Currently set to Index
Currently set to Follow

Didorong Sentimen Positif, Harga Emas Siap Mengarah ke US$1.800 Pekan Ini

Pekan lalu menjadi momentum baik bagi harga emas. Di akhir pekan, harganya bergerak naik 1,73% dari US$1.730 per ons di awal pekan menjadi US$1.760 per ons di akhir pekan. Padahal, analisis harga emas di pekan sebelumnya menunjukkan bahwa logam mulia mungkin masih tertekan gara-gara optimisme pertumbuhan ekonomi AS.

Memang, sentimen pertumbuhan ekonomi AS masih menyeruak pekan lalu. Hanya saja, investor nampaknya sudah mulai khawatir dengan kenaikan tingkat inflasi ketimbang terus angin-anginan dengan sentimen optimisme pertumbuhan ekonomi.

Kecemasan investor tersebut berhulu dari dirilisnya tiga data penting AS. Yakni, klaim pengangguran, data indeks harga konsumen AS, serta data penjualan ritel AS. Seluruh data-data tersebut menunjukkan perbaikan, membuat investor meyakini bahwa daya beli tengah membaik dan inflasi sudah di depan mata.

Akhirnya, investor pun mulai mengabaikan aset lain dan mulai memborong emas sebagai aset lindung nilai. Nah, salah satu aset yang diabaikan investor adalah obligasi pemerintah AS, yang selama ini menjadi “musuh bebuyutan” logam mulia dalam mengambil kesempatan inflasi.

Pada Jumat pekan lalu, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun sudah mencapai 1,53% atau anjlok dari posisi awal pekan yakni 1,66%. Namun, banyak analis menganggap bahwa kondisi tersebut terbilang anomali.

Biasanya, dalam kondisi inflasi, investor berekspektasi bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga acuannya demi merespons peristiwa itu. Hal itu kemudian menyebabkan kenaikan tingkat imbal hasil obligasi AS. Ujungnya, investor akan berbondong-bondong menggenggam surat berharga tersebut.

Namun nyatanya, imbal hasil obligasi AS melemah. Beberapa analis menyebut, kondisi ini bisa jadi cerminan reaksi pelaku pasar yang takut bahwa inflasi ke depan bisa benar-benar tinggi. Sehingga, mereka beralih ke emas untuk melindungi nilai kekayaannya (hedging) di masa depan.

Baca juga: Harga Emas Mencoba Bangkit dari Serangan Dolar AS Pekan Ini

Analisis Harga Emas Pekan Ini: Emas Masih Berkibar

Setelah melalui akhir pekan yang gemilang, investor tentu penasaran dengan nasib harga logam mulia di pekan ini.

Harga emas diprediksi masih bakal menguat didorong anjloknya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan melemahnya nilai tukar dolar AS. Bahkan, ada pandangan yang mengatakan bahwa harga emas akan mencapai kisaran US$1.800 per ons.

Sinyal-sinyal akan hal tersebut sudah terjadi pada perdagangan Senin (19/4). Harga emas di pasar spot melayang ke angka US$1.781,75 per ons. Sementara harga emas berjangka AS naik 0,2% ke angka US$1.783 per ons. Dengan kata lain, secara mingguan, harga emas berhasil naik 2% dibanding pekan sebelumnya.

Lantas, mengapa imbal hasil obligasi pemerintah AS masih tertekan?

Dalam hal ini, investor menganggap bahwa bank sentral AS The Fed akan tetap menjaga suku bunganya lebih rendah dalam waktu yang lama. Kebijakan itu akan menambah beban obligasi pemerintah, yang secara berbarengan meningkatkan arus investasi di emas.

Kepala Ahli Strategi Pasar Global AXI, Stephen Innes mengatakan, emas akan tetap menjadi instrumen investasi yang diuntungkan dari langkah otoritas moneter AS yang berupaya menahan suku bunga di kisaran rendah. Sikap ini diambil The Fed meski mengetahui bahwa pertumbuhan ekonomi AS akan lebih cerah dan masih tetap ada potensi kenaikan inflasi.

“Dalam jangka panjang inflasi akan meningkat karena jumlah uang yang beredar akan bertambah banyak lantaran paket stimulus sudah berjalan,” katanya.

Nah, di sini, emas cenderung mendapatkan keuntungan dari langkah tersebut. Maklum, emas sendiri sampai saat ini dikenal sebagai produk investasi yang memiliki lindung nilai terhadap inflasi.

Baca juga: Harga Emas Tahun Ini Bersiap Dekati Rekor Tertinggi

Didorong Sentimen Positif, Harga Emas Siap Mengarah ke US$1.800 Pekan Ini, Pluang

Analisis Harga Emas: Logam Mulai Bersiap Menuju US$1.800 per ons Pekan Ini

Sementara itu, analis pasar senior OANDA Edward Moya menjelaskan, harga emas sudah mencapai level tertingginya sejak tujuh minggu terakhir. Jika memang emas masih bisa melanjutkan relinya, bukan tidak mungkin logam mulia bisa menembus batas harga US$1.800 per ons.

Sampai sekarang, tren harga emas berada pada jalur terbaik sejak periode pertengahan Desember lalu. Penurunan imbal hasil obligasi permerintah bertenor 10 tahun telah membuka gerbang pada pasar spot emas untuk menembus pergerakan rata-rata harian (SMA) pertama kalinya.

Sementara itu, konsumen emas terbesar di dunia, China telah memberikan lampu hijau keada bank domestik dan juga internasional untuk melakukan impor emas dalam jumlah besar ke dalam negeri. Hal itu ikut merangsang pergerakan harga emas ke level yang lebih tinggi lagi.

Menyoal kondisi geopolitik, meningkatnya tensi hubungan antara Amerika Serikat dengan Rusia juga mempengaruhi harga emas. Adapun memanasnya hubungan AS dengan Rusia dipicu oleh pernyataan Presiden AS, Joe Biden yang mengatakan bahwa Rusia mencampuri Pemilihan Umum AS tahun 2020 lalu.

Kondisi geopolitik yang sedang mendidih dikhawatirkan bisa membwa inflasi ke level yang lebih tinggi lagi. Imbasnya adalah, lagi-lagi, investor akan kembali memburu emas sebagai sandaran.

Baca juga: Harga Emas Menguat di Bawah Bayang Antisipasi The Fed dan Obligasi AS

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img