Currently set to Index
Currently set to Follow

Kabar Sepekan: Ekonomi AS dan China Loyo, Inflasi RI Tiarap

Spekulasi soal kebijakan tapering The Fed masih mendominasi kabar ekonomi sepekan terakhir. Tapi untungnya, ekonom dan analis mulai percaya bahwa The Fed tidak akan melancarkan hal tersebut karena data-data teranyar menunjukkan pelemahan laju perekonomian di Amerika Serikat.

Masih ada beberapa kabar lain yang sayang kalau dilewatkan. Yuk, simak sembari menutup pekan di awal September!

Baca juga: Kabar Sepekan: Spekulasi Tapering Kuat, RI Tebar Insentif Pasar Modal

Rangkuman Kabar Sepekan

1. Amerika Serikat Serap Sedikit Tenaga Kerja Baru

Biro Statistik Amerika Serikat (BLS) merilis bahwa dunia usaha AS “hanya” mampu menyerap tenaga kerja baru sebanyak 235.000 saja sepanjang Agustus. Capaian ini anjlok drastis ketimbang Juli yakni 943.000 tenaga kerja baru dan lebih rendah dari prakiraan analis yakni 750.000.

Rendahnya penyerapan tenaga kerja AS disebabkan oleh terhentinya kegiatan ekonomi akibat penyebaran COVID-19 Delta yang kian merajalela di negara adidaya tersebut.

Apa Implikasinya?

Penurunan penyerapan tenaga kerja adalah salah satu indikasi kunci bahwa perekonomian AS masih belum pulih seutuhnya setelah diterjang gelombang pandemi COVID-19. Sehingga, ada kemungkinan pemerintah AS dan bank sentral AS The Fed masih akan meneruskan kebijakan stimulusnya demi memulihkan kembali ekonomi.

Selain itu, kondisi tersebut tentu bikin pelaku pasar kembali bertanya-tanya, apakah bank The Fed benar-benar jadi melancarkan aksi tapering dalam waktu dekat.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kepastian mengenai tapering tentu sangat dinanti. Sebab, tapering bisa mengancam stabilitas pasar modal dan moneter domestik, seperti terjadi 2013 silam.

2. Ikutan The Fed, BI Ketatkan Kebijakan Moneter Tahun Depan

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkap tahun depan BI akan mengetatkan kebijakan moneternya secara bertahap. Ia memproyeksikan bahwa suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-7 Days Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) akan naik di akhir 2022.

Sejak 2020 sampai dengan 27 Agustus 2021 BI telah menyuntikkan likuiditas kepada perbankan Rp844,5 triliun atau setara 5,3% Produk Domestik Bruto (PDB). Langkah quantitative easing oleh BI ini menyebabkan longgarnya likuiditas hingga rasio Alat Likuid berbanding Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) mencapai 34%.

Proyeksi pengetatan kebijakan moneter nantinya tetap mempertimbangkan stabilitas makroprudensial dan bauran kebijakan moneter dan fiskal. Saat ini BI-7DRRR berada pada level 3,5%.

Apa Implikasinya?

Pengetatan kebijakan moneter Bank Indonesia bisa menekan jumlah uang beredar yang berdampak pada tingkat inflasi tahun depan. Namun, langkah ini berpotensi menghambat laju pemulihan ekonomi jika dilakukan tanpa pertimbangan yang matang.

Selain itu, kenaikan suku bunga acuan tahun depan juga berpotensi meningkatkan suku bunga pinjaman. Sehingga, masyarakat akan lebih senang menabung ketimbang menginvestasikan uangnya. Hal itu akan bikin perbankan kebanjiran likuiditas dan masyarakat enggan memanfaatkan kredit untuk konsumsi atau ekspansi usaha, dua faktor utama pendukung pertumbuhan ekonomi.

Karenanya, BI memastikan bahwa timing tapering versi BI akan dilakukan dengan mempertimbangkan kebijakan sektor lain.

Baca juga: Kabar Sepekan: Spekulasi Tapering Kuat, RI Tebar Insentif Pasar Modal

Kabar Sepekan: Ekonomi AS dan China Loyo, Inflasi RI Tiarap, Pluang

3. Inflasi Rendah, Rakyat Indonesia Mulai Kurangi Konsumsi?

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulanan Agustus sebesar 0,03%. Angka ini melandai dibandingkan inflasi bulanan Juli sebesar 0,08%.

Penyumbang inflasi terbesar adalah kelompok pendidikan menyusul masuknya tahun ajaran baru yakni 1,2% secara bulanan dengan andil 0,07. Sementara itu, kelompok makanan, minuman dan tembakau yang memiliki andil lebih besar yakni 0,08 mengalami deflasi 0,32%.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Indonesia Siap Pensiun dari Negara Konsumtif

Apa Implikasinya?

Inflasi yang rendah mencerminkan merosotnya daya beli masyarakat yang tengah terhimpit pandemi. Kesimpulan ini berdasarkan pada kebijakan moneter Bank Indonesia yang sudah sangat longgar, yakni dengan menerapkan bunga acuan rendah dan terus menerus membeli surat utang pemerintah sebagai bentuk stimulus tambahan untuk menambah jumlah uang beredar.

Namun, level inflasi bergeming hampir separuh dari target. Artinya, kelonggaran jumlah uang beredar sekalipun tidak mampu mengerek daya beli masyarakat. Apalagi, bahan makanan yang sebetulnya adalah kebutuhan pokok malah mengalami deflasi.

Level inflasi yang rendah ini harusnya jadi peringatan keras kepada otoritas terkait untuk lebih memutar otak dalam mengungkit perekonomian. Apalagi, tingkat konsumsi adalah komponen utama yang membentuk Produk Domestik Bruto (PDB).

Sebagaimana diketahui, ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 tumbuh sebesar 7,07% secara tahunan, di mana konsumsi rumah tangga menyumbang 3,17% atau hampir separuh dari pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, konsumsi rumah tangga memegang 55,07% dari PDB.

Namun, secara terpisah, Presiden Joko Widodo mengumumkan arah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan akan bergeser dari tumpuan konsumsi rumah tangga kepada sektor produksi dengan meningkatkan investasi dan belanja modal.

4. Indeks Manufaktur Jadi Sorotan Kabar Sepekan

Awal bulan adalah saat bagi lembaga IHS Markit untuk merilis data indeks manufaktur negara-negara di dunia. Terdapat negara yang mengalami penurunan nilai indeks manufaktur, namun perbaikan skor juga terjadi di beberapa negara lainnya.

Indeks manufaktur Indonesia akhirnya mengalami kenaikan setelah turun dua bulan berturut turut. Pada Agustus 2021, PMI tercatat menjadi 43,7 atau naik dibanding Juli 40,1.

Gangguan seputar produksi dan penumpukan pekerjaan di industri manufaktur membuat tekanan harga di bulan Agustus. IHS memandang bahwa merosotnya PMI Indonesia merupakan dampak dari gelombang kedua COVID-19.

Di sisi lain, indeks manufaktur China harus nyusruk di bulan yang sama. IHS Markit mencatat, indeks produksi barang dan jasa China (Purchasing Managers Index/PMI) Agustus di angka 56,7, menurun tajam dibanding 54,9 di Juli.

Survei menunjukkan bahwa sektor jasa di China lebih lamban pulih ketimbang sektor manufaktur. Namun, peningkatan daya beli beberapa waktu belakangan cukup membantu sektor jasa untuk pulih.

Apa Implikasinya?

Indeks manufaktur merupakan cerminan produktivitas industri. Sehingga, jika indeks manufaktur meningkat, maka artinya produksi manufaktur domestik tengah membaik. Begitu pun sebaliknya.

Bagi Indonesia, kenaikan PMI mengindikasikan perekonomian sudah mulai bergerak kembali. Kenaikan produksi manufaktur juga bisa mengerek nilai ekspor dan memicu pelaku swasta untuk ekspansi usaha. Sehingga nantinya, pertumbuhan ekonomi bisa bergantung pada kegiatan ekspor dan investasi, tidak lagi bertumpu pada konsumsi dan pengeluaran pemerintah semata.

Peningkatan ini masih perlu diapresiasi meski indeks manufaktur Indonesia belum melewati level 50, yakni tingkatan di mana industri manufaktur memasuki fase agresif.

Sementara itu bagi China, produktivitas yang menurun akan mengancam pertumbuhan ekonomi negara tirai bambu tersebut. Perlambatan ekonomi China akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global mengingat 8% ekonomi dunia disumbang China.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img