Currently set to Index
Currently set to Follow

Analisis Pekan Ini: Harga Emas Dihantui Obligasi AS, Ditopang Pertemuan AS-China

Pekan lalu menjadi masa penuh kebimbangan bagi emas. Ia mengawali dan mengakhiri pekan dengan harga di kisaran US$1.720 per ons. Hal ini memang bertolak belakang dengan analisis harga emas sepekan sebelumnya lantaran banyak peristiwa tak terduga yang muncul pada pekan lalu.

Awalnya, harga emas diprediksi kian terbang setelah mendapat embusan angin segar dari persetujuan stimulus fiskal Amerika Serikat sebesar US$1,9 triliun. Stimulus tersebut diharapkan bisa mendongkrak daya beli masyarakat AS dan akhirnya mendorong kenaikan tingkat inflasi yang lebih tinggi. Ketika inflasi tinggi, tentu investor akan memborong emas untuk melindungi kekayaannya dari gerusan inflasi, yang pada akhirnya juga menopang harga emas.

Sayangnya, angin segar tersebut berubah menjadi badai setelah pengumuman bank sentral AS, The Fed pada Rabu (17/3) lalu. Otoritas moneter itu seolah-olah memberi sinyal untuk “menghiraukan” kenaikan inflasi dan memilih menjaga suku bunga acuan mendekati 0%.

Investor kemudian memilih untuk panik dengan janji bank sentral tersebut dengan berasumsi bahwa kenaikan suku bunga acuan bisa saja terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan.

Alhasil, kejadian tersebut bikin investor mencoba cari cuan dengan beralih ke obligasi pemerintah AS. Imbal hasil surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun, misalnya, puas bertengger di posisi 1,6% setelah pengumuman tersebut.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS kemudian kian terbang pada Jumat (19/3) setelah The Fed mulai mewajibkan lagi perbankan untuk meningkatkan rasio utang suplementernya terhadap obligasi AS dan depositnya di bank sentral mulai April mendatang. Sebelumnya, The Fed tidak pernah memberlakukan kewajiban ini selama masa pandemi COVID-19. Hasilnya, imbal hasil obligasi AS bahkan menembus angka 1,7% di akhir pekan lalu.

Dalam sebulan terakhir, kenaikan tingkat imbal hasil obligasi menjadi momok bagi harga emas. Sebab, investor tentu akan lebih tertarik berinvestasi di aset yang punya imbal hasil tinggi ketimbang menggenggam emas, sebuah aset yang memang tidak menghasilkan imbal hasil secara periodik.

Serangkaian peristiwa yang penuh kejutan ini tentu akan bikin investor bertanya-tanya: Bagaimana nasib harga emas pada pekan ini?

Baca juga: Harga Emas Pekan Ini Dibayangi Harap-Harap Cemas Stimulus Fiskal AS

Analisis Pekan Ini: Harga Emas Dihantui Obligasi AS, Ditopang Pertemuan AS-China, Pluang

Analisis Harga Emas Pekan Ini: Bisa Menguat, Bisa Juga Kian Sekarat

Beberapa analisis mengatakan bahwa harga emas pada pekan ini diprediksi akan melanjutkan penguatan. Dorongan positif itu datang dari indeks dolar AS yang diprediksi terus melemah selepas pengumuman The Fed pekan lalu.

Pada perdagangan kemarin (21/3), indeks dolar AS sempat menyentuh level 92,157. Namun, pada perdagangan hari ini, dolar AS sempat bersender di angka 91,987.

Analis ED&F Capital Market, Edward Meir menjelaskan, pelemahan dolar AS juga akan diikuti dengan pelemahan imbal hasil suku bunga AS dengan tenor 10 tahun. Pada Senin (22/3), imbal hasil obligasi tersebut sudah mengarah ke level 1,68% atau melorot dari titik tertingginya 1,7% di akhir pekan lalu.

“Emas bisa lebih baik jika situasi harga mulai stabil,” katanya seperti dilansir Reuters.

Membincang suku bunga yang terus melandai, David Meger, Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures menambahkan hal ini memperlihatkan prospek pertumbuhan yang sesuai ekspektasi.

Pasalnya suku bunga yang relatif rendah membawa kekhawatiran akan naiknya inflasi. Sehingga instumen investasi yang dinilai memiliki fasilitas lindung nilai terhadap inflasi, yaitu emas, menjadi pilihan bagi investor.

Hal tersebut sesuai dengan janji The Fed yang berniat untuk terus mempertahankan suku bunganya mendekati nol. Sejalan dengan itu, diharapkan pertumbuhan ekonomi dan inflasi bisa lebih tinggi lagi di tahun ini. Meski begitu, dari sisi teknis harga emas dalam waktu dekat diprediksi akan resisten di level US$1,765 per ons.

Pandangan berbeda di katakan Michael Langford, Direktur di AirGuide. Ia melihat bahwa harga emas bisa kembali di atas level US$1.800 dengan melihat arah dari permintaan dolar AS ataupun paket stimulus besar lainnya yang diusulkan oleh Amerika Serikat.

Kondisi seperti ini ia kategorikan sebagai The Black Swan Moment, atau kondisi di mana keadaan internal dan eksternal tidak dapat diprediksi. Sama saat kejadian runtuhnya Lehman Brothers pada 2008 lalu.

Baca juga: Intip Kebijakan Ekonomi Presiden Baru AS Joe Biden

Analisis: Pertemuan Biden – China Bisa Jadi Sentimen Positif Harga Emas

Pada Kamis lalu (18/3), Pertemuan Tingkat Tinggi antara Amerika dan China digelar di negara bagian Alaska. Itu merupakan kali pertama Joe Biden sebagai Presiden AS memulai pembicaraan dengan China yang selama ini menjadi musuh dagangnya.

Namun, jika dilihat dari tensi pembicaraan yang sedari awal sudah memanas, hal ini tampaknya bisa menjadi sentimen yang baik untuk pergerakan harga emas ke depannya.

Pasalnya, emas juga dinilai bisa menjadi instrumen yang paling aman selama kondisi politik mengalami ketidakpastian.

Baca juga: Joe Biden Menang Pemilu AS, Saatnya Menambah Investasi?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img