Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Kabar: Ragam Jibaku RI & Negara Lain Memulihkan Ekonomi

Rangkuman kabar hari ini diwarnai oleh bocornya dokumen rapat pemerintah, Bank Indonesia dan komisi XI DPR RI mengenai kesepakatan pembelian surat utang guna membiayai pemulihan pandemi. Sementara itu, di Amerika Serikat, bursa pemilihan Gubernur The Fed mulai menghangat.

Yuk, simak selengkapnya di rangkuman kabar harian berikut

Kabar Dalam Negeri

1. Pemerintah Minta Bantuan Bank Indonesia Beli SBN 

Bank Indonesia akan kembali membeli Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp439 triliun dalam dua tahun mendatang. Rencana ini tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) jilid III antara pemerintah dan BI, yang dirapatkan dengan Komisi XI DPR RI hari ini (23/8).

Dokumen itu merinci pembelian surat utang dalam dua klaster yang dieksekusi tahun ini dan tahun depan.

Klaster A berisikan rencana pembelian surat dengan bunga ditanggung BI senilai Rp98 triliun, di mana hasilnya akan digunakan untuk pembiayaan vaksinasi dan penanganan kesehatan. Sementara itu, himpunan dana dari klaster B diperuntukan bagi pembiayaan program perlindungan bagi masyarakat dan UMKM.

Apa Implikasinya?

Pembelian surat utang oleh bank sentral umum dilakukan sebagai salah satu bentuk stimulus moneter. Dampaknya secara langsung akan memengaruhi jumlah uang beredar melalui belanja pemerintah. Belanja pemerintah adalah satu dari empat komponen pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga aksi ini tentu akan memperbaiki pertumbuhan ekonomi ke depan.

Di samping itu, pembelian surat utang pemerintah oleh bank sentral bisa mengurangi eksposur investor asing di dalam komponen pembiayaan utang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Banyaknya investor asing yang menggenggam surat utang RI bisa membahayakan ekonomi jika terjadi krisis. Sebab, mereka bisa menarik keluar modalnya (capital outflow), yang ujungnya menggoyahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

2. Presiden Jokowi Teken Perpres Dana Penanggulangan Bencana

Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden nomor 75 tahun 2021 tentang Dana Bersama Penanggulangan Bencana. Beleid ini mengatur tiga sumber utama dana penanggulangan bencana yakni APBN, Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD) dan sumber dana lain yang sah.

Nantinya dana bersama akan dikelola oleh Menteri Keuangan selaku penguasa fiskal dalam instrumen investasi jangka pendek maupun jangka panjang sesuai ketentuan yang berlaku.

Apa Implikasinya?

Dana bersama akan mengurangi beban APBN dalam penanggulangan bencana, termasuk di dalamnya bencana pandemi COVID-19 yang belum juga usai. Sehingga, pemerintah memiliki ruang untuk melakukan realokasi anggaran ke pos pengeluaran yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Misalnya, anggaran yang ditujukan untuk memperbaiki konsumsi rumah tangga.

Rangkuman Kabar: Ragam Jibaku RI & Negara Lain Memulihkan Ekonomi, Pluang

Kabar Manca Negara

1. Inggris Raya Alami Perlambatan Ekonomi Pasca Lockdown

Survei IHS Markit And CIPS menunjukkan bahwa indeks komposit Purchasing Manufacturing Index (PMI) Agustus berada di angka 55,3. Angka ini lebih rendah dibanding bulan Juli yakni 59,2.

Indeks ini mencerminkan tingkat produktivitas industri Inggris Raya selama sebulan terakhir. Jika nilai indeksnya melandai, maka produktivitas industri negara tersebut terbilang melemah.

Pelemahan tersebut disebabkan oleh penghentian kegiatan ekonomi sementara akibat kebijakan pembatasan sosial (lockdown) di negara tersebut. Kondisi lockdown membuat industri di Inggris kesulitan menyerap tenaga kerja dan mencari bahan baku industri.

Baca juga: Rangkuman Kabar: APBN 2022 Ekspansif, Perekonomian Jepang Pulih

Apa Implikasinya?

Ekonom biasanya menggunakan survei tersebut untuk melihat arah pemulihan ekonomi suatu negara. Sehingga, jika nilai indeks tersebut melemah, maka Inggris Raya bisa kehilangan momentum untuk memperbaiki ekonominya.

Inggris merupakan salah satu negara yang memiliki porsi PDB 2,25% terhadap total PDB global. Maka, pelemahan ekonomi Inggris kemungkinan ikut berpotensi menyeret pertumbuhan ekonomi global.

2. Janet Yellen Dukung Jerome Powell Pimpin The Fed 2 Periode

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Janet Yellen menyuarakan dukungannya kepada ketua The Fed petahana Jerome Powell untuk memimpin bank sentral AS itu lebih lama lagi. Dukungan itu disampaikan Yellen kepada penasihat senior Gedung Putih mengingat masa jabatan Powell akan berakhir Februari tahun depan.

Presien AS, Joe Biden sendiri kabarnya akan membicarakan soal akhir masa jabatan Powell pada hari buruh 6 September nanti.

Selain Powel, ada satu nama lain yang disebut-sebut bakal masuk bursa pemimpin The Fed yakni Lael Brainrad. Brainrad dapat dukungan dari kubu demokrat yang progresif. Namun keduanya perlu memperebutkan konfirmasi senat untuk memuluskan langkahnya memimpin bank sentral super power tersebut.

Baca juga: Apa Itu Hawkish dan Dovish?

Apa Implikasinya?

Powell dikenal memiliki sikap netral dalam memimpin kebijakan moneter. Dia tidak terpaku pada kebijakan hawkish maupun dovish, melainkan moderat sesuai pertimbangan data yang ada.

Sikap tersebut sangat penting mengingat kini The Fed berada di persimpangan untuk memutuskan sejumlah langkah moneter berikutnya. Misalnya, menentukan apakah The Fed perlu melakukan tapering atau menaikkan suku bunga acuan.

Sumber: Reuters, Markit Economics, CNBC Indonesia, CNN Indonesia

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img