Currently set to Index
Currently set to Follow

Kabar Sepekan: Spekulasi Tapering Kuat, RI Tebar Insentif Pasar Modal

Rangkuman kabar mingguan diwarnai dengan gejolak pasar akibat antisipasi isi pidato Jerome Powell pekan ini. Akankah tapering jadi diberlakukan lebih cepat? Apa pun yang terjadi, semoga akhir pekan kamu menyenangkan ya, Sobat Cuan!

1. Simposium The Fed Bikin Spekulasi Tapering Menghangat

Pelaku pasar di seluruh belahan dunia dibikin ketar-ketir oleh rencana bank sentral AS, The Fed, yang kemungkinan akan menegaskan soal kebijakan tapering. Adapun, pelaku pasar yakin bahwa sikap itu akan diutarakan ketua The Fed Jerome Powell dalam simposium nasional The Fed yang berlangsung Jumat (27/8).

Tapering adalah langkah bank sentral untuk mengurangi jumlah pembelian instrumen surat berharga. Kebijakan ini ditempuh jika The Fed merasa tingkat pertumbuhan ekonomi dan inflasi menanjak.

Hangatnya kekhawatiran mengenai kebijakan tapering The Fed bukan tanpa alasan. Beberapa bulan terakhir, The Fed memang selalu melontarkan keinginan untuk mengambil langkah tersebut. Terakhir, wacana ini dilempar dalam risalah rapat (minutes of meeting) Juli The Fed yang dirilis pekan lalu.

Meski demikian, sepanjang pekan lalu, analis dan ekonomi silih berganti melontarkan pendapat bahwa The Fed akan mengurungkan minat tersebut. Lonjakan kasus COVID-19 di Amerika Serikat dan krisis Afghanistan diperkirakan akan membuat The Fed menunda kebihakan tersebut.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Ragam Jibaku RI & Negara Lain Memulihkan Ekonomi

Apa Implikasinya?

Tapering adalah kebijakan di mana The Fed akan mengurangi pembelian surat berharganya. Akibatnya, jumlah Dolar AS beredar akan menurun, sehingga nilai tukar Dolar AS terhadap mata uang lain akan menguat.

Kondisi tersebut akan bikin pelaku pasar lebih suka menggenggam Dolar AS, sehingga mereka akan menarik dananya di instrumen investasi seperti emas atau saham.

Jika itu terjadi, maka Indonesia bisa dalam bahaya. Sebab, penarikan dana dari pasar modal bisa menyebabkan arus modal asing keluar (capital outflow), sehingga mengancam iklim investasi dan stabilitas moneter domestik.

Ekspektasi pasar terhadap rencana tapering The Fed banyak didorong oleh pengalaman taper tantrum saat tapering dilakukan Federal Reserve tahun 2013. Karenanya, pasar cenderung panik bahwa capital outflow akan terjadi lagi.

Di samping itu, dampak tapering yang bisa meningkatkan nilai dolar AS akan membuat nilai tukar rupiah melemah. Akibatnya, Bank Indonesia harus menguras cadangan devisanya untuk mengintervensi pasar valas.

Selain itu, industri juga akan menerima bahan baku impor yang lebih mahal lantaran pelemahan nilai tukar yang dimaksud. Kenaikan nilai impor akan menghambat pertumbuhan ekspor netto, satu dari empat kunci pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Capital Inflow Deras, Bank China Waspadai Tapering

Kabar Sepekan: Spekulasi Tapering Kuat, RI Tebar Insentif Pasar Modal, Pluang

2. Negara Maju ‘Curi Start’ Ketatkan Kebijakan Moneter

Di tengah kencangnya isu tapering dan pandemi Covid 19 gelombang kedua yang melanda berbagai negara maju, beberapa negara malah memulai pengetatan kebijakan moneter (tight money policy) dengan meningkatkan suku bunga acuan dan mengurangi budget pembelian surat utang sebagai bentuk stimulus moneter. Korea Selatan, Kanada dan Selandia Baru adalah beberapa negara yang telah mencuri start pengetatan kebijakan moneter yang dimaksud.

Negara-negara maju mendapat angin segar dari momentum pemulihan ekonomi pasca pandemi, yang mengerek naik pertumbuhan ekonomi berikut inflasinya. Beberapa bank sentral dari negara maju tersebut bahkan telah memproyeksikan kenaikan bunga acuan akhir tahun ini, setelah mempertahankan era kebijakan bunga mendekati nol selama bertahun-tahun.

Apa Implikasinya?

Keputusan ini tentu didasari oleh berbagai faktor dari dalam dan luar negeri negara tersebut. Namun imbasnya, pasar menerjemahkan langkah ini sebagai akhir dari era kelonggaran moneter dan suku bunga rendah. Akibatnya, pasar bergejolak berkat aksi investor mencari kesetimbangan baru bagi portofolio investasinya.

Indonesia sebetulnya berpotensi kehilangan arus modal asing jika negara maju mulai mengetatkan kebijakan moneternya. Tak hanya itu, instrumen berisiko tinggi seperti saham mungkin akan semakin kurang diminati nantinya.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Realisasi APBN Tumbuh, Korea Selatan Curi Start

3. Banjir Stimulus demi Kerek Ekonomi Nasional

Otoritas Jasa Keuangan memberi stimulus insentif bagi surat utang berwawasan lingkungan berupa potongan diskon biaya pendaftaran 25%. Seolah tak mau ketinggalan, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga memberi diskon biaya pendaftaran sebesar 50% kepada emiten baru maupun emiten existing yang berminat menambah modal dari bursa saham.

Tak hanya OJK, Kementerian Keuangan juga menggelontorkan sejumlah relaksasi pajak dalam rangka menggiatkan kembali perekonomian pasca pandemi.

Apa Implikasinya?

Seluruh insentif tersebut tentu memiliki dua tujuan utama: Memperdalam pasar finansial Indonesia dan menumbuhkan ekonomi.

Insentif penerbitan obligasi dan pencatatan saham akan meningkatkan ukuran pasar modal Indonesia. Hal ini akan menjadi daya tarik bagi investor untuk membenamkan dana di Indonesia. Selain itu, membengkaknya ukuran pasar finansial Indonesia bisa bikin Indonesia tahan dari guncangan ekonomi eksternal.

Untuk memahami hal ini, Sobat Cuan bisa mengambil analogi batu dan kolam air. Anggap saja, batu adalah guncangan eksternal sementara kolam air adalah ukuran pasar finansial Indonesia.

Jika batu itu dilempar ke kolam berukuran kecil, maka ia akan membuat riak yang cukup besar di kolam tersebut. Namun, jika batu berukuran sama dilempar ke kolam yang lebih besar, maka air di dalam kolam tersebut tidak akan bergejolak parah.

Selain itu, penghimpunan dana di pasar finansial nantinya akan digunakan untuk kegiatan riil, misalnya ekspansi usaha. Ekspansi merupakan bagian dari investasi riil, sehingga kegiatan itu mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Pada akhirnya, hal tersebut akan memperkuat pertumbuhan ekonomi.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img