Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Kabar: BI Tahan Suku Bunga, BTC Makin Ngebut!

Rangkuman kabar Selasa (17/10) membahas kebijakan Bank Indonesia menahan suku bunga dan memberi insentif kredit.

Simak selengkapnya di rangkuman kabar berikut!

Rangkuman Kabar Dalam Negeri

1. BI Tahan Bunga Acuan 3,5%

Jelang implementasi tapering, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) memutuskan untuk menahan bunga acuan 3,5%.

Gubernur BI Perry Warjiyo juga mengumumkan bawa suku bunga deposit facility dan lending facility juga ditahan masing-masing di level 2,75% dan 4,25%.

Apa Implikasinya?

Mempertahankan suku bunga acuan dalam situasi sekarang ini diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan. Selain itu, menaikan bunga terlalu cepat bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi. Apalagi, saat ini ekonomi indonesia mulai menemukan momentumnya setelah pertambahan kasus COVID-19 melambat serta kenaikan harga komoditas yang tak kunjung usai.

2. Kebijakan DP Otomotif 0% Lanjut Sampai 2022

Bank Indonesia melanjutkan ketentuan uang muka (down payment/DP) 0% untuk kredit properti dan kendaraan bermotor hingga 31 Desember 2022 mendatang.

BI juga melanjutkan pelonggaran rasio loan to value (LTV) kredit/pembiayaan properti hingga 100%. Ketentuan ini berlaku untuk semua jenis properti yang akan dicicil seperti rumah tapak, rumah susun, ruko dan rukan.

Apa Implikasinya?

Memberi insentif DP 0% dan pelonggaran LTV dapat mendongkrak kinerja perbankan sebagai lembaga intermediasi. Dengan kata lain, kebijakan ini diharapkan mampu mengerek pertumbuhan kredit konsumsi dalam negeri.

Semakin bergeliatnya aktivitas konsumsi akan berdampak positif bagi ekonomi mengingat konsumsi adalah satu dari empat komponen utama pembentuk Produk Domestik Bruto.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Batu Bara jadi Primadona, Ekonomi China Merana

Rangkuman Kabar Manca Negara

1. ETF Bitcoin Mulai Diperdagangkan, Harga BTC Terbang

Exchange Traded-Fund (ETF) Bitcoin pertama di dunia mulai diperdagangkan di bursa New York Stock Exchange (NYSE), hari ini. Produk berbasis futures tersebut akan diperdagangkan dengan ticker BITO.

Perseroan yang mengajukannya, ProShare, telah mengumumkannya sejak akhir minggu lalu. Hanya saja, peredarannya belum mendapat persetujuan resmi dari Komisi Sekuritas dan Bursa (Securities and Exchange Commission/SEC) Amerika Serikat.

Setelah ini, bursa Kanada dan Eropa dikabarkan berencana mengikuti jejak Amerika serikat untuk mulai memperdagangkan produk serupa di pasar keuangannya.

Berkat keberhasilan BITO melantai di bursa, harga BTC pun melambung. Berdasarkan data coinmarketcap, BTC sudah terapresiasi 8,71% dalam seminggu. Hari ini, BTC dieprdagangkan di kisaran US$61.311,96 per keping.

Apa Implikasinya?

ETF Bitcoin akan menjadi alternatif produk investasi yang inovatif. Selain memperdalam pasar keuangan, BITO juga membuat permintaan terhadap BTC meningkat, sehingga dapat menjadi bahan bakar untuk melanjutkan reli Bitcoin yang masih bertenaga. Selain itu pelemahan Dolar AS saat ini juga bisa menjadi katalis positif untuk pergerakan harga BTC.

Di sisi lain, persetujuan SEC terhadap produk ETF ini juga menjadi bukti bahwa Bitcoin kini mulai diakui sebagai salah satu instrumen investasi “sahih” dan mampu bersanding dengan kelas-kelas aset tradisional lainnya.

2. Komoditas Energi Masih Bertenaga

Harga minyak dunia jenis Brent naik 0,4% menjadi US$ 84,68 per barrel. Sementara itu, US West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami apresiasi 0,9% menjadi US$83,14 per barel

Terdapat banyak faktor di balik reli harga minyak dunia yang kian bertenaga. Selain krisis energi di China, turunnya temperatur selama musim dingin serta belum pulihnya produsen minyak dari dampak badai topan Ida mendalangi peristiwa tersebut.

Tak hanya minyak, batu bara pun bernasib serupa. Hari ini, harga batu bara China menanjak 7,8%. Mahalnya harga minyak dan gas bumi beberapa waktu belakangan membuat banyak pengguna listrik memutuskan untuk beralih ke energi yang murah seperti batu bara, meski kurang ramah lingkungan.

Apa Implikasinya?

Terdapat sisi positif dan negatif yang diterima Indonesia dari kenaikan harga minyak bumi dan batu bara.

Di satu sisi, sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga minyak dunia akan mengerek nilai impor Indonesia. Kenaikan nilai impor, sayangnya, akan menggerus surplus neraca dagang Indonesia. Susutnya neraca dagang sendiri akan berimbas ke penurunan nilai cadangan devisa.

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga akan mengerek tingkat inflasi domestik. Kondisi tersebut tentu akan menjadi “duri dalam daging” bagi upaya pemulihan ekonomi dalam negeri.

Namun di sisi lain, surplus neraca dagang Indonesia nampaknya masih bisa diselamatkan oleh nilai ekspor batu bara. Sekadar informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa ekspor batu bara mengambil 70,33% dari total ekspor komoditas Indonesia September lalu.

Tak sampai di situ, kenaikan harga komoditas juga akan mempertebal kantong penerimaan negara dalam bentuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Penerimaan negara adalah poin krusial dalam keuangan negara, mengingat kebijakan anggaran Indonesia saat ini dan tahun depan masih bersifat ekspansif.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Bisnis Indonesia, Bank Indonesia, Reuters, Investing

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img