Currently set to Index
Currently set to Follow

Data Inflasi AS dan COVID-19 Delta Jadi Penentu Harga Emas Pekan Ini

Minggu pertama Juli nampaknya menjadi masa yang gemilang bagi harga emas. Sebab, sang logam mulia tercatat kembali lagi ke level US$1.800 per ons setelah dua minggu lamanya bertengger di posisi US$1.700 per ons.

Memang, sesuai analisis harga emas pekan lalu, pergerakan emas memang akhirnya terangkat oleh rilis risalah rapat bank sentral Amerika Serikat The Fed serta perilisan data-data ekonomi mutakhir.

Lantas, seperti apa perjalanan emas sepanjang pekan lalu?

Analisis Harga Emas Pekan Lalu

Pergerakan harga emas selama minggu lalu dapat dilihat pada grafik berikut.

Analisis Harga Emas
Pergerakan emas sepekan lalu. Sumber: Tradingview

Harga emas mengawali pekan di level US$1.789 per ons dan mengakhirinya di level US$1.807 per ons. Penguatan ini disebabkan oleh reaksi investor yang beralih kembali ke emas setelah The Fed nampak mengerem sinyal hawkish, sebuah sikap yang selalu ditunjukkannya sejak pertengahan Juni.

Hal itu tercermin dari hasil risalah rapat bank sentral AS The Fed yang dirilis Rabu (8/7) waktu setempat.

Risalah tersebut menyebut bahwa otoritas moneter tersebut memang tengah mengarahkan kebijakannya ke arah tapering. Namun, pejabat The Fed menyebut bahwa kebijakan itu harus dilakukan secara sabar, mengingat ekonomi AS belum “mengalami kemajuan yang berarti”.

Hal ini menandakan bahwa The Fed tidak terburu-buru memasang sikap hawkish. Adapun sikap hawkish The Fed selama ini bikin investor bereaksi berlebihan terhadap emas. Terakhir, kesimpulan soal kenaikan suku bunga acuan dua kali di rapat FOMC The Fed pada Rabu (16/6) lalu bahkan membuat harga emas anjlok 7% di bulan Juni.

Selain itu, pelaku pasar pun meragukan soal laju pemulihan ekonomi AS yang digadang-gadang membaik.

Keraguan tersebut berhulu pada data Departemen Ketenagakerjaan AS yang merilis bahwa jumlah pengangguran yang mengajukan bantuan tunakarya pada pekan lalu meningkat 2.000 pendaftar dibanding pekan sebelumnya.

Hal ini bikin investor menduga bahwa pasar ketenagakerjaan mungkin belum sepenuhnya pulih setelah dihantam pandemi COVID-19. Data ini sekaligus mengonfirmasi data Non-Farm Payroll Juni yang dirilis dua pekan lalu bahwa pasar tenaga kerja AS kian mengetat

Alhasil, kondisi tersebut bikin pelaku pasar mulai kembali menyerbu pasar emas. Dan tentu saja, sesuai hukum ekonomi, meroketnya permintaan tentu akan tercermin ke kenaikan harganya.

Data Inflasi AS dan COVID-19 Delta Jadi Penentu Harga Emas Pekan Ini, Pluang

Analisis Harga Emas Pekan Ini

Setelah melalui pekan yang cukup optimistis, lantas bagaimana analisis harga emas pada pekan ini?

Nah, dalam hal ini, beberapa analisis mengatakan bahwa harga emas berpotensi meroket kembali di minggu ini.

Hanya saja, hal itu bisa terjadi dengan dua syarat. Yang pertama, data inflasi AS pada Juni mencatat pertumbuhan yang makin tajam. Yang kedua, The Fed tidak akan bereaksi terlalu keras terhadap hasil data inflasi tersebut.

Adapun rencananya, data inflasi AS akan diumumkan pada Selasa (13/7) waktu AS.

Pada Mei lalu, tingkat inflasi AS secara tahunan (year-on-year) berada di angka 5%. Sedangkan untuk bulan Juni, jajak pendapat ekonom yang dilakukan Reuters meramal bahwa tingkat inflasi tahunan akan berada di angka 4%.

Jika The Fed tidak berkomentar makin hawkish terhadap data tersebut, maka investor boleh bernapas lega.

Maklum, arah langkah The Fed menjadi sinyal bagi investor untuk memutuskan akan memborong emas atau justru menjualnya. Ketika Bank Sentral menganggap bahwa inflasi hanyalah bersifat sementara, maka suku bunga akan tetap dipertahankan rendah, dan itu akan menjadi keuntungan bagi emas.

Namun, jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka investor perlu pasang kuda-kuda. Sebab, arah kebijakan The Fed yang hawkish akan membuat investor memalingkan wajah dari emas dan menyerbu instrumen yang moncer kala rezim suku bunga tinggi. Utamanya, adalah obligasi pemerintah AS.

Baca juga: Dulu Dilupakan, Kini Dielukan. Kenapa Polkadot Bisa Jadi Aset Kripto Beken?

Pengaruh COVID-19 Varian Delta

Kendati demikian, investor tak boleh patah semangat. Sebab, minat investor untuk menjadikan sang logam mulia sebagai aset safe haven pun kini sedang meningkat. Penyebabnya, tidak lain dan tidak bukan, adalah mewabahnya COVID-19 varian delta.

Varian COVID-19 satu ini dianggap lebih berbahaya lantaran memiliki tingkat mortalitas yang tinggi serta laju penularan yang kencang. Kini, varian berbahaya tersebut sudah menyerbu 96 negara di dunia, termasuk Indonesia.

Kondisi itu bikin investor khawatir bahwa kegiatan ekonomi bisa kembali mengalami pembatasan. Sehingga, pertumbuhan ekonomi pun akhirnya bisa melambat, dan tentu saja mempengaruhi kinerja aset-aset berisiko seperti saham.

Nah, di masa-masa seperti ini, investor akan memburu emas yang memiliki lindung nilai terhadap kondisi ekonomi yang labil. Meroketnya lagi popularitas emas sebagai aset safe haven juga menyebabkan harga emas kokoh di posisi US$1.800 per ons di awal pekan.

Lantas, apakah emas masih bisa mempertahankan posisinya? Atau justru meroket lebih tajam lagi setelah perilisan data inflasi?

Baca juga: Didorong Sentimen Positif, Harga Emas Siap Mengarah ke US$1.800 Pekan Ini

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img