Currently set to Index
Currently set to Follow

The Fed Jadi Kunci Harga Emas Menuju US$1.900 per Ons Pekan Ini

Pekan lalu kembali menjadi masa-masa gemilang bagi harga emas. Sang logam mulia mendapat banyak sekali dukungan, sehingga membuat harganya terbang mendekati US$1.900 per ons. Sebuah hal yang sudah diprediksi dalam analisis harga emas pekan lalu.

Pekan lalu, harga emas mengawali pekan di level US$1.850 per ons dan mengakhirinya di kisaran US$1.870 per ons. Kondisi ini ditopang oleh dua faktor utama, yakni melorotnya nilai tukar dolar AS dan juga tingkat imbal hasil obligasi Amerika Serikat.

Menurunnya nilai dolar AS akan membuat harga emas menjadi relatif lebih murah bagi investor yang jarang bertransaksi menggunakan dolar AS. Sehingga, permintaan emas bertambah, dan harganya pun terkerek naik.

Sementara itu, melemahnya yield obligasi AS bertenor 10 tahun menyebabkan investor memalingkan wajah dari instrumen tersebut dan beralih ke emas.

Namun, dua faktor tersebut hanyalah implikasi dari beberapa faktor fundamental yang mempengaruhi emas pekan lalu. Salah satunya adalah kekhawatiran investor atas tingkat inflasi yang semakin tajam di AS.

Dua pekan lalu, Departemen Ketenagakerjaan AS merilis bahwa tingkat inflasi tahunan AS pada April bertengger di angka 2,4%. Ini merupakan laju inflasi terkencang AS selama 12 tahun terakhir.

Saat ketakutan inflasi melanda perasaan investor, maka mereka segera memburu emas untuk melindungi kekayaannya dari gerusan inflasi. Makanya, tak heran jika permintaan emas terus meningkat.

The Fed Jadi Kunci Harga Emas Menuju US$1.900 per Ons Pekan Ini, Pluang

Harga Emas Gagal Tembus US$1.900 Gara-Gara Dua Sentimen

Sayangnya, reli harga emas harus tertahan oleh dua sentimen lain. Yang pertama adalah hasil risalah rapat The Fed yang dirilis Rabu (19/5).

Di dalam risalah tersebut, The Fed ternyata tengah mempertimbangkan pengetatan kebijakan moneter jika memang pertumbuhan ekonomi AS sudah dirasa cukup kencang.

Adapun kebijakan yang dimaksud adalah “mengetatkan” kebijakan operasi pasar terbuka. Yakni, kebijakan di mana The Fed akan menjadi penyerap utama obligasi negara sebesar US$120 miliar per bulan demi menambah suplai uang beredar di masyarakat. Tujuannya, adalah untuk meningkatkan daya beli dan mendorong ekspansi usaha.

Risalah rapat ini akhirnya bikin investor waswas. Sebab, bisa jadi The Fed nantinya juga mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan dalam merespons tingkat inflasi yang kencang di jangka menengah.

Sementara itu, sentimen kedua yang menghambat laju harga logam mulia adalah sinyal-sinyal optimisme ekonomi AS. Hal ini membuat investor kembali berminat menggenggam aset-aset berisiko, utamanya saham.

Optimisme investor tersebut muncul setelah perilisan data ketenagakerjaan yang terlihat memberikan harapan. Pada Kamis, Departemen Ketenagakerjaan AS mengumumkan bahwa pengangguran yang mengajukan program bantuan tunakarya turun di bawah 500.000 pada pekan lalu.

Selain itu, investor juga membaca potensi laju ekonomi AS melalui data indeks manufaktur yang dirilis IHS Markit. Sepanjang paruh pertama Mei, indeks manufaktur AS berada di level 61,5, atau level tertinggi sejak 2009 silam. Hal ini mengisyaratkan adanya ekspansi sektor usaha di negara Paman Sam tersebut.

Alhasil, ragam sentimen tersebut menghalangi emas untuk bergerak menuju zona US$1.900 per ons.

Baca juga: 4 Cara Tepat Menyiapkan Biaya Pendidikan Anak

Analisis Harga Emas Pekan Ini

Setelah mengalami pekan yang cukup “menyegarkan”, bagaimana analisis harga emas untuk pekan ini?

Beberapa analis mengatakan bahwa harga sang logam mulia masih akan menanjak. Meski memang, kenaikannya mungkin tidak akan signifikan.

Di tengah kekhawatiran soal inflasi dan risalah rapat The Fed, pelaku pasar nampaknya masih percaya bahwa otoritas moneter AS itu tidak akan segera mengerek suku bunga acuannya dalam waktu dekat. Investor diperkirakan masih memegang teguh ucapan The Fed bahwa kenaikan suku bunga acuan bisa terjadi kalau inflasi sudah menyentuh 2%.

Kepala Riset Pasar Inggris Sophie Griffiths menjelaskan kenaikan suku bunga AS masih jauh untuk dilakukan. Kebijakan itu diatur untuk bisa bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama dan hal tersebut akan jadi keuntungan tersendiri bagi pergerakan harga emas.

Dan jika reli terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga emas akan mampu mencapai rekor tertingginya di kisaran US$2.100 per ons di bulan Agustus.

Tetapi, investor tetap harus waspada tentang segala tindak-tanduk The Fed dalam pekan ini. Sebab, mungkin pejabat The Fed akan silih berganti menelurkan pendapat tentang berbagai data ekonomi yang dirilis sejak akhir April.

Selain itu, investor juga diharapkan bersiaga menanti pengukuran inflasi terbaru The Fed yang dijadwalkan akan dirilis Jumat (28/5) mendatang.

Baca juga: Cara Investasi Bitcoin Agar Kamu Mendulang Profit

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img