Currently set to Index
Currently set to Follow

Pasar Sepekan: IHSG Cetak Prestasi Baru, Pasar Kripto Menggerutu

Situasi pasar sepanjang sepekan terakhhir ibarat musim pancaroba. Ada performa kelas aset yang terpantau mendung, namun ada juga kelas aset lain yang semringah lantaran cuaca cerah.

Pekan ini, langit mendung terlihat menggantung di atas pasar kripto. Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersenyum lebar di akhir pekan setelah mencetak rekor tertingginya sepanjang masa!

Apa yang sebenarnya terjadi di kedua pasar tersebut? Simak selengkapnya di Pasar Sepekan berikut!

Pasar Kripto Sepekan

Investor kripto sepertinya tidak bisa tidur nyenyak pada pekan ini. Penyebabnya apalagi kalau bukan kinerja beberapa aset kripto yang kebakaran. Untuk gambaran lebih jelasnya, Sobat Cuan bisa menyimak kinerja aset kripto dalam sepekan terakhir melalui tabel berikut.

Pasar Sepekan

Lesunya kinerja aset kripto sepekan belakangan tak lepas dari rentetan kabar negatif yang bikin kuping investor pengang.

Salah satu kabar tersebut datang dari Amerika Serikat. Awal pekan ini, Presiden AS Joe Biden meneken Undang-Undang Pendanaan Infrastruktur, di mana salah satu pasalnya mewajibkan perusahaan broker kripto AS untuk melaporkan transaksi aset digital di atas US$10.000 ke badan penerimaan internal AS (Internal Revenue Service).

Kabar tersebut sukses menyenggol harga Bitcoin (BTC) sampai oleng. Nilai sang raja aset kripto pun terjun 9% ke US$60.000 meski BTC saat itu sedang berada dalam posisi yang cukup bullish di sekitar area US$65.000.

Berita kurang menyenangkan pun datang dari China. Presiden China Xi Jinping menegaskan komitmennya untuk mengetatkan segala aktivitas berbau kripto di negara tirai bambu tersebut.

Memang, sikap anti-kripto China bukanlah barang baru. Sejak tahun lalu, Xi Jinping selalu mengutarakan sikap tegasnya melawan kegiatan pertambangan aset kripto. Namun bedanya, kali ini ia berjanji akan bersikap keras terhadap kegiatan trading kripto.

Pasar Sepekan
Sumber: Tradingview

Investor kripto pun akhirnya tak kuasa melihat portofolio kripto mereka yang terus berwarna merah. Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk merealisasikan kerugiannya.

Hal itu tercermin dalam data Fear and Greed Index yang menunjukkan bahwa banyak investor memutuskan untuk cut-loss lantaran takut harga BTC akan anjlok ke kisaran US$50.000.

Namun, sikap berbeda justru ditunjukkan oleh bandar kripto, alias whales, yang justru memilih mengakumulasi BTC pekan ini.

Apalagi, terdapat analisis lain yang menyebut bahwa BTC kemungkinan tidak akan mengalami “blow in the top” setelah menyentuh level tertingginya US$69.000 dua pekan lalu. Sehingga, BTC kali ini diharapkan tidak akan memasuki bear market setelah menyentuh titik tertingginya, seperti yang terjadi pada 2017 silam.

Nah, hal tersebut bisa Sobat Cuan pahami pada grafik di bawah ini. Pada 2017, harga BTC terlihat tidak banyak mengalami re-test. Tetapi, harga BTC justru sudah melewati re-test sebanyak dua kali di 2021, di mana sang dedengkot aset kripto tersebut justru berhasil mencapai rekor tertingginya di re-test kedua.

Pasar Sepekan: IHSG Cetak Prestasi Baru, Pasar Kripto Menggerutu, Pluang
Sumber: Tradingview

Jadi, kemungkinan besar, koreksi kali ini kemungkinan adalah koreksi akumulasi yang nantinya bisa membuat BTC menyentuh nilai All-Time High (ATH) baru lagi. Selain itu, penguatan nilai Dolar AS dan kombinasi berita negatif sepanjang pekan ini membuat koreksi tersebut cukup wajar.

Pasar AS Sepekan

Masing-masing trio indeks saham AS terlihat mengalami nasib berbeda di pekan ini. Dalam seminggu terakhir, nilai Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan S&P 500 masing-masing susut 0,75% dan 0,14%. Tapi, di sisi lain, indeks Nasdaq malah bertumbuh 0,4% dan bahkan mencetak rekor terbarunya 16.057,4 pada Jumat (19/11).

Ketakutan investor atas hantu bernama inflasi nampaknya menjadi biang keladi lesunya ketiga indeks Wall Street pekan ini.

Seperti diketahui, Biro Statistik Ketenagakerjaan AS dua pekan lalu merilis bahwa tingkat inflasi tahunan AS menyentuh 6,2% di Oktober, alias rekor tertingginya sejak 1990. Tetapi, ketakutan mereka akan inflasi kian menjadi setelah AS pada Selasa (16/11) mengumumkan penjualan ritel AS Oktober tumbuh 1,7%, melebihi ekspektasinya 1,4%.

Memang, data tersebut menjadi indikasi bahwa pertumbuhan ekonomi AS berada di jalur yang tepat. Tapi potensi kenaikan inflasi, yang didorong oleh permintaan masyarakat, bisa jadi mendorong bank sentral AS mengerek suku bunga acuannya sesegera mungkin.

Alhasil, mereka angin-anginan masuk pasar modal dan memilih menyerbu pasar obligasi AS dan menggenggam Dolar AS, yang ujungnya bikin tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS dan nilai indeks Dolar AS naik. Imbasnya, saham-saham yang berkinerja moncer kala pertumbuhan ekonomi tokcer, alias cyclical stocks, tumbang berjemaah dan menyeret kinerja indeks saham AS.

Padahal, sejatinya ada berita cukup positif mengenai ekonomi AS sebelum Jumat (19/11). Salah satunya adalah kabar mengenai Dewan Legislatif AS yang meloloskan kebijakan sosial Biden senilai US$1,75 triliun.

Kebijakan yang sangat demokrat ini tentu positif bagi masyarakat karena mereka akan mendapat keuntungan sosial seperti edukasi dan kesehatan. Kebijakan ini, tentu saja, akan menambah pundi-pundi masyarakat bergolongan tidak mampu, sehingga ekonomi diharapkan bisa bertumbuh. Namun di sisi lain, anggaran dari Pemerintah AS mungkin akan bisa sedikit bengkak karena kebijakan ini.

Di samping itu, kegalauan pelaku pasar pekan ini pun didorong oleh ekspektasi penutupan ekonomi di negara Eropa seperti Jerman dan Austria akibat kasus COVID-19 yang semakin merebak, seperti ditunjukkan pada grafik berikut.

Pasar Sepekan: IHSG Cetak Prestasi Baru, Pasar Kripto Menggerutu, Pluang
Grafik kasus COVID-19 Jerman. Sumber: WHO

Nah, kenaikan kasus COVID-19 di negara tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh masuknya musim dingin. Tetapi, penutupan ekonomi di Jerman ini mestinya hanya terbatas. Selain karena tingkat vaksinasi sudah meningkat, penemuan obat COVID-19 diharapkan membuat kenaikan kasus di Eropa bersifat lebih temporer dibanding sebelumnya.

Pasar Emas Sepekan

Berbeda dengan indeks saham AS dan kripto, pekan ini menjadi periode gemilang bagi harga emas. Pada akhir perdagangan Jumat (19/11), harga emas berhasi ditutup di kisaran Rp876.000 per gram atau naik dari kisaran Rp874.000 per gram pekan lalu.

Memang, kenaikan harga emas tidak terlalu signifikan, yakni hanya di bawah 1%. Hal ini disebabkan oleh sikap investor yang masih getol memborong emas sebagai aset lindung nilai jitu melawan inflasi. Namun, penguatan harga emas harus tertahan oleh keperkasaan nilai indeks Dolar AS.

Sekadar informasi, kenaikan nilai Dolar AS akan membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi mereka yang jarang bertransaksi menggunakan mata uang tersebut. Akibatnya, permintaan emas akan berkurang dan kilau harganya pun kian redup.

Pasar Domestik Sepekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) undur diri di level 6.720 pada Jumat (19/11), naik 1,26% dibanding penutupan sesi perdagangan sebelumnya. Hal ini sekaligus menandai rekor terbaru sepanjang masa bagi sang indeks domestik.

Jika dilihat dalam sepekan terakhir, maka IHSG sudah sukses menguat 1,04%.

Pasar Sepekan
IHSG cetak rekor baru. Sumber: Tradingview

Pergerakan IHSG pekan ini kelihatannya didorong oleh performa apik saham sektor energi berkat harga batu bara yang rebound.

Sementara itu, saham sektor perbankan, utamanya empat bank berkapitalisasi jumbo yakni BBCA, BBNI, BBRI, dan BMRI, masih mengalami konsolidasi. Tapi, kisah berbeda ditampilkan oleh saham sektor bank digital. Kinerja emiten seperti BBYB, AGRO, dan BNBA justru terlihat moncer dan menjadi katalis positif bagi IHSG.

Di samping itu, pergerakan IHSG pekan ini sepertinya juga banyak didorong oleh kabar aksi korporasi ketimbang berita ekonomi. Salah satunya adalah kabar mengenai aksi rights issue BBYB yang akhirnya disetujui Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kemudian, ada juga kabar mengenai platform investasi Ajaib Sekuritas yang akan membeli BNBA.

Sementara dari sisi kebijakan, pemerintah memutuskan untuk terus melarang ekspor nikel walaupun Indonesia terus mendapat tekanan dari negara-negara barat. Presiden Joko Widodo tampaknya akan terus menahan ekspor nikel setelah melihat besarnya potensi industri pengolahan nikel di Indonesia, salah satunya adalah baterai mobil listrik.

Nah, kalau nikel diekspor terus, Indonesia bisa-bisa kehilangan potensi pendapatan luar biasa. Apalagi permintaan mobil listrik akan kuat lima hingga 10 tahun mendatang. Makanya, tak heran jika Jokowi sangat protektif dengan nikel produksi tanah air.

Sementara itu, dari sektor konsumsi, pemerintah juga mengumumkan akan memotong suplai anak ayam pada November 2021. Langkah ini ditempuh demi menurunkan posisi oversupply daging ayam di pasar setelah data menunjukkan bahwa Indonesia kelebihan 24% daging ayam di pasar di bulan ini.

Kebijakan ini diharapkan bisa memberikan peternak ayam keuntungan yang lebih baik di akhir tahun.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img