Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Kabar: Surplus Dagang RI Tertinggi Sepanjang Masa!

Rangkuman kabar Pluang kembali lagi di hari Rabu (15/9) yang tidak kelabu ini. Pada hari ini, Indonesia berhasil catat surplus perdagangan terbesar sepanjang sejarah dan inflasi Amerika Serikat yang ternyata mulai jinak.

Yuk, simak selengkapnya di rangkuman kabar!

Rangkuman Kabar Dalam Negeri

1. RI Catat Rekor Surplus Dagang Sepanjang Masa!

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kenaikan nilai ekspor dan impor Indonesia pada bulan Agustus masing-masing sebesar 64,10% dan 55,26% secara tahunan. BPS juga melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada bulan lalu juga mengalami surplus US$4,74 miliar, yakni rekor tertinggi sepanjang masa!

Baca juga: Rangkuman Kabar: RI Mau Buyback Utang, El Salvador Lepas Pajak BTC

Apa Implikasinya?

Kenaikan surplus perdagangan akan memperbaiki neraca transaksi berjalan Indonesia (current account). Jika neraca tersebut membaik, maka Indonesia juga semakin mumpuni dalam mempertebal cadangan devisa.

Cadangan devisa adalah amunisi bagi Bank Indonesia untuk mengintervensi pasar valas ketika menstabilkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Sehingga, kenaikan surplus perdagangan tentu akan berdampak baik bagi kestabilan ekonomi domestik.

Selain itu, kenaikan surplus perdagangan juga bisa mendongkrak nilai ekspor netto (nilai ekspor dikurangi impor) Indonesia, yang ujungnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi tanah air di kuartal III. Ekspor netto sendiri adalah satu dari empat komponen utama pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB) sebuah negara.

Baca juga: Rangkuman Kabar: UMKM Jadi Primadona, Cardano Punya Smart Contract

2. RI Siap Akhiri Era Komoditas Bahan Mentah

Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa Indonesia akan semakin fokus melakukan hilirisasi industri demi meningkatkan nilai ekspor di masa depan. Dengan kata lain, Indonesia berfokus melepaskan diri dari ketergantungan ekspor komoditas mentah.

Hal itu ia sampaikan ketika meletakkan batu pertama pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik di Karawang, hari ini.

Apa Implikasinya?

Hilirisasi industri akan mendorong produk-produk ekspor Indonesia memiliki nilai tambah. Ujungnya, nilai ekspor Indonesia akan semakin meningkat, surplus perdagangan melonjak, dan bisa mengerek pertumbuhan ekonomi domestik.

Jika nilai ekspor melonjak, maka Indonesia juga bisa perlahan melepaskan ketergantungan dari konsumsi masyarakat sebagai motor penggerak Produk Domestik Bruto (PDB). Sekadar informasi, konsumsi masyarakat selalu dianggap memiliki efek pengganda (multiplier effect) ekonomi yang lebih kecil dibanding komponen PDB lainnya, yakni ekspor netto dan investasi.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Kripto Makin Dilirik, Bitcoin Bikin El Salvador Chaos

Rangkuman Kabar: Surplus Dagang RI Tertinggi Sepanjang Masa!, Pluang

Rangkuman Kabar Manca Negara

1. Ekonomi China “Demam” Kena COVID-19

Biro Statistik China melaporkan penjualan ritel Agustus yang turun sebesar 2,5% secara tahunan pada Agustus lalu. Produksi industri pun mengalami perlambatan dengan tumbuh hanya 5,3% secara tahunan, padahal bulan lalu pertumbuhannya mencapai 6,4%.

Investasi di sektor konstruksi pun mengalami kontraksi 3,2% sepanjang tahun berjalan. Efeknya, produksi baja negara tirai bambu itu pun longsor ke level terendah selama 17 bulan pada Agustus kemarin. Seluruh perlambatan tersebut disebabkan oleh ekonomi China yang “sakit” gara-gara diterjang COVID-19 varian Delta.

Apa Implikasinya?

Perlambatan perekonomian di China akan mendorong People Bank of China (PBOC) kembali meningkatkan pelonggaran moneternya untuk memacu perekonomian.

Selain itu, sebagai mitra dagang terbesar, Indonesia mungkin akan mengalami efeknya jika perlambatan berlangsung secara berkepanjangan. Karenanya, Indonesia perlu membuka pangsa pasar baru untuk mendiversifikasi portofolio ekspornya jika tidak ingin turut melambat bersama perekonomian China.

2. Inflasi AS Mulai Jinak

Tingkat Inflasi di Amerika Serikat bulan Agustus mencapai 0,1%. Ini membuat inflasi tahunan AS mencapai 5,4%, meningkat dibanding Juli yakni 5,3%

Meski begitu, terjadi pelambatan pada inflasi inti menjadi 4%, sebelumnya 4,3%.

Apa Implikasinya?

Perlambatan inflasi akan jadi acuan The Fed dalam mengambil keputusan normalisasi kebijakan. Turunnya tingkat inflasi inti, berikut dengan rilis data perekonomian lainnya, bisa membuat The Fed mengulur waktu untuk melaksanakan tapering.

Sumber: CNBC, Reuters, Kontan, Berita Resmi Statistik

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img