Currently set to Index
Currently set to Follow

Pasar Sepekan: Aset Kripto Makin Gagah, IHSG Ogah Goyah

Indeks saham AS terlihat terombang-ambing sementara harga aset kripto seolah-olah tak lelah untuk terus reli. Apa yang sebenarnya terjadi? Sobat Cuan bisa menyimak rangkuman kondisi pasar sepekan berikut!

Pasar Internasional Sepekan

Tiga indeks saham utama AS masih mampu membukukan pertumbuhan sepanjang pekan ini. Indeks Dow Jones Industrial Average meningkat 1,2% sepanjang minggu ini, sementara indeks Nasdaq dan S&P 500 masing-masing menguat 0,1% dan 0,8%.

Meski menorehkan pertumbuhan, namun trio indeks Wall Street sejatinya menempuh jalan terjal pada pekan ini.

Ketiga indeks tersebut sempat mendapat embusan angin segar dari aksi Senat AS yang akhirnya meloloskan rencana kenaikan pagu utang pemerintah negara Paman Sam tersebut. Di samping itu, investor juga terpantau melancarkan aksi “borong saham murah” (buy the dip) ketika pasar saham AS terlihat bearish awal pekan ini.

Namun, menuju akhir pekan, indeks saham AS harus tersandung oleh melempemnya data ketenagakerjaan AS. Pada Jumat (9/10), Biro Statistik dan Ketenagakerjaan AS merilis bahwa dunia usaha AS hanya mampu menyerap 194.000 tenaga kerja baru pada September, jauh di bawah prediksi 500.000. Data tersebut bikin investor kembali khawatir bahwa laju ekonomi AS mungkin belum sepenuhnya ngegas.

Kendati data penyerapan tenaga kerja baru AS mengecewakan, angka tingkat pengangguran September ternyata malah bersikap sebaliknya. Sebab, tingkat tunakarya AS pada September bertengger di 4,8% alias melandai dibanding 5,9% sebulan sebelumnya.

Investor nampaknya juga masih perlu mengantisipasi gejolak nilai indeks utama saham AS pada pekan depan.

Di satu sisi, nilai indeks saham AS bisa melompat ditopang oleh hasil rilis laporan kinerja emiten sektor keuangan pada kuartal III, misalnya JPMorgan Chase dan bank-bank besar lainnya. Secara keseluruhan, analis memperkirakan pertumbuhan laba per saham perusahaan-perusahaan S&P 500 di triwulan lalu bisa menyentuh 30% dibanding kuartal sebelumnya.

Sentimen positif lainnya akan berasal dari bank sentral Eropa yang nampaknya urung melancarkan aksi tapering. Beberapa hari lalu, Bank Sentral Eropa berencana untuk memperpanjang aksi stimulus moneternya setelah merasa bahwa inflasi kronis Eropa kali ini tidak bisa diselesaikan dengan kebijakan moneter semata.

Namun, di sisi lain, investor juga masih akan tetap fokus pada isu mandegnya rantai suplai global dan kelangkaan tenaga kerja.

Aset Kripto

Harga aset kripto nampak semringah sepanjang pekan ini. Harga Bitcoin, misalnya, melesat 25% dalam sepekan terakhir dan berhasil menembus level US$50.000 per keping. Persentase penguatan serupa juga dialami Dogecoin (DOGE) dan sukses bikin pelaku pasar deja vu atas kondisi serupa yang terjadi pada kuartal I lalu.

Nasib mujur tak hanya menghampiri BTC dan DOGE. LUNA, contohnya, malah berhasil menciptakan rekor tertingginya di US$49,55 per keping pada Senin (4/10) lalu setelah harganya terbang 108% sehari sebelumnya dan volume perdagangannya menyentuh US$2,5 miliar dalam sehari.

Nilai LUNA langsung ngebut setelah sang pengembang meluncurkan pembaruan Columbus-5 sehingga memungkinkan protokol LUNA untuk melakukan “pembakaran” koin. Di samping itu, protokol LUNA juga mengadopsi standar IBC yang membuka jalan Terra ke ekosistem Cosmos. Tak ketinggalan, moncernya nilai LUNA juga didorong oleh menjamurnya aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi) di atas protokol tersebut.

Shiba Inu (SHIB) pun tak ketinggalan bikin heboh. Siapa sangka, token meme tersebut sempat menjadi aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar ke-12 sejagat pada pekan ini. Hal itu terjadi setelah harga SHIB meroket 367% dalam sepekan terakhir dan mengetatnya jumlah koin SHIB beredar. Diketahui, punggawa Ethereum Vitalik Buterin sempat mengirimkan 410 triliun SHIB ke alamat blockchain mati dan bikin SHIB berjumlah jumbo lenyap seketika dari pasar.

Pergerakan harga aset kripto ke depan nampaknya akan dikelilingi sentimen soal niatan regulator jasa keuangan AS (Securities and Exchange Commission) untuk memberikan izin kepada produk-produk ETF yang terkait dengan Bitcoin. Rencananya, di dalam produk-produk ETF ini, investor bisa kecipratan cuan dari korporasi-korporasi yang menempatkan sebagian asetnya di Bitcoin.

Cointelegraph melaporkan, pelaku pasar optimistis bahwa produk ETF berbasis Bitcoin akan meluncur sesegera mungkin pada bulan ini.

Baca juga: Pasar Sepekan: Indeks Saham AS Memble, Aset Kripto Makin Kece

Emas

Harga emas berjangka untuk kontrak Desember di pasar COMEX tercatat di US$1.757,4 per ons atau turun 0,1% dibanding sehari sebelumnya. Harga emas berjangka sempat melonjak US$25 per ons setelah Biro Statistik AS merilis laporan data ketenagakerjaan AS yang mengecewakan.

Ya, data ketenagakerjaan AS yang memble memang bikin harga emas sempat naik. Hanya saja, di waktu yang sama, musuh bebuyutan emas, yakni tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun, juga ikut terkerek ke angka 1,61%. Nah, kenaikan yield ini meningkatkan opportunity cost investor dalam menggenggam emas.

Hal itu disebabkan karena tingkat pengangguran AS pada September ternyata berada di level 4,8%, atau turun dari posisi Agustus 5,2%. Dengan kata lain, tingkat pengangguran AS kian mengarah ke ekspektasi tingkat pengangguran AS versi The Fed sekitar 4%.

Di sisi lain, harga emas spot malah naik 0,2% ke level US$1.758,86 per ons. Harga emas pasar spot diketahui sempat bertengger di US$1.781,2 per ons yang merupakan level tertingginya sejak 22 September silam.

Pada pekan depan, pergerakan harga emas tinggal menanti pengumuman resmi terkait kebijakan tapering The Fed.

Pasar Domestik Sepekan

Nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.481,77 pada sesi perdagangan Jumat (8/10), alias menguat 3,96% dalam sepekan terakhir. Naiknya harga komoditas dunia, utamanya minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan batu bara, mendorong IHSG hingga hampir menyentuh level 6.500.

Harga batu bara menyentuh rekor tertingginya dan masih berada di atas US$200. Melansir laporan S&P Global, harga batu bara metalurgi seaborne akan mencetak rekor baru di kuartal IV di tengah ketatnya pasokan global dan permintaan spot yang sehat. Seolah tak mau ketinggalan, harga CPO sempat menyentuh rekor baru di angka US$1.194 per ton di pertengahan pekan ini.

Moncernya harga kedua komoditas tersebut didorong oleh satu faktor yang sama: Krisis pasokan energi yang melanda berbagai belahan dunia.

Selain itu, sentimen positif juga datang dari data cadangan devisa Indonesia yang mencapai rekor tertingginya. Bank Indonesia melaporkan, posisi cadangan devisa pada akhir September 2021 terbilang US$146,9 miliar, meningkat dari Agustus US$144,8 miliar. BI mengatakan, cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Baca juga: Data Inflasi AS dan COVID-19 Delta Jadi Penentu Harga Emas Pekan Ini

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img