Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Kabar: Batu Bara jadi Primadona, Ekonomi China Merana

Rangkuman kabar Senin (18/10) masih ramai membahas krisis energi yang kian meluas dan pertumbuhan ekonomi China yang makin memble.

Simak selengkapnya di rangkuman kabar berikut!

Rangkuman Kabar Dalam Negeri

1. Pemerintah Upayakan Insentif Hilirisasi Batu Bara

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengupayakan sejumlah insentif guna mendorong pengusaha batu bara untuk melakukan hilirisasi.

Terdapat 9 insentif yang kini tengah dibahas, di antaranya adalah royalti 0% untuk batu bara yang digunakan dalam kegiatan Peningkatan Nilai Tambah (PNT), formula harga khusus batubara untuk gasifikasi, dan masa berlaku Izin Usaha Pertambangan (IUP) sesuai umur ekonomis proyek gasifikasi.

Apa Implikasinya?

Upaya memberi insentif di tengah tingginya permintaan global terhadap batu bara merupakan langkah cerdas. Selain untuk menambah nilai ekonomi batu bara, juga, menyerap tenaga kerja, insentif ini akan mengoptimalkan momentum melonjaknya harga batu bara untuk mendorong pemulihan ekonomi.

2. Ekonom Proyeksikan BI Tahan Suku Bunga Acuan

Sejumlah ekonom memproyeksikan suku bunga acuan akan ditahan pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) bulan ini. Sebagaimana diketahui, BI-7 Days Reverse Repo Rate saat ini bertengger di level 3,5%.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan pendorongnya ialah tingkat inflasi yang rendah. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede malah berpandangan bahwa bunga acuan akan di tahan hingga akhir tahun nanti. Hal ini menilik kebijakan moneter Federal Reserve yakni tapering yang mulai diberlakukan bulan depan, berikut sejumlah gejolak global lainnya.

Apa Implikasinya?

Mempertahankan suku bunga acuan dalam situasi sekarang ini diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan. Selain itu, menaikan bunga terlalu cepat bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi karena saat ini ekonomi indonesia mulai membaik dimana perlambatan kasus COVID-19, serta kenaikan harga komoditas yang juga mendorong perbaikan ekspektasi PDB.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Harga Komoditas Naik Daun, Surplus Dagang Melandai

Rangkuman Kabar Manca Negara

1. Komoditas Energi Pecah Rekor Lagi

Harga batu bara di China meroket ke level tertingginya yakni US$284,15 per ton hari ini. Turunnya produksi batu bara lokal di China, diiringi meningkatnya konsumsi listrik hingga 12,9% sejak awal tahun, membuat pemerintah China kewalahan mengendalikan harga batu bara.

Setali tiga uang, harga minyak mentah dunia pun menembus rekor tertingginya. Minyak jenis Brent hari ini diperdagangkan di harga tertinggi US$ 86,04 per barrel, tertinggi sejak 2018. Sementarta jenis West Texas Intermediate (WTI) terapresiasi 1,2% di level US$ 83,73. Ini merupakan level tertinggi sejak Oktober 2014.

Temperatur di berbagai wilayah Eropa yang kian dingin diperkirakan akan terus mengerek harga komoditas energi dalam beberapa waktu mendatang.

Apa Implikasinya?

Reli harga komoditas energi mengindikasikan krisis energi yang memburuk. Namun, hal itu akan berdampak baik bagi kinerja ekspor Indonesia yang didominasi batu bara.

2. Krisis Energi Kian Menular, Kini Singapura Jadi Korban

Krisis energi yang melanda China, Eropa dan India telah meluas hingga ke Singapura.

Singapura menggantungkan 95% pasokan listriknya dari gas alam yang kini harganya tengah melambung. Dampaknya, setidaknya dua perusahaan pengecer listrik di sana, Ohm Energy dan iSwitch, menghentikan operasi lantaran harga yang beregejolak

Pembatasan ekspor gas alam dari Indonesia, tepatnya dari blok Natuna dan Sumatera Selatan merupakan biang keladi kenaikan harga tersebut. Meski telah meliberalisasi pasar listriknya, pemerintah Singapura meyakinkan pasar bahwa pihaknya akan tetap mengupayakan pasokan listrik yang memadai.

Apa Implikasinya?

Krisis energi yang meluas hingga ke negara tetangga yang menerima pasokan gas dari Indonesia merupakan peringatan dini agar situasi serupa tidak sampai terjadi di Indonesia. Hal ini menjadi alarm bagi Indonesia untuk menjaga ketahanan energinya di tengah nafsu menggenjot ekspor akibat kenaikan harga komoditas energi

3. Pertumbuhan Ekonomi China Melesu di Kuartal III

Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal III 2021 tercatat di 4,9% secara tahunan. Angka ini melandai dibanding triwulan sebelumnya 7,9%. Selain itu, pertumbuhan ekonomi China kali ini juga lebih rendah dibanding ekspektasi analis yakni 5%.

Biro Statistik Nasional China (NBS) mengutip ketidakpastian ekonomi global plus langkah menurunnya pinjaman bagi sektor properti China sebagai biang keladi pelemahan ekonomi negara tirai bambu tersebut. Produksi manufaktur China juga melambat sepanjang kuartal III.

Apa Implikasinya?

Lesunya pertumbuhan ekonomi China tentu akan berdampak terhadap kinerja ekonomi global mengingat 18,34% Produk Domestik Bruto (PDB) global disumbang oleh China. Selain itu, loyonya pertumbuhan ekonomi China juga bisa mempengaruhi pertumbuhan ekspor Indonesia ke negara tirai bambu tersebut.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Kontan, S&P Global, Reuters, Bisnis Indonesia

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img