Currently set to Index
Currently set to Follow

Harga Emas Pekan Ini Dihantui Data Ekonomi dan Obligasi AS

Pekan lalu kembali menjadi masa-masa yang menggemaskan bagi logam mulia. Menurut analisis harga emas sebelumnya, pekan lalu sejatinya bisa menjadi momen yang baik bagi emas. Namun, kilaunya kemudian redup selama sepekan karena beberapa faktor. Alhasil, harga emas yang dibuka di kisaran US$1.780 di awal pekan langsung luntur ke US$1.767 di hari Jumat.

Awal pekan lalu, harga emas seharusnya bisa terbang setelah bank sentral AS The Fed mengumumkan untuk terus melonggarkan kebijakan moneternya demi memulihkan ekonomi negara adidaya tersebut. Adapun kebijakan tersebut mencakup mempertahankan suku bunga acuan hingga terus melanjutkan kebijakan operasi pasar terbuka.

Selain itu, The Fed berjanji akan menjalankan kewajiban itu meski terdapat sinyal-sinyal inflasi yang kuat di depan mata. Ketua The Fed Jerome Powell bahkan mengatakan bahwa inflasi yang akan datang adalah peristiwa makroekonomi yang alami. Alias, bukan sumber masalah utama yang mendorong The Fed untuk mengerek tingkat suku bunga acuannya.

Dengan demikian, maka investor bisa berharap bahwa tingkat kupon obligasi pemerintah, yang selama ini menjadi musuh bebuyutan emas, juga tidak akan beranjak. Sehingga, kilau harga emas diperkirakan tidak akan memiliki ancaman dalam waktu dekat.

Akibatnya, investor semakin berbondong-bondong membeli emas. Bahkan, harga emas sempat mendekati titik US$1.790 setelah pengumuman The Fed tersebut, Rabu (28/4).

Hanya saja, harga emas harus kembali menghadapi badai sehari setelahnya. Yakni, dalam bentuk kenaikan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun. Setelah sebelumnya yield obligasi pemerintah AS adem ayem di kisaran 1,5%, nilainya tiba-tiba menembus lebih dari 1,6% di pekan lalu.

Penyebab utamanya adalah data pertumbuhan ekonomi AS yang sangat kencang. Pada Kamis (29/4), Departemen Perdagangan AS mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi negara Paman Sam ini tumbuh 6,4% pada triwulan I 2021. Angka tersebut terbilang menyamai hasil polling ekonom Dow Jones yakni 6,5%.

Kenaikan imbal hasil obligasi tersebut tentu akan menjadi momok bagi permintaan emas. Sebab, investor pasti akan selalu memburu aset-aset yang pertumbuhan cuannya sedang meningkat. Alhasil, mereka berpaling dari emas, dan harga logam mulia pun akan jatuh.

Baca juga: Kenapa Kamu Mesti Beli Emas Sekarang Meski Harganya Lagi Gak Karuan?

Harga Emas Pekan Ini Dihantui Data Ekonomi dan Obligasi AS, Pluang

Analisis Harga Emas: Ancaman Masih Akan di Depan Mata

Setelah periode yang bikin geregetan di pekan lalu, lantas bagaimana pergerakan harga emas untuk pekan ini?

Investor nampaknya harus berharap bahwa The Fed tidak menunjukkan sinyal-sinyal untuk mengerek suku bunga acuan. Sebab, jika otoritas moneter tersebut melakukan hal tersebut, maka semakin banyak investor akan memalingkan pandangannya dari logam mulia.

Salah satu contohnya dituangkan oleh tim analis UBS di dalam riset terbarunya. Laporan tersebut menunjukkan bahwa harga emas bisa jatuh ke US$1.600 per ons jika memang suku bunga riil meningkat. Sebab, tim analis tersebut meyakini investor akan berbondong-bondong memborong reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif.

Kemudian, investor juga perlu mewaspadai kemungkinan permintaan emas yang melandai dari India, yang merupakan salah satu negara importir emas terbesar di dunia.

Gelombang “tsunami” COVID-19 yang sedang terjadi di negara itu bisa saja menyebabkan permintaan emas menurun. Meksi demikian, penjualan emas di China, yang merupakan salah satu dari negara importir emas terbesar lainnya, malah melonjak 93,9% sepanjang Januari hingga Maret 2021.

Tak hanya itu, investor nampaknya juga harus mewaspadai dua data utama yang akan dirilis pada pekan ini. Yakni, data ketenagakerjaan AS bulan April yang rencananya dirilis Jumat (7/5) dan data indeks manufaktur dan jasa yang sedianya juga akan diterbitkan pekan ini.

Jika kedua data itu menunjukkan hasil positif, maka ada kemungkinan selera investor akan beralih ke instrumen investasi yang berisiko. Selain itu, mungkin saja hasil dari data-data tersebut juga akan mempengaruhi pergerakan yield dari obligasi pemerintah bertenor 10 tahun. Seluruh faktor di atas kemungkinan juga akan mempengaruhi analisis harga emas di pekan berikutnya.

Baca juga: Lagi Naik Daun Saat Pandemi, Ini 10 Manfaat Investasi Emas buat Kamu!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

spot_img

Artikel Terbaru

Customer Service Officer

0

Strategy & Growth Lead

0

Senior Social Media

0

Product UX Copywriter

0

Partnerships Manager

0
spot_img