Currently set to Index
Currently set to Follow

Sikap Dovish The Fed dan COVID-19 Delta Akan Bikin Harga Emas Bullish

Harga emas akhirnya menunjukkan kekokohannya pada pekan lalu. Seperti yang tertulis di analisis harga emas pekan lalu, memang tingkat inflasi yang meradang jadi katalis positif bagi nilai sang logam mulia. Namun, harga emas kian terbang setelah ada sentimen tertentu dari bank sentral Amerika Serikat (AS).

Lantas, apakah sentimen tersebut? Dan bagaimana ulasan harga emas sepanjang pekan lalu?

Analisis Harga Emas Pekan Lalu

Pergerakan harga emas selama sepekan kemarin terlihat dari pergerakan grafik berikut.

Analisis Harga Emas
Pergerakan harga emas sepekan lalu. Sumber: tradingview

Dapat dilihat di atas bahwa harga emas memiliki kecenderungan meningkat sepanjang pekan kedua Juli. Pendorong utamanya adalah reaksi investor atas rilis data inflasi AS di bulan Juni yang ternyata melonjak drastis.

Biro Statistik dan Ketenagakerjaan AS merilis data inflasi Juni. Selasa lalu, lembaga tersebut mencatat bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) secara bulanan (month-to-month) Juni tercatat 0,9% atau melesat melebihi prakiraan ekonom yakni 0,5%.

Namun, jika dilihat secara tahunan (year-on-year), tingkat inflasi AS di Juni tercatat di 5,4%, atau 40 basis poin lebih tinggi dibanding Mei yakni 5%. Tingkat inflasi ini merupakan yang tertinggi dalam 13 tahun terakhir.

Sontak, hal tersebut tentu menjadi sentimen positif bagi logam mulia, yang selama ini dikenal sebagai aset pelindung nilai terhadap inflasi. Hanya saja, meski berdampak positif bagi nilai sang logam mulia, dorongan lebih kencang ternyata disumbang oleh bank sentral AS yang memasang sikap dovish perihal kebijakan moneternya.

Dalam rapat dengar pendapat dengan Kongres AS pada Rabu (14/7), Powell berujar bahwa tingkat inflasi diperkirakan akan bergerak ke arah yang moderat dalam beberapa bulan mendatang. Meski memang, tingkat inflasi AS dalam jangka pendek masih meledak-ledak, seperti yang terjadi tiga bulan belakangan.

Komentar yang sama juga ia lontarkan sehari kemudian, Kamis (15/7), dengan mengatakan bahwa The Fed sebenarnya cukup “cemas” dengan inflasi yang tinggi. Namun, otoritas moneter itu masih belum mau mengubah arah kebijakan moneternya. Bahkan, ia mengatakan bahwa saat ini adalah periode yang “terlalu cepat” untuk mengetatkan kebijakan moneter.

Ucapan Powell tersebut tentu bikin lega pemilik emas. Sebab artinya, The Fed secara langsung memberi sinyal kepada investor untuk tidak mengalihkan dananya ke produk-produk investasi yang gemilang saat rezim suku bunga tinggi. Utamanya, adalah obligasi pemerintah AS.

Sikap Dovish The Fed dan COVID-19 Delta Akan Bikin Harga Emas Bullish, Pluang

Analisis Harga Emas Pekan Ini

Setelah mengokohkan diri pada pekan lalu, lantas bagaimana analisis pergerakan harga emas pada pekan ini?

Beberapa analis mengatakan bahwa sang logam mulia masih berpotensi mencetak kinerja moncer setidaknya dalam satu bulan ke depan. Katalisnya adalah kebijakan moneter The Fed yang masih akomodatif terhadap pemulihan ekonomi.

Sehingga, sama seperti pekan-pekan sebelumnya, harga emas diprediksi tetap aman asal pejabat bank sentral AS tersebut tidak berkomentar macam-macam lagi mengenai kebijakan moneternya.

Di samping itu, permintaan emas, utamanya di negara-negara Asia, diperkirakan akan meningkat. Hal ini seiring kecemasan investor bahwa kegiatan ekonomi akan mengalami penutupan kembali seiring merebaknya penyakit COVID-19 varian Delta.

Menurut data terbaru, virus varian ini telah menginfeksi lebih dari 190,45 juta orang di seluruh dunia, di mana 4,25 juta di antaranya dilaporkan meninggal.

Alhasil banyak negara, khususnya yang berada di wilayah Asia berupaya untuk mengekang laju penyebaran varian tersebut. Beberapa negara bahkan sudah ada yang melakukan penguncian jalur masuk dari wilayah negara tertentu. Sementara itu, negara lainnya, termasuk Indonesia, juga memutuskan untuk menutup sementara kegiatan ekonominya.

Kondisi tersebut membuat kilau emas menjadi bersinar. Pasalnya, saat kondisi ekonomi dan politik tidak menentu, emas bisa dijadikan instrumen pelindung nilai. Terlebih, rezim suku bunga yang rendah membuat emas menjadi pilihan utama investor.

Melihat kondisi tersebut, Kepala Penelitian di Nirmal Bang Commodities Mumbai, Kunal Shah menjelaskan bahwa emas masih berpotensi untuk menguji di level US$1.900 per ons.

Baca juga: Harganya Turun, Sepenting Apa Sih Investasi Ethereum di Portofolio Kamu?

Sentimen Negatif Tetap Mengintai

Meski dihujani sentimen positif, bukan berarti sang logam mulia bebas dari risiko lainnya. Dalam hal ini, beberapa analis menaksir bahwa harga emas akan terancam dengan kekuatan salah satu musuh bebuyutannya, yakni nilai dolar AS.

Sepanjang pekan lalu, harga emas mengalami fluktuasi harga yang disebabkan oleh jungkat-jungkitnya nilai dolar AS. Hal ini cukup disayangkan, mengingat musuh sengit emas lainnya yakni tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS justru tersungkur di saat yang bersamaan.

Ahli strategi komoditas TD Securities Daniel Ghali mengatakan ketidakmampuan emas untuk mendapatkan keuntungan substansial dari pelemahan yield obligasi AS menunjukkan bahwa emas tetap rentan terhadap penurunan lebih lanjut.

“Meskipun penilaian emas lebih menarik secara relatif terhadap sekuritas yang dilindungi inflasi (TIPS) Treasury AS, alasan emas diperdagangkan dengan harga diskon adalah karena tidak memiliki keunggulan yang sama.” jelasnya.

Baca juga: Dulu Dilupakan, Kini Dielukan. Kenapa Polkadot Bisa Jadi Aset Kripto Beken?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Reuters, Gold Price

spot_img

Artikel Terbaru

Creative Lead

0

Pluang Pagi – Jumat 17 September 2021

0

Head Of Human Resources

0
spot_img