Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Kabar: Harga Komoditas Naik Daun, Surplus Dagang Melandai

Rangkuman kabar di akhir pekan Jumat (15/10) mencakup surplus neraca dagang yang melandai. Selain itu, terdapat kabar lain yang sayang untuk Sobat Cuan lewatkan!

Rangkuman Kabar Dalam Negeri

1. Neraca Dagang September Surplus

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan September sebesar US$4,37 miliar. Surplus tersebut lebih kecil ketimbang bulan Agustus yang mencapai US$4,74 miliar.

Indonesia mencatat surplus perdagangan setelah mencetak ekspor US$20,6 miliar dan impor US$16,23 miliar. Dengan demikian, surplus bulan lalu merupakan surplus ke-17 secara berturut-turut bagi neraca dagang Indonesia.

Apa Implikasinya?

Meski nilainya susut pada September, surplus neraca dagang masih bisa menambah pundi-pundi cadangan devisa tanah air. Meningkatnya cadangan devisa tentu akan memperkuat nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS, lantaran Bank Indonesia selalu menggunakan cadangan devisa untuk mengintervensi pasar valas.

Meski demikian, surplus dagang Indonesia di Oktober bisa kembali merangkak naik mengingat harga komoditas, seperti minyak kelapa sawit mentah dan batu bara, terlihat ngegas di bulan ini.

2. OJK: IPO Perusahaan Teknologi Paling Diminati

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen mengungkap tingginya minat investor ritel terhadap perusahaan teknologi yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Penawaran Umum Perdana (IPO) perusahaan teknologi di BEI kerap meningkatkan kapitalisasi pasar dan menggaet investor baru. Tak heran, sebab investor selalu melirik sektor yang sedang hits sebagai tujuan investasinya.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia per Juli 2021, nilai transaksi uang elektronik naik 57,71% secara tahunan ke angka Rp 25,4 triliun. Nilai transaksi perbankan digital juga tumbuh 53,08% di angka Rp 3.410 triliun, demikian dengan volume transaksi perbankan digital yang meningkat 56,07% secara tahunan menjadi 649,8 juta transaksi.

Apa Implikasinya?

IPO perusahaan teknologi dapat mendongkrak kapitalisasi pasar berkat animo besar investor ritel. Data ini dapat menjadi titik tolak untuk meningkatkan partisipasi investor ritel domestik.

Meski kerap berinvestasi dalam jumlah kecil, basis investor domestik yang besar dapat mengurangi gejolak pasar. Utamanya, untuk menahan arus modal keluar alias capital outflow.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Inflasi AS Melambung, Rupiah Ketiban Untung

Rangkuman Kabar Manca Negara

1. Bitcoin Hampir Menyentuh US$60.000 per Keping

Reli aset kripto Bitcoin terus berlanjut hingga mendekati level US$60.000 per keping. Reli ini diprediksi bikin BTC dapat memecahkan rekor tertingginya April lalu ketika nilainya sempat berada di level US$64.804 per keping.

Salah satu sentimen positif yang mendorong naiknya harga Bitcoin ialah rumor bahwa Securities and Exchange Commission (SEC) akan memberikan izin Exchange Traded Fund (ETF) berbasis kontrak Bitcoin pekan depan.

Apa Implikasinya?

Karakteristik trader aset kripto yang gemar membeli saat rumor merebak dan menjual saat rumor terkonfirmasi akan membuat reli ini berlanjut setidaknya hingga minggu depan.

Di sisi lain, persetujuan SEC terhadap produk ETF ini juga menjadi bukti bahwa Bitcoin kini mulai diakui sebagai salah satu instrumen investasi “sahih” dan mampu bersanding dengan kelas-kelas aset tradisional lainnya.

2. Komoditas Energi Terbang Berjemaah

Harga minyak dunia, batu bara dan gas alam semakin buas di tengah krisis energi yang melanda dunia jelang musim dingin tahun ini.

Hari ini, harga batu bara di pasar komoditas Zengzhou menembus rekor tertingginya setelah terapresiasi lebih 5% menjadi 1.647 Yuan atau senilai US$256 per ton.

Senada, harga minyak jenis Brent kembali menguat 1% menjadi US$84 per barel. Ini merupakan level harga tertinggi sejak Oktober 2018.

Tak mau ketinggalan, harga gas alam telah terapresiasi 105% sejak awal tahun kini berada di level harga US$5,73 per MMBTU. Harga ini diprediksi masih terus reli selama musim dingin hingga mencapai US$ 7-8 per MMBTU.

Apa Implikasinya?

Kenaikan harga komoditas energi memang selalu bikin waswas lantaran bisa menjadi komponen inflasi paling tinggi. Nah, kenaikan inflasi energi diramal akan menjadi momok ekonomi global mengingat hal itu terjadi di tengah upaya pemulihan ekonomi beberapa negara pasca diterjang pandemi COVID-19.

Dengan demikian, krisis energi kali ini bisa memperparah kondisi stagflasi. Yakni, kondisi di mana inflasi terlihat meradang meski pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja masih belum mumpuni.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Kontan, Investing, Coin Telegraph, Natural Gas Intel, Kompas

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img