Currently set to Index
Currently set to Follow

Antara Rebound dan Anjlok, Harga Bitcoin Berada di Titik Krusial Pekan Ini

Bitcoin dan altcoin sama-sama dilanda nasib kurang mujur pekan lalu. Sesuai analisis harga Bitcoin pekan lalu, keduanya sejatinya punya celah momen penguatan. Hanya saja, kekuatan para bears nampaknya lebih kuat, membawa mereka menutup pekan lalu di zona merah ke sekian kalinya.

Kondisi tersebut bisa terlihat di heatmap berikut ini.

Analisis Harga Bitcoin
Pergerakan harga Bitcoin dan altcoin beserta kapitalisasi pasarnya selama sepekan terakhir. Sumber: Coin360

Seperti yang terlihat di atas, harga Bitcoin terjungkal 7,7% dalam sepekan. Sementara itu, nilai beberapa altcoin seperti ADA dan ETH merosot dengan persentase dua digit. Hal itu menyebabkan nilai kapitalisasi pasar kripto lenyap US$100 miliar sepanjang pekan lalu.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi kepada Bitcoin dan altcoin?

Baca juga: Apa Sih Keterkaitan Harga Bitcoin dan Altcoin? Yuk Simak di Sini!

Analisis Harga Bitcoin Pekan Lalu

Secara teknikal, beberapa analis mengatakan bahwa melemahnya harga Bitcoin disebabkan oleh kurangnya akumulasi dari para traders. Mereka menilai bahwa pasar kripto penuh sesak akan spekulan yang mengambil untung kilat, sehingga aksi jual pun tak terbendung di pasar.

Melansir Cointelegraph, kondisi ini disebabkan oleh antisipasi pelaku pasar akan pembacaan tingkat inflasi Amerika Serikat (AS) dan komentar ketua The Fed Jerome Powell di hadapan kongres AS pada Rabu dan Kamis pekan lalu. Maklum, pelaku pasar mengantisipasi dua hal ini lantaran Bitcoin adalah aset yang diincar kala investor “berani” berinvestasi di aset berisiko.

Namun, beberapa analis menilai sebaliknya. Menurut mereka, data inflasi dan kebijakan moneter bukan satu-satunya faktor yang mengerek turun harga sang raja aset kripto tersebut.

Mereka berujar penurunan harga Bitcoin murni disebabkan oleh aksi investor yang keluar berjemaah dari pasar karena jengah melihat harga Bitcoin tidak bisa menembus level terbarunya.

Apalagi, Bitcoin belakangan tengah disorot seiring otoritas China yang terus “menguliti” pertambangan Bitcoin di negara tersebut. Plus, kini beberapa negara tengah memincingkan mata terhadap Binance, sebuah platform exchange kripto terbesar dari sisi volume perdagangan, yang tentu saja bikin pelaku pasar ragu-ragu untuk menginjak pasar cryptocurrency.

Belakangan, beberapa regulator jasa keuangan memang tengah melarang operasi Binance karena dianggap “berisiko tinggi” dan “aktivitasnya berseberangan dengan regulasi jasa keuangan di negara tersebut”. Terakhir, regulator jasa keuangan Italia sudah menabuh genderang penolakan terhadap Binance, mengikuti kawan-kawannya yang lain di Uni Eropa.

Meski demikian, maraknya sentimen negatif bukan berarti tidak ada angin segar yang mendorong harga Bitcoin. Adapun harga sang raja aset kripto sempat menanjak singkat setelah Bank of America dilaporkan menyalakan lampu hijau untuk mengaktifkan perdagangan Bitcoin berjangka.

Sementara itu, dua perusahaan pembayaran dunia, Visa dan Mastercard, juga masih mendukung Binance di tengah penolakan regulator jasa keuangan global.

Antara Rebound dan Anjlok, Harga Bitcoin Berada di Titik Krusial Pekan Ini, Pluang

Analisis Harga Altcoin Pekan Lalu

Sentimen negatif yang sama dari Binance juga melanda Altcoin. Namun, pukulan terberat bagi altcoin terjadi setelah ketua The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa Stablecoin perlu dibebani peraturan ketat, layaknya reksa dana pasar uang atau produk tabungan bank.

Hal ini lantaran stablecoin mengklaim telah mentautkan nilainya dengan satu aset tertentu. Namun nyatanya, nilainya ternyata malah dikaitkan dengan aset yang berbeda.

Dalam hal ini, Powell mencontohkan Tether (USDT). Di hadapan kongres AS, ia menyebut bahwa Tether mengklaim telah mentautkan nilainya dengan dolar AS. Padahal, lanjut Powell, USDT justru ditautkan dengan surat berharga komersial atau utang.

“[Stablecoin] adalah bagian dari sistem pembayaran sehingga mereka harus diatur,” jelas Powell pekan lalu. Hal itu tentu saja bikin investor ragu-ragu dalam berkecimpung lebih jauh di pasar kripto.

Meski demikian, terdapat pula kabar menggembirakan dari kancah altcoin. Salah satunya adalah suksesnya ujicoba hard fork blockchain Cardano yang disebut sebagai Alonzo White. Hard fork ini akan membawa Cardano selangkah lagi untuk bisa memanfaatkan teknologi smart contract, yang digadang akan membawa angin segar bagi harga ADA ke depan.

Baca juga: Di Tengah Harga Altcoin yang Lagi Melonjak, Kenapa Bitcoin Masih Lebih Baik?

Analisis Harga Bitcoin Pekan Ini

Setelah kembali mengalami pekan menyedihkan, lantas bagaimana analisis harga Bitcoin pada pekan ini?

Secara teknikal, Bitcoin memang masih membutuhkan dukungan dari akumulasi yang lebih banyak lagi. Sebab, indikator Relative Strength Index (RSI) bergerak di bawah angka 50. Hal ini mengindikasikan bahwa aksi jual masih terjadi dan menuju area oversold, seperti yang terlihat di grafik BTC/USDT di bawah ini.

Indikator kaum bears yang masih menguasai pasar juga terlihat di pergerakan Exponential Moving Average (EMA) 20 hari yang juga memperlihatkan tren penurunan.

Analisis harga Bitcoin
Grafik harga BTC/USDT. Sumber: Tradingview

Melansir Cointelegraph, Bitcoin kini mendekati titik krusialnya yakni US$31.000. Jika kaum bears berhasil menguasai pasar maka harga Bitcoin bisa saja terjun ke titik support terbarunya di US$28.000 per keping.

Menurut analisis, titik US$28.000 hingga US$31.000 disebut titik kritis lantaran bisa menimbulkan sentimen pelaku pasar untuk melikuidasi asetnya secara lebih dalam. Kalau tidak diantisipasi, harga Bitcoin bisa terjun ke angka US$20.000.

Namun, jika kaum bulls bisa menguasai pasar, maka tentu saja harga sang raja kripto tentu bisa rebound. Bahkan, aksi jual di pasar bisa berkurang drastis dan berubah jadi akumulasi jika harganya tembus angka Simple Moving Average (SMA) selama 50 harinya, yakni US$34.925, maka ada kemungkinan harga Bitcoin bisa finish di US$36.670 per keping.

Dari sisi fundamental, tentu saja sentimen adopsi Bitcoin dibutuhkan agar harga sang raja aset kripto kembali menanjak. Salah satu sentimen itu diembuskan oleh pemimpin MicroStrategy Michael Saylor yang mengatakan bahwa perusahaan tidak akan melepaskan Bitcoin apapun alasannya.

Saat ini, Microstrategy merupakan salah satu investor institusi terbesar Bitcoin dengan menggenggam 105.085 keping BTC atau setara US$3,3 miliar.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Cointelegraph, Cryptopotato

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img