kian membaik. Kondisi ini pun akan membuat investor yakin untuk membanjiri pasar Bitcoin.

Kemudian, JPMorgan juga beralasan bahwa volatilitas harga yang tinggi akan menjadi batu sandungan bagi investor institusi untuk mengadopsi Bitcoin.

Namun, investor institusi nampaknya masih gemar mengoleksi Bitcoin. Setelah Tesla mengumumkan akan menempatkan US$1,5 miliar di Bitcoin, banyak perusahaan lain yang mengikuti jejak serupa. Misalnya, perusahaan manajemen aset asal Inggris Ruffer dan perusahaan asuransi MassMutual yang juga telah memborong Bitcoin setelah Tesla.

Selama ini, tindak-tanduk investor institusi Bitcoin selalu menjadi motor penggerak utama harga Bitcoin. Salah satunya, adalah pengumuman investasi Tesla, yang langsung menggerakkan harga Bitcoin ke titik US$47.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah di Februari lalu.

Namun, JPMorgan mengatakan bahwa momen bullish harga Bitcoin masih akan berlangsung. “Secara mekanis, harga Bitcoin harus naik ke US$130.000 untuk menyamai nilai investasi sektor swasta di emas,” imbuh JPMorgan.

JPMorgan Masih Skeptis dengan Bitcoin?

Dengan memo tersebut, maka JPMorgan telah merevisi prediksinya yang dibuat pada Januari lalu. Perusahaan itu sempat menyebut bahwa harga Bitcoin bisa menyentuh US$146.000, atau Rp2 miliar, di jangka panjang. Asal, nilai kapitalisasi pasar bisa menyamai emas.

Saat ini, nilai kapitalisasi pasar emas berada di kisaran US$10 triliun. Dengan nilai kapitalisasi pasar Bitcoin sebesar US$1,98 triliun saat ini, maka Bitcoin harus mengembangkan kapitalisasi pasarnya lima kali lipat.

Namun, setelahnya, JPMorgan seolah-olah memiliki pandangan skeptis terhadap Bitcoin.

Beberapa waktu lalu, Panigirtzoglou sangsi bahwa perusahaan-perusahaan akan menambahkan Bitcoin ke neraca keuangan mereka lantaran “menambahkan alokasi Bitcoin 1% akan meningkatkan volatilitas portofolio keuangan mereka secara keseluruhan.”

“Terlepas dari berapa banyak perusahaan yang akhirnya mengikuti contoh Tesla, tidak ada keraguan bahwa hal itu akan memperkuat tindakan spekulatif melalui Bitcoin berjangka serta aliran investasi ritel,” tulisnya.

Tak hanya itu, JPMorgan juga pernah menulis bahwa Bitcoin adalah “aset lindung nilai terburuk”.

Baca juga: JPMorgan Sebut Harga Bitcoin Bisa Tembus Lebih dari Rp2 Miliar

Harga Bitcoin Naik ke US$100.000 Bukan Hal yang Tidak Mungkin

Namun, kini pemain jasa keuangan kelas kakap di Amerika Serikat mulai mempercayai kenaikan harga Bitcoin dalam waktu dekat. Selain JPMorgan, perusahaan manajemen investasi bonafit AS BNY Mellon baru-baru ini juga mengatakan bahwa prediksi harga Bitcoin sebesar US$100.000 pada Juli mendatang adalah hal yang “dapat dipahami”.

Pernyataan itu dituangkan dalam laporan pekan lalu. Pernyataan itu dikeluarkan BNY Mellon setelah melihat bahwa prediksi harga Bitcoin sebesar US$100.000 menggunakan teori stock-to-flow model masih dapat dimaklumi — meski banyak kelemahannya.

Adapun analisis stock-to-flow adalah metode kalkulasi harga Bitcoin perdasarkan jumlah komoditas beredar (stock) yang dibandingkan dengan jumlah produksinya (flow) dalam satu jangka waktu tertentu. Dalam memprediksi harga Bitcoin, analis tidak hanya memperhitungkan jumlah aset beredar dan angka produksinya. Namun, juga memperhatikan fenomena halving.

Halving sendiri adalah sebuah kondisi di mana penambang Bitcoin akan menerima penurunan imbal hasil (block reward) sebesar 50% dalam jangka empat tahun sekali. Kondisi ini akan menurunkan pasokan Bitcoin dan membuat raja aset kripto tersebut kian langka di pasaran.

“Model prediksi menggunakan stock-to-flow merupakan salah satu valuasi harga Bitcoin yang menarik dan mudah dipahami meski banyak kekurangannya. Namun, seiring waktu, valuasi Bitcoin akan terbentuk dari kombinasi beberapa model yang akan terus berevolusi,” tulis BNY Mellon.

Tidak mau ketinggalan cuan Bitcoin? Ayo, investasi di Pluang Aset Kripto!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Forbes, Forbes

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img