Currently set to Index
Currently set to Follow

Kabar Sepekan: Bitcoin Makin Cuan, Stagflasi Terus ‘Gentayangan’

Kabar sepekan datang lagi menemani rehat akhir pekan kamu, dengan rangkuman kabar aset kripto dan ekonomi yang sayang banget untuk dilewatkan. Apa saja sih kabar tersebut? Yuk, simak bersama!

Kabar Aset Kripto Sepekan

1. ETF Bitcoin Masih Manggung

Cointelegraph melaporkan, produk ETF besutan Proshares, Proshares Bitcoin Strategy ETF (BITO), berhasil menghimpun dana US$112,79 juta dalam sembilan hari terakhir. Nilai tersebut lebih tinggi 2% dibanding rata-rata seluruh himpunan dana ETF yang terdapat di pasar derivatif. Namun lebih rendah ketimbang arus modal yang dihimpun BITO sebesar US$489,51 juta selama dua hari pasca peluncurannya 19 Oktober silam.

2. Warga Miami Dapat Bitcoin Gratis

Setiap warga Miami yang memiliki dompet digital berhak menerima imbal hasil MiamiCoin dalam bentuk pecahan Bitcoin. Walikota Miami, Francis Suarez mengatakan imbal hasil ini berlaku untuk setiap warga Miami, tidak hanya mereka yang telah memiiliki MiamiCoin saja.

Hingga saat ini, MiamiCoin yang baru diluncurkan Agustus lalu telah mendulang cuan hingga US$22 juta. Suarez meyakini imbal hasil City Coin tersebut dapat melampaui penerimaan Miami dari perpajakan di masa depan sehingga perlu dilakukan redistribusi bagi warganya.

3. Brazil Lirik Crypto Bayar Gaji Karyawan

Deputi Federal sekaligus anggota Kongres Brazil Luizao Goulart mengajukan undang-undang untuk melegalisasi pembayaran dengan aset kripto untuk membayar upah pekerja baik publik maupun swasta.

Undang-undang yang diajukan tersebut akan memberi pilihan bagi pekerja untuk meminta upahnya dibayarkan dalam mata uang kripto, khususnya Bitcoin. Jika disetujui, Goulart akan membuat konsensus dengan para pekerja dan pemberi kerja untuk mengatur persentase upah dalam kripto dan fiat.

Baca juga: Kabar Sepekan : Gaming Makin Populer, Obat Covid-19 Menjanjikan

Kabar Domestik Sepekan

1. Morgan Stanley Optimistis Ekonomi RI Makin Kinclong

Morgan Stanley memperkirakan produk domestik bruto (PDB) nasional tahun depan dapat tumbuh 5,5%, lebih tinggi dari perkiraan tahun ini 3,6%. Ada tiga faktor yang mendorong ekspansi ekonomi Indonesia tahun depan: Menguatnya pemintaan domestik, laju inflasi yang mendorong kenaikan harga komoditas, dan pertumbuhan struktural yang kuat.

2. Komitmen Investasi UAE Dikebut

Buah tangan lawatan para petinggi negeri ke Uni Emirat Arab berupa komitmen investasi senilai US$44,6 miliar (setara Rp642,2 triliun) ditargetkan dapat terealisasi sebelum 2024. Investasi tersebut terbagi dalam beberapa sektor, yakni, infrastruktur, pertanian, alat kesehatan, sentra data, hilirisasi tambang hingga energi terbarukan.

3. Harga Acuan Komoditas Energi Makin Reli

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan harga acuan minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price) bertengger di US$81,81 per barel per 8 November 2021. Dengan demikian, harga ini US$9,6 per barel lebih mahal ketimbang penetapan pemerintah sebelumnya.

Begitu pula harga batu bara acuan (HBA) Oktober yakni US$215,63 per metrik ton pada November 2021, alias naik 33% dibanding bulan lalu.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Warga Miami Dapat BTC Gratis, Sektor Properti RI Miris

Kabar Internasional Sepekan

1. Stagflasi Serang Negara Adidaya

Bureau Labor of Statistics Amerika Serikat mencatat Indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) Oktober mengalami inflasi sebesar 6,2% secara tahunan. Inflasi Oktober menandai bulan kelima AS mencatatkan inflasi tahunan di atas 5%. Berkat lonjakan yang masif, inflasi inti naik menjadi 4,6% di bulan Oktober dari 4% di September.

Sementara itu, National Bureau of Statistics (NBS) China merilis bahwa indeks harga produksi (Producer Price Index/PPI) meningkat 13,5% secara tahunan, lebih tinggi dari peningkatan bulan September yakni 10,7%. Laju inflasi ini melampaui rekor Juli 1995 yang mencapai 12,4%. Peningkatan laju inflasi juga terjadi pada indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) Oktober yakni 1,5% secara tahunan, lebih tinggi dari laju inflasi September yakni 0,7%.

2. The Fed Tunggu Wangsit Soal Suku Bunga

Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari mengatakan data perekonomian AS saat ini masih terlalu buram untukmemastikan langkah soal bunga acuan. The Fed memproyeksikan kebijakan normalisasi stimulus alias tapering yang dimulai bulan ini akan berakhir sepenuhnya pada musim panas tahun depan. Pada saat itu, The Fed akan mengandalkan data inflasi dan tenaga kerja untuk menentukan naik-turunnya suku bunga acuan.

3. Investor Asing Mulai ‘Cuekin’ Kawasan Asia

Pasar surat utang negara di kawasan Asia sepi peminat sepanjang Oktober lalu. Bahkan, Indonesia dan India terpantau mengalami capital outflow. Total arus modal asing yang memasuki pasar surat utang Asia sepanjang Oktober mencapai US$2,25 miliar, terendah sejak Desember 2020.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img