Currently set to Index
Currently set to Follow

Harga Emas Masih Menunggu Arah Kebijakan The Fed

Pekan lalu menjadi masa-masa bulan madu bagi harga emas. Seperti yang dijelaskan pada analisis pekan sebelumnya, ternyata banyak embusan angin segar yang mengiringi langkah logam mulia pada minggu lalu. Meski memang, ujung-ujungnya kenaikan harga emas pada pekan lalu tak terbilang signifikan.

Harga emas mengawali pekan lalu di level US$1.777 per ons dan mengakhiri pekan hampir menyentuh US$1.790 per ons. Bahkan, logam mulia nyaris menyentuh US$1.800 per ons pada Kamis (2/4).

Penguatan ini, secara langsung, disebabkan oleh keoknya dua musuh bebuyutan emas: Imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dolar AS.

Pada pekan lalu, tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun berada di kisaran 1,53% hingga 1,55%. Atau, lebih landai dibanding dua pekan lalu yang berada di kisaran 1,6%.

Investor tentu akan meninggalkan obligasi jika yield-nya terus menurun. Alhasil, mereka akan mencari aset lain yang setidaknya bisa melindungi nilai kekayaannya. Salah satunya adalah emas.

Harga emas kemudian terus berada di atas awan setelah nilai dolar AS seolah-olah tak berdaya pekan kemarin. Sebagai buktinya, indeks dolar AS mengawali pekan di 91,69 dan berakhir di 91,22 di akhir pekan. Bahkan, pada Senin (26/4) pagi, nilai indeks dolar AS sudah menyentuh 90,74.

Nilai dolar AS yang melemah tentu akan bikin harga emas relatif lebih murah. Terutama, bagi investor yang sehari-harinya jarang bertransaksi menggunakan denominasi uang tersebut. Alhasil permintaan emas bertambah, yang kemudian ujung-ujungnya akan mengerek harganya.

Harga Emas Masih Menunggu Arah Kebijakan The Fed, Pluang

Analisis Harga Emas: Kekuatan Utama Di Balik Tokcernya Logam Mulia Pekan Lalu

Sebenarnya, pelemahan dolar AS dan yield obligasi AS hanyalah implikasi dari perkembangan situasi ekonomi dunia terkini.

Pertama, investor sejatinya mulai waswas bahwa ekonomi dunia akan mengalami hiatus kembali setelah banyak negara kembali melaporkan gelombang kasus baru COVID-19, seperti India, Filipina, bahkan Amerika Serikat.

Pada Jumat (16/4), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyebut jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19 dalam dua bulan terakhir malah bertambah dua kali lipat. Hal ini terjadi meski beberapa negara telah menjalankan program vaksinasi massal. Akibatnya, investor langsung memburu emas untuk mengantisipasi kemungkinan “bekunya” aktivitas ekonomi ke depan.

Kedua, investor mencemaskan kenaikan inflasi yang cukup tinggi di Amerika Serikat. Selama April, investor AS disuguhi oleh beberapa data ekonomi yang mumpuni seperti pertumbuhan indeks harga konsumen dan penjualan ritel yang bertumbuh siginfikan. Bahkan, pada Jumat (23/4) lalu, Biro Sensus dan Departemen Perumahan dan Pengembangan Kota AS melaporkan bahwa angka penjualan rumah AS pada Maret mencapai 1,02 juta unit, atau bertumbuh 20,7% dibanding 846.000 di Februari.

Tentu saja, di saat ekspektasi inflasi kian meningkat, maka investor akan langsung melindungi kekayaannya dengan menggenggam emas. Tak heran, jika kemudian harga emas langsung melesat.

Ketiga, permintaan emas memang tengah bersinar, utamanya yang berasal dari dua negara pengimpor emas terbesar dunia yakni China dan india.

Permintaan emas di China diramal meningkat setelah negara tirai bambu tersebut telah memberikan izin bagi bank domestik dan internasional untuk mengimpor emas dalam jumlah besar. Sementara itu, permintaan emas di India mulai merangkak naik seiring banyaknya individu yang memborong emas saat harganya rendah dan maraknya musim pernikahan di negara tersebut.

Data terbaru dari otoritas Swiss menunjukkan, impor emas India dari Swiss mencapai 82,6 ton sepanjang Maret. Hal ini adalah pembelian bulan Maret tertinggi selama delapan tahun terakhir.

Baca juga: Analisis: Harga Emas Terancam Ancang-Ancang The Fed dan Optimisme Ekonomi

Analisis Harga Emas: Bagaimana dengan Harga Emas Pekan Ini?

Harga emas pada pekan ini sepertinya akan sangat bergantung pada langkah yang akan diambil oleh bank sentral AS The Fed. Seperti diketahui, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat akan menggelar komite pasar terbuka federal (FOMC) yang akan menentukan dua kebijakan moneter utama: Suku bunga acuan dan kebijakan operasi pasar terbuka.

Memang, inflasi diperkirakan akan membara di jangka menengah. Namun seharusnya, The Fed tidak akan mengubah suku bunga Fed Rate yakni di kisaran 0% hingga 0,25%. Sebab, otoritas moneter AS itu sudah berjanji untuk menahan suku bunga acuan hingga 2023 atau hingga kondisi ekonomi negara adidaya itu benar-benar pulih.

Lantas, apa yang terjadi jika The Fed mengerek suku bunga saat ini?

Jika The Fed menaikkan suku bunga acuannya, maka imbal hasil obligasi pemerintah AS juga akan terdongkrak. Jika itu terjadi, maka kilau harga emas pun akan pudar kembali mengingat investor pasti akan langsung berburu obligasi.

Selain itu, investor tentu juga ingin mendengar apakah The Fed akan mempertahankan pembelian obligasi pemerintah sebesar US$120 miliar setiap bulannya. Jika kebijakan ini dipertahankan, maka jumlah dolar AS beredar tentu meningkat. Hasilnya, nilai dolar AS bisa kembali turun, dan mengangkat harga emas.

Maka dari itu, tak heran jika investor mengambil sikap wait and see. Karena jika pelonggaran moneter terus dipertahankan, maka harga emas bisa mengambil momentum untuk terbang lebih tinggi lagi, begitu pula sebaliknya.

Namun, analis pasar Thinkmarkets Fawad Razaqzada menjelaskan, terdapat pandangan bahwa The Fed malah akan mengurangi langkah stimulus daruratnya (tapering) dalam beberapa bulan ke depan. Atau, mungkin melakukan

Hal itu membuat investor dan juga pelaku pasar ragu untuk bisa menilai keadaan pasar yang sebenarnya. Sehingga, langkah yang paling banyak dilakukan adalah menunggu dan melihat apa yang akan dikatakan The Fed.

Meski begitu, Fitch Solutions dalam sebuah catatan menuliskan bahwa harga emas akan tetap bertahan di jalur positif seiring dengan meningkatnya angka inflasi pada periode April – Mei tahun ini. Bahkan, angkanya diramalkan akan menjadi yang terbesar dalam sejarah inflasi AS.

Hal itu bisa terjadi lantaran efek dari kebijakan paket stimulus senilai US$1,9 triliun yang sudah mulai dirasakan oleh masyarakat luas. Ujungnya, harga emas akan menemukan resistensi yang kuat pada level US$1.850 per ons.

“Harga emas akan berjuang untuk menembus di atas level ini (US$1.850/ons) lantaran tekanan inflasi hanya bersifat sementara,” jelasnya.

Baca juga: Harga Emas Menguat di Bawah Bayang Antisipasi The Fed dan Obligasi AS

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img