Currently set to Index
Currently set to Follow

Nasib Harga Emas Pekan Ini Berada di Tangan The Fed

Harga emas pekan lalu seolah berada dalam posisi “suam-suam kuku”. Sesuai analisis harga emas sebelumnya, harga emas memang didorong oleh sentimen positif dari sinyal pemulihan ekonomi. Utamanya, dalam bentuk data inflasi.

Lalu, seperti apa kinerja investasi emas pada pekan lalu?

Analisis Harga Emas Pekan Lalu

Sepanjang minggu lalu, harga logam mulia masih bergerak di kisaran US$1.900 karena investor mengantisipasi data inflasi AS. Investor mengantisipasi data itu mulai dari Senin (7/6) meski Biro Statistik AS baru merilis data tersebut pada Kamis (10/6).

Hasilnya, inflasi tahunan AS pada bulan Mei tercatat di posisi 5%, atau lebih kencang dibanding posisi April yakni 4,2%. Angka inflasi ini merupakan laju terkencang dalam 13 tahun terakhir.

Alhasil, harga emas pun kemudian terdongkrak naik. Hal ini memang lumrah, lantaran investor tentu akan memborong emas di kala inflasi merongrong.

Hanya saja, setelah itu, investor mulai kembali mencerna data inflasi tersebut. Mereka beranggapan, jika inflasi memang merupakan dampak dari pemulihan daya beli, maka ekonomi AS seharusnya tengah menuju pemulihan.

Nah, di saat-saat seperti ini, investor pun kemudian mengalihkan perhatian ke respons bank sentral AS, The Fed, dalam menanggapi tingkat inflasi tersebut. Apalagi, The Fed sebelumnya mengatakan bahwa mereka mungkin akan mengetatkan kebijakan moneter bila inflasi berada di atas 2%.

Dan kini, kekhawatiran pelaku pasar pun tercermin di dalam pergerakan harga emas di awal pekan.

Pada perdagangan Senin (14/6), harga emas kembali amblas 0,6% ke level US$1.864,58 per ons. Hal tu membuat harga emas berada pada titik terendahnya sejak 10 hari ke belakang atau tepatnya sejak 4 Juni 2021.

Baca juga: Tetap Cuan! Ini Dia Strategi Investasi Bitcoin Saat Harga Turun!

Nasib Harga Emas Pekan Ini Berada di Tangan The Fed, Pluang

Analisis Harga Emas Pekan Ini

Setelah mengawali pekan dengan lesu, lantas bagaimana analisis harga emas pada pekan ini?

Beberapa analis mengatakan bahwa pergerakan harga logam mulia selama sepekan bakal sangat rentan. Investor banyak menunggu hasil keputusan pertemuan The Fed pada 15 hingga 16 Juni mendatang yang dipercaya menjadi babak baru dalam pergulatan harga emas di bursa perdagangan.

Pada periode tersebut, The Fed bakal menggelar rapat terkait kebijakan lanjutan yang akan ditempuh, mulai dari suku bunga sampai dengan quantitative easing, demi merespons data-data ekonomi yang mumpuni dalam beberapa saat terakhir. Namun, sebelum peristiwa itu terjadi, pelaku pasar nampaknya cenderung memilih wait-and-see.

Beberapa analis mengatakan bahwa Rapat The Fed yang akan digelar pekan ini akan tetap menjaga fleksibilitas tapering off alias pengetatan. Kebijakan tersebut bisa terlihat dari quantitative easing yang akan dijalankan.

Saat ini, The Fed memang masih mempertahankan kebijakan quantitative easing dengan membeli obligasi pemerintah AS sebesar US$120 miliar per bulan. Namun, jika nilainya mulai dikurangi dan suku bunga acuan mulai ditarik ke level yang lebih tinggi, maka dibilang era pelonggaran sudah ditinggalkan.

Memang, The Fed sebelumnya sudah berkali-kali mengatakan masih belum berencana untuk mengetatkan kebijakan quantitative easing. Namun, nyatanya investor masih terus dibayangi kekhawatiran akan hal tersebut.

Hal ini terlihat dari perdagangan emas pada akhir pekan lalu yang tergelincir dibawah level US$1.900 per ons, dimana pada pasar spot harga emas mengalami penyusutan 1,2% menjadi US$1.875,31 per ons dan emas berjangka terkoreksi 0,9% ke angka US$1.986 per ons.

Harga emas yang terkoreksi menandakan bahwa pasar sudah mengantisipasi terjadinya hal tersebut dengan cara mengurangi pembelian emas dan memilih untuk masuk ke pasar uang.

Baca juga: Cara Memulai Investasi, hingga Exit Strategy dalam Investasi

Angin Segar Masih Akan Mendorong Harga Emas

Meski demikian, beberapa investor masih melihat emas sebagai instrumen lindung nilai inflasi yang lebih tinggi lagi.

Jeffrey Halley, analis pasar senior OANDA menjelaskan, kenaikan inflasi AS gagal memicu aksi jual, sehingga membuat imbal hasil obligasi pemerintah sedikit lebih rendah dan hal itu membantu emas untuk bangkit kembali. Adapun, penjelasan lengkap tentang hubungan harga emas dan yield obligasi pemerintah bisa dibaca di artikel berikut.

“Pertemuan The Fed kemungkinan akan membatasi kenaikan tajam dolar. Emas tampaknya akan menguji resistensi di US$1.920 awal minggu depan,”jelas Jeffrey

Selain itu, masih ada kemungkinan The Fed tidak akan mengetatkan kebijakan moneternya pekan ini. Menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters, investor tampaknya masih berkeyakinan bahwa pengumuman tapering off baru diumumkan pada bulan Agustus atau September.

Kendati demikian, di tengah kenaikan inflasi yang meradang, tetap tidak ada salahnya melindungi nilai kekayaan dengan investasi emas, bukan?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img