Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Kabar: Kripto Makin Dilirik, Bitcoin Bikin El Salvador Chaos

Rangkuman kabar hari ini, Rabu (8/9) mengungkap volume besar transaksi kripto dalam negeri, di mana mayoritas penggunanya adalah para investor muda.

Sementara dari mancanegara, El Salvador ternyata sedang kewalahan mengimplementasikan Bitcoin sebagai alat tukar legal per hari ini. Di sisi lain, bank sentral China memastikan bahwa kebijakannya tidak akan terlalu longgar lagi.

Yuk, simak selengkapnya di rangkuman kabar berikut!

Rangkuman Kabar Dalam Negeri

1. Total Transaksi Kripto RI Capai Rp470 triliun!

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengungkap angka fantastis total transaksi kripto di Indonesia, yakni mencapai Rp470 triliun. Selain itu, total akun kripto juga meningkat pesat dari 3 juta menjadi 7 juta dalam setahun terakhir, di mana 90% penggunanya adalah anak-anak muda.

Melihat antusiasme yang besar itu, Jerry menegaskan kembali niat pemerintah untuk membuka bursa kripto. Menurutnya, sesuai dengan undang-undang yang berlaku di Indonesia, kripto merupakan komoditas yang harus memiliki bursanya sendiri.

Baca juga: Kabar Sepekan: Ekonomi AS dan China Loyo, Inflasi RI Tiarap

Apa Implikasinya?

Volume transaksi yang besar diikuti dengan meningkatnya akun pengguna merupakan indikasi yang tak terbantahkan atas eksistensi dunia cryptocurrency di kalangan investor muda di Indonesia. Jika permintaan aset kripto melesat, maka harganya pun ikut terkerek naik.

2. IKK merosot tajam, Terendah Dalam 16 Tahun

Bank Indonesia mencatat bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia selama Agustus lalu di angka 77,3, atau merosot tajam dibanding Juli 80,2. Data ini membuat nilai IKK mencatatkan rekor terendahnya dalam 16 tahun.

Salah satu pendorong merosotnya IKK ialah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat alias PPKM akibat lonjakan kasus COVID-19 bulan lalu. Survei juga menunjukkan bahwa kelompok usia 20-30 tahun merupakan kelompok yang paling pesimistis terhadap perekonomian saat ini.

Apa Implikasinya?

IKK dibagi menjadi dua sub-indeks besar yaitu Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Keduanya mencerminkan persepsi masyarakat tentang kondisi ekonomi Indonesia saat ini dan ke depan. Jika nilai kedua indeks melemah, artinya masyarakat Indonesia berharap bahwa ekonomi saat ini dan masa depan melesu.

Jika masyarakat Indonesia berpikir demikian, maka ada kemungkinan bahwa mereka akan semakin menyimpan uangnya untuk berjaga-jaga dan mengerem konsumsi. Karena konsumsi masyarakat adalah motor penggerak pertumbuhan ekonomi, maka keputusan masyarakat tersebut bisa menghambat laju ekonomi.

3. OJK Perpanjang Restrukturisasi Sampai 2023

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memutuskan untuk memperpanjang relaksasi restrukturisasi kredit perbankan selama setahun dari sebelumnya 31 Maret 2022 menjadi 31 Maret 2023 mendatang.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso berpendapat bahwa perekonomian Indonesia baru dapat kembali pulih pada tahun 2023. Karenanya, relaksasi restrukturisasi kredit perbankan diperpanjang agar dunia usaha dapat bertahan melalui masa-masa sulit selama pandemi.

Apa Implikasinya?

Program relaksasi restrukturisasi kredit perbankan telah berjalan sejak Maret 2020 yang dimaksudkan agar dunia usaha tidak terbebani dengan beban utang dan bunganya selama pendapatan mereka seret akibat pandemi COVID-19.

Jika OJK memperpanjang restrukturisasi kredit, maka beban pembayaran utang dunia usaha bisa semakin ringan. Implikasinya, dunia usaha masih bisa beroperasi dan tidak usah gulung tikar sekaligus masih mampu mempekerjakan tenaga kerja. Hal tersebut tentu akan membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Rangkuman Kabar: Kripto Makin Dilirik, Bitcoin Bikin El Salvador Chaos, Pluang

Rangkuman Kabar Mancanegara 

1. El Salvador Hadapi Kendala Implementasikan Bitcoin Jadi Alat Tukar

Hari pertama berlakunya Bitcoin jadi salah satu alat tukar sah di El Salvador menuai banyak kendala hingga membuat pemerintah terpaksa menutup sementara dompet digital resminya yang bernama Chivo. Hal ini membuat aplikasi dompet digital itu tidak dapat diunduh oleh pengguna baru masyarakat El Salvador.

Apalagi, masyarakat El Salvador selama ini hidup dalam kemiskinan dan kurang terliterasi internet, sehingga banyak diantara mereka belum tahu caranya mengakses Bitcoin.

Kelompok masyarakat ini menunjukkan resistensi terhadap kebijakan pemerintah menetapkan Bitcoin sebagai salah satu alat pembayaran sah di negaranya dengan melakukan unjuk rasa. Sekitar 1.000 orang berkerumun di jalan dan membakar ban menolak Bitcoin jadi alternatif mata uang negaranya.

Kendati begitu, Presiden El Salvador Nayib Bukele tetap pada pendiriannya. Hari ini beberapa gerai makanan cepat saji di negaranya mulai menerima pembayaran dengan Bitcoin.

Apa Implikasinya?

Tantangan yang dihadapi El Salvador dalam menerapkan Bitcoin sebagai salah satu alat pembayaran sudah diprediksi oleh pasar. Alhasil, harga Bitcoin pada perdagangan hari ini dilaporkan terkoreksi hingga 16% dalam sehari.

Selain itu, meningkatkan literasi internet memerlukan waktu yang panjang. Apalagi, Bitcoin merupakan produk teknologi blockchain yang fitur dan operasionalnya spesifik sehingga cukup sulit dipahami orang awam. Penerapan mata uang kripto sebagai alat tukar resmi seharusnya mempertimbangkan hal ini terlebih dahulu sebelum mengimplementasikannya.

2. Bank Sentral China Tidak Akan ‘Lebay’ Tebar Stimulus

Pasca rilisnya laporan perdagangan China yang melampaui perkiraan kemarin, Wakil Presiden Bank Sentral China Pan Gongsheng memastikan otoritas moneter itu tidak akan berlebihan membanjiri likuiditas guna menstimulus perekonomian.

Semula, China mengobral likuiditas lewat berbagai stimulus dan pembelian surat utang lantaran mengira perekonomian China sedang kekurangan amunisi untuk pulih. Namun, laporan ekspor impor yang tumbuh tinggi bulan lalu menganulir persepsi tersebut sehingga bank sentral China memastikan bahwa kebijakan moneternya akan berjalan normal.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Transaksi Indonesia-China Tidak Perlu Dolar AS Lagi!

Apa Implikasinya?

Kebijakan moneter yang terlalu longgar berpotensi mengungkit tingkat inflasi di China akibat uang beredar yang terlalu banyak. Jika kebijakan itu terus berlanjut, maka pertumbuhan ekonomi China bisa menjadi korbannya.

Artinya, risiko itu memang harus direm Bank Sentral China dengan tidak mengumbar terlalu banyak stimulus moneter.

Meski demikian, hasil rapat bank sentral China akhir Juli lalu telah memastikan bahwa arah kebijakan moneter China tidak akan berubah di paruh kedua tahun ini. Artinya, China mungkin tidak akan melakukan pengetatan moneter namun juga kemungkinan tidak akan kembali menurunkan bunga acuannya tahun ini.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNBC, Reuters, Bank Indonesia, CNBC Indonesia

spot_img

Artikel Terbaru

Strategy & Growth Lead

0

Senior Social Media

0

Product UX Copywriter

0

Partnerships Manager

0

Business Development Manager

0
spot_img