Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Kabar: Pemerintah Hemat Utang, AS Lagi Kelimpungan

Rangkuman kabar Kamis (23/9) mengungkap penghematan utang pemerintah berkat sisa saldo anggaran. Masih banyak loh kabar lain yang sayang untuk dilewatkan!

Yuk, simak selengkapnya di rangkuman kabar berikut.

Rangkuman Kabar Dalam Negeri

1. Berkat SAL, Indonesia Hemat Utang 20%

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkap realisasi pembiayaan utang per Agustus 2021 tumbuh negatif secara tahunan yakni -20,5%. Ini merupakan imbas dari langkah pemerintah menggunakan saldo anggaran lebih alias SAL dalam menutupi defisit anggaran.

Adapun realisasi pembiayaan utang hingga Agustus adalah Rp567,4 triliun atau 47% dari target APBN 2021.

Apa Implikasinya?

Menurunnya pembiayaan utang merupakan indikasi bahwa pemerintah berupaya mengurangi rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Selain itu, menurunnya pembiayaan utang juga akan mengurangi pembiayaan bunga utang di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun-tahun berikutnya. Sehingga, pemerintah bisa fokus mengalokasikan belanjanya untuk pos-pos anggaran yang bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomo ketimbang membayar bunga utang dan cicilannya.

2. Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal III

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal III 2021 Indonesia akan berada di rentang 4% hingga 5% secara tahunan. Angka ini lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, di mana mantan direktur pelaksana Bank Dunia tersebut pernah memasang batas atas pertumbuhan ekonomi triwulan III di angka 5,7%.

Sri Mulyani mengatakan, pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), yang bikin kegiatan ekonomi terhenti sementara, menjadi biang keladi penurunan proyeksi tersebut.

Apa Implikasinya

Jika prediksi tersebut benar, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III akan lebih rendah dibanding kuartal II yakni 7,07% secara tahunan.

Penurunan pertumbuhan ekonomi tentu bisa menyurutkan minat investor untuk masuk ke pasar modal. Sebab, investor biasanya bisa mendulang cuan maksimal ketika ekonomi bertumbuh.

Selain itu, proyeksi ini bisa menjadi pijakan bagi Bank Indonesia untuk menentukan arah kebijakan moneternya ke depan. Utamanya, dalam menentukan apakah akan menaikkan suku bunga acuan atau tidak.

Meski demikian, proyeksi ini mengindikasikan bahwa indonesia masih mampu mempertahankan angka pertumbuhan ekonomi di zona positif meski dijegal pemberlakuan PPKM.

Rangkuman Kabar Manca Negara

1. The Fed Kasih Sinyal Tapering Mulai November

Ketua The Fed Jerome Powell mengungkap bahwa bank sentral AS akan mengurangi pembelian obligasi alias tapering akan dimulai bulan depan. Secara bertahap, pembelian obligasi akan dikurangi hingga dihentikan sama sekali hingga pertengahan 2022.

Lebih lanjut dia merinci bahwa hal ini akan dibahas lebih jauh pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) selanjutnya yakni 2-3 November 2021. Hingga proses tapering selesai, The Fed pastikan akan menahan bunga acuannya di level 0-0,25%.

Apa Implikasinya?

Meski tapering merupakan kebijakan yang mengerikan bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia, namun komunikasi yang jelas dari Federal Reserve patut diapresiasi.

Komunikasi ini membuat pelaku pasar dapat bersiap-siap mengantisipasi rangkaian kebijakan moneter The Fed, misalnya dengan mengatur ulang portofolio investasi.

2. Yellen Cari Dukungan Korporasi Agar Pagu Utang AS Bisa Naik

Menteri Keuangan AS Janet Yellen meminta bantuan pimpinan perusahaan finansial guna memuluskan RUU kenaikan ambang batas utang AS, yang sebelumnya telah diloloskan dewan legislatif AS.

Bala bantuan itu dibutuhkan lantaran RUU itu berpotensi ditolak Senat AS. Sebab, kubu oposisi Partai Republik berniat menjegal pengesahan RUU tersebut di Senat.

Apa Implikasinya?

RUU itu dibutuhkan demi mencegah pemerintahan AS shutdown gara-gara kekurangan biaya. Namun, shutdown-nya pemerintahan AS akan sangat berdampak buruk bagi perekonomian, utamanya saat ini ketika AS “dihajar” pandemi COVID-19.

Sebab, pemerintahan AS di bawah Presiden Joe Biden memiliki banyak agenda stimulus fiskal yang sedianya bisa menopang pertumbuhan ekonomi AS ke depan, sehingga kekurangan anggaran akan berdampak parah terhadap pemulihan ekonomi negara Paman Sam tersebut.

Langkah Yellen secara aktif meminta dukungan korporasi guna memuluskan beleid ini adalah sinyal kuat bahwa kondisi keuangan AS memang sedang genting.

Sumber: Tempo, CNN Indonesia, Investing, Reuters

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img