Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Kabar: Surplus RI Makin Tokcer, Ekonomi China Terpantau Moncer

Rangkuman kabar di awal minggu ini, Senin (15/11) mengurai sejumlah data statistik dari domestik maupun mancanegara yang patut kamu simak agar investasimu makin moncer.

Rangkuman Kabar Domestik

1. Indonesia Cetak Surplus Dagang Lagi

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia terbilang US$5,73 miliar pada Oktober. Dengan demikian, maka surplus dagang Indonesia mencetak rekor tertingginya sepanjang masa.

Surplus ini terjadi setelah Indonesia mencatat ekspor US$22,03 miliar sementara impor terbilang di level US$16,29 miliar. Usut punya usut, moncernya surplus perdagangan Indonesia disebabkan oleh kenaikan nilai komoditas pada bulan lalu, misalnya batu bara dan harga minyak kelapa sawit mentah.

Apa Implikasinya?

Kenaikan surplus perdagangan dapat mengurangi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). CAD yang lebih kecil kerap dijadikan tolok ukur sebagai fundamental yang baik dari suatu negara.

Di samping itu, kenaikan surplus perdagangan juga bikin pundi-pundi cadangan devisa Indonesia bertambah. Sekadar informasi, Bank Indonesia kerap menggunakan cadangan devisa untuk mengintervensi pasar valuta asing demi menstabilkan nilai tukar Rupiah.

2. Utang Luar Negeri Membengkak

Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia sebesar US$423,1 miliar atau setara Rp6.008 triliun pada akhir kuartal III 2021. Angka ini tumbuh 3,7% secara tahunan, lebih tinggi ketimbang pertumbuhan tahunan ULN kuartal II 2021 yakni 2%.

Penyumbang terbesar pertumbuhan ULN ialah utang bank sentral yang tumbuh US$6,3 miliar menjadi US$9,1 miliar. Lonjakan disebabkan oleh alokasi Dana Moneter Internasional yang mencairkan Special Drawing Rights (SDR) Agustus lalu. Namun, utang ini tidak dikategorikan pinjaman lantaran tidak menambah beban bunga utang.

Sementara utang pemerintah maupun swasta sama-sama mengalami perlambatan dibanding kuartal sebelumnya.

Apa Implikasinya?

Kenaikan utang luar negeri sejatinya menambah arus masuk Dolar AS ke Indonesia. Nah, aliran Dolar AS tersebut sejatinya bisa digunakan BI sebagai cadangan valas demi menstabilkan kurs Rupiah. Apalagi, utang dalam bentuk SDR memang berguna untuk meningkatkan cadangan devisa negara yang amat dibutuhkan guna menjaga kestabilan nilai tukar dan neraca pembayaran saat kondisi global tengah bergejolak.

Hanya saja, utang tersebut perlu dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan risiko sistemik bagi sektor keuangan Indonesia.

Baca juga: Kabar Sepekan: Bitcoin Makin Cuan, Stagflasi Terus ‘Gentayangan’

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. SEC Tolak Aplikasi ETF Berbasis Bitcoin

Securities and Exchange Commission (SEC) memutuskan untuk menolak izin produk Exchange-Traded Fund (ETF) berbasis Bitcoin dari manajer investasi global VanEck.

Padahal bulan lalu, SEC menyetujui dua produk yang serupa namun tak sama dari manajer investasi lain. Perbedaan mendasar yang membuat ETF milik VanEck ditolak ialah basis Bitcoin murni alih-alih kontrak future seperti dua produk sebelumnya.

Apa Implikasinya?

ETF Bitcoin telah menjadi instrumen investasi baru yang palig diburu dalam beberapa bulan terakhir. Karenanya, banyak MI berlomba-lomba mengajukan produk tersebut agar dapat diperdagangkan oleh perusahaannya.

Penolakan ETF milik VanEck memberi batasan kepada para MI mengenai produk seperti apa yang dapat diterima dan mana yang akan ditolak. Selain itu, penolakan ini juga memberi sinyal negatif kepada pasar mengenai sisi keamanan Bitcoin yang masih dipertanyakan oleh SEC.

2. Industri di China Mulai Menggeliat

National Bureau of Statistics (NBS) China mencatat output industri di China tumbuh 3,5% secara tahunan pada Oktober lalu, sedikit lebih baik ketimbang pertumbuhan September yakni 3,1%.

Pertumbuhan juga terjadi pada penjualan retail yakni 4,9% secara tahunan. Lebih baik ketimbang pertumbuhan September 4,4%.

Sayangnya, geliat industri tersebut juga diberengi dengan peningkatan kasus Covid 19 yang memaksa sejumlah wilayah industri membatasi aktivitas warganya. Sehingga, para ekonom memprediksi hingga akhir tahun ini ekonomi China akan kembali melambat.

Apa Implikasinya?

Output industri yang meningkat berikut dengan penjualan ritel mencerminkan geliat perekonomian China yang tengah berjuang untuk bangkit di tengah hantaman berbagai persoalan yang menerpa negara tersebut, dari mulai krisis energi hingga merebaknya kembali virus COVID-19.

Geliat ekonomi China tentu akan berdampak besar bagi ekonomi global. Maklum, China menyumbang 18% Produk Domestik Bruto (PDB) global.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investing, Kontan, Berita Resmi Statistik

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img