Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Kabar: Data Manufaktur RI Menghijau, Harga Batu Bara Kian Galau

Mengawali pekan ini, Senin (1/11), rangkuman kabar berisi sejumlah berita manis dari perekonomian dalam negeri yang mulai bangkit. Pelan tapi pasti, pulihnya daya beli masyarakat terkonfirmasi lewat inflasi dan PMI Manufaktur yang ikut menghijau.

Yuk, simak selengkapnya di rangkuman kabar berikut!

Rangkuman Kabar Dalam Negeri

1. Inflasi Oktober 0,12%

Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia secara bulanan naik 0,12% di bulan Oktober. Indonesia akhirnya berhasil mencatat inflasi setelah mengalami deflasi 0,04% pada September akibat turunya daya beli masyarakat.

Inflasi terjadi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau juga tarif transportasi sebagai dampak pelonggaran kegiatan masyarakat. Dengan demikian, maka inflasi tahun kalender (year to date/ytd) hingga Oktober tercatat sebesar 0,93%. Sementara itu, Indonesia mencatat inflasi tahunan sebesar 1,66%.

Apa Implikasinya?

Kenaikan inflasi mengindikasikan kenaikan permintaan masyarakat alias terdapat pertumbuhan konsumsi barang dan jasa di dalam negeri. Data ini bisa menjadi sinyal bahwa pertumbuhan konsumsi di kuartal IV akan terus membaik, sehingga bisa menopang pertumbuhan ekonomi.

Namun, pemerintah dan bank sentral perlu berhati-hati dalam memantau inflasi. Sebab, jika inflasi tak terkendali, maka hal itu justru bisa menjadi “duri dalam daging” bagi upaya pemulihan ekonomi dalam negeri. Ujungnya, inflasi yang tak terkendali bisa mengarahkan Indonesia ke kondisi stagflasi, seperti yang dialami oleh negara-negara lainnya saat ini.

2. Indeks Manufaktur RI Oktober Pecah Rekor

IHS Markit melaporkan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Oktober 2021 mencapai angka 57,2 atau meningkat dari 52,2 pada September. Nilai tersebut merupakan rekor tertinggi yang memecahkan rekor sebelumnya di bulan Mei 2021 yakni 55,3.

Pencapaian ini juga menandai bulan kedua PMI Manufaktur Indonesia keluar dari zona kontraksi dibulan Juli dan Agustus. Pada laporannya, IHS Markit menyebut terkendalinya kasus COVID-19 dan pelonggaran PPKM membuat sektor manufaktur tumbuh cepat.

Apa Implikasinya?

Sekadar informasi, PMI manufaktur yang berada di atas 55 mengindikasikan bahwa kegiatan manufaktur sebuah negara tengah dalam fase ekspansi. Hal ini sejalan dengan data perekonomian lainnya yang menyatakan bahwa ekonomi Indonesia mulai bangkit lagi setelah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di awal kuartal III.

Kenaikan produktivitas manufaktur akan menimbulkan efek pengganda ekonomi yang luas. Misalnya, kenaikan lapangan pekerjaan, kenaikan pendapatan, hingga kenaikan nilai ekspor. Seluruhnya akan bermuara ke pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Baca juga: Kabar Sepekan: Ekonomi AS Memble, Kinerja Koin Meme Kian Kece

Rangkuman Kabar Manca Negara

1. Jelang FOMC, Indeks PCE AS Melemah

Bureau of Economic Analysis (BEA) mencatat bahwa indeks pengeluaran AS (personal consumption expenditure/PCE) masyarakat pada September meningkat secara bulanan sebesar US$93,4 miliar atau 0,6%.

Kenaikan PCE September lebih kecil ketimbang Agustus yang mencapai 1%. Kenaikan tersebut didorong oleh pengeluaran di bidang jasa kesehatan, akomodasi dan restoran yang meningkat September lalu saat kasus COVID-19 sempat mengalami penurunan.

Apa Implikasinya?

Data tersebut mencerminkan masih tingginya permintaan karena daya beli masyarakat yang baik meski terdampak oleh persoalan rantai pasok. Jika permintaan tinggi saat pasokan terkendala, tentu inflasi Amerika Serikat kemungkinan akan terkerek.

Selain itu, PCE sendiri merupakan salah satu indikator perekonomian yang dipakai oleh punggawa moneter Federal Reserve dalam mengambil keputusan. The Fed sendiri akan menggelar rapat umumnya yakni Federal Open Market Committee (FOMC) pada Selasa dan Rabu besok waktu setempat.

2. Sakti, Jurus China Bikin Harga Batu Bara Terjun Bebas

Kontrak batu bara di pasar Zhengzhou Commodity Exchange untuk bulan Januari rata-rata tergerus hingga 925,2 yuan atau sekitar US$144,48 per ton pagi ini. Dengan kata lain, harga batu bara telah terjun bebas sebesar 9,26% dalam sehari saja.

Bahkan, jika dibandingkan dengan nilai tertingginya pada 19 Oktober lalu, harga batu bara telah susut 53%.

Hal ini terjadi setelah National Development and Reform Commission (NDRC) berencana untuk mengintervensi harga batu bara di China setelah harganya meradang beberapa pekan terakhir.

Apa Implikasinya?

Bagi China, intervensi pemerintah atas harga batu bara bisa menurunkan tarif listrik. Tarif listrik turun nantinya akan dinikmati oleh pelaku industri manufaktur, sehingga ongkos produksi mereka bisa ditekan.

Nah, ongkos produksi yang melandai akan meningkatkan produktivitas manufaktur China bisa naik. Hal itu nantinya akan bikin pertumbuhan China terangkat dan ujungnya berpengaruh ke pertumbuhan ekonomi global, mengingat 18% PDB global berasal dari negara tirai bambu tersebut.

Sementara itu, bagi Indonesia, harga batu bara yang turun akan menyeret nilai ekspor komoditas Indonesia. Tapi, industri manufaktur Indonesia pun sejatinya masih mengimpor bahan baku dan bahan setengah jadi dari China. Sehingga, jika harga kedua barang impor kian murah, maka ongkos manufaktur Indonesia ikut efisien dan ujungnya bisa meningkatkan produktivitas manufaktur dalam negeri.

Tapi, dengan harga yang sudah bagus selama 2021, ada ekspektasi bahwa kenaikan harga batu bara akan memberikan sentimen positif untuk daya beli masyarakat indonesia. Harapannya, konsumsi masyarakat Indonesia akan segera pulih sebelum pandemi.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Reuters, Investing, Yahoo, Berita Resmi Statistik, Bisnis Indonesia

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img