Currently set to Index
Currently set to Follow

Rangkuman Kabar: AS & Eropa Kena Stagflasi, Pemerintah Pangkas Cuti!

Rangkuman kabar akhir minggu, Jumat (29/10) mengurai gejala stagflasi yang melanda Amerika Serikat dan Zona Eropa. Simak selengkapnya, yuk!

Rangkuman Kabar Dalam Negeri

1. Pemerintah Pangkas Cuti Akhir Tahun!

Pemerintah memutuskan untuk memangkas cuti bersama akhir tahun demi mencegah penyebaran virus COVID-19. Keputusan itu dituangkan ke dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri yakni Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

Tak sampai di situ saja, pemerintah juga mengeluarkan surat edaran larangan cuti bagi abdi negara. Sementara bagi masyarakat, pemerintah memperketat syarat perjalanan dengan tes PCR dan antigen serta pengawasan lewat aplikasi PeduliLindungi.

Pemerintah juga memastikan pada pelaksanaan ibadah natal nanti akan dilaksanakan pengawasan ketat protokol kesehatan untuk memastikan tidak terjadi lonjakan gelombang ketiga.

Apa Implikasinya?

Bagi perekonomian, momentum libur panjang akhir tahun merupakan salah satu booster musiman penting yang dapat mendongkrak konsumsi masyarakat di kuartal IV. Pertumbuhan konsumsi sendiri sejatinya akan bermuara ke pertumbuhan ekonomi yang mumpuni.

Namun, keputusan itu dapat dipahami melihat tingginya lonjakan kasus COVID-19 di sejumlah negara yang terlalu cepat melonggarkan protokol kesehatannya. Jika Indonesia mengalami gelombang ketiga COVID-19, tentu proses pemulihan ekonomi yang tengah berjalan saat ini akan terganggu. Hal itu tentunya akan memberikan kerugian ekonomi yang lebih besar jika sampai terjadi.

2. Pertamina “Jual Rugi” Pertalite. Harganya Bakal Naik?

Harga eceran bensin jenis Pertalite saat ini Rp7.650 per liter ternyata jauh di bawah harga keekonomiannya. Menurut PT Pertamina (Persero), harga keekonomian Pertalite saat ini adalah Rp11.000 per liter akibat reli harga minyak dunia beberapa bulan terakhir.

Sementara itu, PT Pertamina (Persero) belum melakukan penyesuaian harga Pertalite. Pertamina kini tengah bernegosiasi dengan pemerintah untuuk mencari solusi agar perseroan tidak berlarut menanggung rugi.

Apa Implikasinya?

Jika Pertamina tidak bisa menanggung kerugiannya, maka pemerintah mau tak mau harus mengaminkan keinginan perusahaan pelat merah tersebut untuk mengerek harga Pertalite. Namun kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bisa memperburuk tingkat inflasi.

Inflasi sendiri bisa menekan daya beli dan menghambat pertumbuhan konsumsi, yang merupakan salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi. Kenaikan inflasi saat ini akan disayangkan mengingat Indonesia masih dalam tahap memulihkan ekonominya.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Investasi Domestik Unjuk Gigi, El Salvador Borong BTC Lagi

Rangkuman Kabar Manca Negara

1. Gara-Gara Rantai Pasok, Ekonomi AS Melambat

Amerika Serikat mencatat pertumbuhan ekonomi 2% secara tahunan pada kuartal III-2021. Angka tersebut merupakan rekor pertumbuhan terlambat semenjak pandemi yang dicatatkan oleh negara Paman Sam, jauh di bawah ekspektasi pasar semula yakni 7%.

Inflasi yang disebabkan hambatan sistem rantai pasok memicu perlambatan tersebut. Pasalnya, tingginya inflasi membuat masyarakat AS menurunkan konsumsi hingga 1,6%. Padahal, pertumbuhan konsumsi AS sempat melonjak 12% di kuartal II lalu. Konsumsi sendiri menopang 69% dari perekonomian Amerika Serikat.

Apa Implikasinya?

Data ekonomi AS teranyar tersebut kian mengonfirmasi keadaan AS yang mengalami ‘stagflasi’. Yakni, kondisi di mana inflasi menggila namun pertumbuhan ekonomi malah melambat.

Kondisi ini tentu akan bikin bank sentral AS The Fed pusing bukan kepalang. Betapa tidak, The Fed tentu akan memikirkan untuk mengetatkan kebijakan moneternya demi meredam inflasi. Namun, jika hal itu dilakukan, maka pertumbuhan ekonomi AS akan luka semakin parah.

2. Stagflasi Eropa Pecah Rekor Lagi

Zona Eropa mencatat inflasi 4,1% pada bulan Oktober. Inflasi Oktober merupakan inflasi tertinggi dalam 13 tahun yang pernah terjadi di benua biru, lebih tinggi dari konsensus ekonom yakni 3,7%.

Tingginya harga energi dan hambatan rantai pasok memegang pengaruh masif dalam capaian angka inflasi fantastis tersebut. Beruntung, lonjakan inflasi juga diikuti oleh kenaikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal III-2021 yakni 2,2% setelah hanya tumbuh 2% pada kuartal sebelumnya.

Sehari sebelum pengumuman inflasi tersebut, Presiden European Central Bank (ECB) Christine Lagarde mengumumkan bahwa ECB tetap menahan bunga acuan, namun akan memulai pengurangan pembelian surat utang sebagai bentuk stimulus ekonomi.

Lagarde melihat bahwa kenaikan laju inflasi merupakan konsekuensi dari pemulihan ekonomi di zona Eropa, disamping persoalan rantai pasok dna krisis energi.

Apa Implikasinya?

Tingginya inflasi di zona Eropa bulan ini berpotensi menekan ECB untuk segera menaikkan bunga acuan. Namun pernyataan Lagarde sehari sebelumnya mengonfirmasi bahwa hal tersebut belum akan terjadi dalam waktu singkat. Nampaknya, kondisi stagflasi di berbagai belahan dunia akan membuat bank sentral global sangat hati-hati dalam menerapkan kebijakan moneternya.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Tempo, Reuters, CNBC, Kontan

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img